LEBIH DEKAT DENGAN TUBERKULOSIS, MEREKA ADA DI SEKITAR KITA

Banner Kampanye Stop TB
Mari Kampanyekan "Stop TB" (gambar)
Tuberkulosis atau dahulu populer dengan sebutan TBC merupakan penyakit yang sangat menular, hampir semua orang mengetahuinya, bahkan imunisasi BCG untuk mencegah penyakit Tuberkulosis (TB) adalah imunisasi pertama yang harus didapatkan bayi sebelum pulang dari rumah bersalin dan berinteraksi dengan orang lain. Terus terang, meskipun saya paham bahwa penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular, namun untuk tahu bagaimana cara penularannya, gejala awalnya, hingga pengobatan Tuberkulosis masih belum banyak yang saya ketahui. Apa memang demikian mengerikannya penyakit TB? Tapi jika merujuk pada peraturan bahwa bayi yang baru lahir wajib di imunisasi BCG bisa dibayangkan betapa TB telah menjadi momok yang menakutkan bagi kelangsungan kesehatan manusia terutama anak-anak yang sistem kekebalannya belum sempurna.

Sedemikian gencarnya usaha pemerintah untuk memberantas Tuberkulosis menunjukkan bahwa penyakit ini memiliki angka penularan dan resiko kematian yang sangat tinggi. Bahkan dari beberapa hasil survei tentang kesehatan menunjukkan bahwa penyakit Tuberkulosis adalah penyebab kematian nomor satu dari golongan penyakit infeksi untuk semua usia. Karena itu sudah saatnya kita bersatu padu berusaha memerangi penyakit yang sangat mematikan ini. Sebagai langkah awal untuk melakukan gerakan "Stop TB" adalah memahami lebih jauh dan lebih dekat bagaimana Tuberkulosis itu sebenarnya, dengan mengenal lebih dekat Tuberkulosis maka kita akan tahu orang-orang sekitar lingkungan kita bahkan orang terdekat kita yang kemungkinan terdiagnosis awal terkena Tuberkulosis (yang selanjutnya kita singkat TB atau TBC).

TEMUKAN PASIEN TUBERKULOSIS (TB)

"Eh...si pulan itu batuk-batuk terus, pasti kena TBC", apa iya? Belum tentu setiap orang menderita batuk menunjukkan gejala TBC, untuk itu kita harus tahu meskipun sederhana tentang apa dan bagaimana TB itu berkembang menjadi satu penyakit.

TBC atau TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium Tuberculosis). TB lebih sering menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang bagian tubuh lain seperti selaput otak, kulit, tulang, kelenjar getah bening, dan bagian tubuh vital lainnya. Beberapa catatan penting tentang kuman TBC ini adalah :
  1. Kuman TBC sebagian besar (80%) menyerang paru-paru.
  2. Kuman TBC termasuk basil gram positif berbentu batang, dinding selnya mengandung komplek lipida-gikolipida serta wax yang sulit di tembus zat kimia.
  3. Kuman ini mempunyai sifat khusus yakni tahan terhadap asam pada pewarnaan, hal ini dipakai untuk identifikasi dahak secara mikroskopis, sehingga disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA).
  4. Kuman TBC cepat mati dengan matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup pada tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman dapat dormant atau tertidur selama beberapa tahun, dan pada sifat dormant ini apabila suatu saat terdapat keadaan dimana memungkinkan untuk berkembang, kuman TBC ini dapat bangkit kembali.
Cara penyebaran penyakit TBC
Gambar
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan Bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang dilepaskan saat penderita TBC batuk, bersin, atau berbicara, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Menjadi satu catatan penting bahwa penderita TBC Paru dengan BTA positif dapat menularkan pada 10 orang di sekitarnya (BTA Positif artinya dalam parunya terdapat bakteri atau kuman TB).

Gejala penyakit TBC dapat di bagi menjadi gejala umum dan khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terinfeksi kuman TBC.

Gejala Sistemik atau Umum
  • Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti Influenza dan bersifat hilang timbul.
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan.
  • Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
  • Perasaan tidak enak atau merasa lemah.
Gejala Khusus
  • Tergantung dari organ mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian Bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara napas melemah disertai sesak.
  • Kalau ada cairan di rongga Pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
  • Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit diatasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
  • Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai Meningitis (radang selaput otak) dengan gejalanya demam tinggi, adanya penurunan kesadaran, dan kejang-kejang.
Khusus pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau si anak tersebut diketahui kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan pasien TBC dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3-5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan darah.

Deretan keterangan di atas menunjukkan kepada kita betapa penyakit TBC ini sangat mudah penyebaran dan penularannya, terutama pada anak-anak. Anak sangat rentan terinfeksi kuman TBC karena sistem imunitasnya belum berkembang secara sempurna, di tambah lagi anak-anak memiliki tingkat kewaspadaan yang sangat rendah dengan bahaya di sekitarnya, termasuk bahaya penularan penyakit.

