Mata SePeLe di Hari Wisuda Si Sulung, Momen Haru yang Hampir Terganggu
Saya hampir memenuhi seluruh memori ponsel hari itu. Sejak berangkat dari rumah, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk mengabadikan setiap momen wisuda putra sulung saya. Pada hari itu, saya memastikan baterai ponsel terisi penuh, membawa power bank, bahkan menghapus beberapa file lama agar ruang penyimpanan cukup untuk menampung banyak foto serta video. Pokoknya, saya tidak ingin kehilangan satu momen pun di hari yang telah saya dan suami tunggu selama bertahun-tahun.
Mungkin bagi sebagian orang, acara wisuda hanyalah sebuah seremoni akademik. Namun bagi kami, terutama saya sebagai seorang ibu, hari itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang sarat dengan doa, harapan, air mata, dan pengorbanan. Saya masih ingat ketika pertama kali mengantar Beril berangkat kuliah ke Lampung. Di balik senyumnya yang penuh semangat, saya menyembunyikan rasa cemas karena untuk pertama kalinya kami harus tinggal berjauhan.
Sejak saat itu, komunikasi kami lebih banyak terjalin melalui panggilan telepon, video call dan pesan singkat. Setiap kali ia bercerita tentang tugas kuliah, ujian, atau rasa lelah yang datang di tengah perjuangan menyelesaikan skripsi, saya hanya bisa menguatkannya dari kejauhan sambil terus mendoakan agar semua proses itu berakhir dengan baik.
Perjalanan menuju Lampung sudah kami rencanakan jauh-jauh hari, setelah mendapatkan kepastian tanggal wisuda si sulung. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari memesan penginapan, memastikan jadwal keberangkatan, cuti suami, izin sekolah adiknya, hingga menyiapkan pakaian yang akan dikenakan saat menghadiri prosesi wisuda. Semua detail persiapan saya lakukan sepenuh hati, karena saya dan suami ingin memberikan dukungan penuh untuk Beril di hari yang akan selalu ia kenang seumur hidup.
Pagi itu kami berangkat lebih awal. Jalanan masih lengang ketika kendaraan mulai melaju meninggalkan rumah. Di sepanjang perjalanan, saya lebih banyak terdiam sambil memandangi pemandangan di luar jendela. Sesekali saya membuka galeri ponsel, melihat kembali foto-foto lama ketika anak masih mengenakan seragam sekolah. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Anak kecil yang dulu selalu menggenggam tangan saya kini telah tumbuh menjadi pribadi yang siap melangkah ke dunia yang lebih luas. Tidak terasa, kami sudah sampai di Pelabuhan Merak, dan siap menyeberang ke Pulau Sumatera menuju Pelabuhan Bakauheni di Lampung.
![]() |
| Menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung (Foto: Koleksi Pribadi) |
Hari menjelang sore saat kami tiba di Lampung, tepatnya di Kota Bandar Lampung. Setelah check-in di hotel dekat kampus Beril dan beristirahat sejenak. Malamnya kami jalan-jalan sebentar melihat Kota Bandar Lampung sambil berwisata kuliner. Sayangnya Beril tidak bisa ikut karena ada persiapan wisuda yang tidak bisa ditinggalkan. Ya sudah...setelah puas, kami memutuskan pulang lebih cepat ke penginapan karena persiapan wisuda akan dimulai dini hari. Untuk momen bahagia ini, agar tampil cantik dan rapi, saya sudah memesan jasa make up jauh-jauh hari.
Ketika Momen Haru Wisuda Si Sulung Tiba
Akhirnya hari yang ditunggu tiba! Sesampainya di kampus, suasana yang saya lihat membuat hati semakin hangat. Halaman kampus dipenuhi keluarga yang datang dari berbagai daerah. Ada yang membawa buket bunga berukuran besar, ada yang memeluk anaknya erat sambil menahan haru, dan ada pula yang sibuk mencari sudut terbaik