Karena itu demi kesehatan anak-anak kita bahkan kesehatan kita sendiri, sudah saatnya kita mengkampanyekan kesadaran deteksi dini untuk diri sendiri apabila kita merasakan paling tidak gejala yang secara umum timbul karena TB. Atau paling tidak ikut mendeteksi lingkungan sekitar kita bila ada yang mengeluh sakit sesuai ciri-ciri di atas. Apabila di curigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah :
  1. Anamnesa (pemeriksaan riwayat medis) baik terhadap pasien maupun keluarganya.
  2. Pemeriksaan fisik.
  3. Pemeriksaan Laboratorium (dahak, darah, cairan otak).
  4. Pemeriksaan patologi anatomi.
  5. Rontgen dada (thorax photo).
  6. Uji Tuberkulin.
Sebuah sumber menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-4, di bawah India, China, dan Afrika Selatan. Menurut perkiraan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementrian Kesehatan telah memperkirakan ada sekitar 430.000 kasus TBC yang baru. Dan setiap harinya terjadi sekitar 169 kematian yang terjadi karena TBC. Meskipun bukan merupakan angka yang pasti, namun kenyataan ini menunjukkan betapa penyakit ini amat sangat membahayakan. Bukan hanya membahayakan kesehatan pasien TBC itu sendiri, melainkan nyawa orang lain termasuk anak-anak karena sifatnya yang sangat mematikan dan sangat mudah menyebar.

Untuk mendeteksi keberadaan penderita TB tentu tidaklah mudah, bukan karena pemahaman tentang gejala dan cara penularannya yang kurang, namun kesadaran penderita untuk mengakui bahwa dirinya menderita penyakit ini sangat rendah sehingga keberadaan mereka tidak terdeteksi dengan cepat akibatnya tindakan preventif yang dilakukan terasa percuma. Selain itu, masyarakat juga harus merubah mindset dan menghancurkan stigma yang selama ini menghantui para penderita TBC, bahwa mereka akan dikucilkan atau menderita penyakit TBC adalah sebuah kutukan. Jika tidak, maka akan sulit membangkitkan kesadaran untuk melakukan pengobatan lebih dini jika terdeteksi mengalami gejala penyakit TBC. Masyarakat berperan besar untuk ikut menentukan keberhasilan program "Stop TB", karena keberadaan pasien yang terindikasi mengidap penyakit TBC ada di antara masyarakat bahkan keluarga terdekat tanpa kita sadari, karena itu temukan mereka dengan cara :
  1. Memberikan pendidikan kesehatan pada masyarakat berupa penyuluhan tentang bahaya penyakit TBC, berikut penyebab, cara penularan, gejala, dan tindakan medis yang harus segera diambil bila terlihat suspect penderita TBC seperti yang telah dipaparkan sebelumnya atau  masyarakat segerabertindak cepat dengan melaporkan pada petugas kesehatan terdekat.
  2. Merubah mindset masyarakat tentang penyakit TBC untuk menghancurkan stigma yang selama ini melekat pada penderita TBC. Dengan merubah cara berpikir, diharapkan penderita TBC akan lebih terbuka dan mau menerima pertolongan. 
  3. Masyarakat juga harus dilibatkan sebagai pendamping ketika penderita TBC dalam masa pengobatan yang panjang, karena pengobatan yang tidak tuntas selain merugikan si penderita juga orang-orang di sekelilingnya dengan kemungkinan kembali menularkan dan tertular.
Memberantas TB memang bukanlah hal yang mudah karena berkaitan dengan pola hidup, pemahaman tentang kesehatan , serta pentingnya menjaga kebersihan. Namun upaya untuk menyadarkan masyarakat dengan mengikutsertakan masyarakat itu sendiri dalam kegiatan "edukasi dini deteksi TB"  memberikan akses lebih mudah menemukan pasien TB.

Tulisan ini diikutsertakan dalam "Blog Competition, Temukan dan Sembuhkan Pasien TB" dalam kampanye Indonesia Bebas TB bersama www.tbindonesia.or.id.

Sumber referensi tulisan :
  1. http://www.tbdayindonesia.org
  2. http://medicastore.com/tbc/penyakit_tbc.htm
Mutia Erlisa Karamoy
Mutia Erlisa Karamoy Mom of 3 | Lifestyle Blogger | Web Content Writer | Digital Technology Enthusiast | Another Blog seputarbunda.com | Contact: elisakaramoy30@gmail.com

Posting Komentar untuk "LEBIH DEKAT DENGAN TUBERKULOSIS, MEREKA ADA DI SEKITAR KITA"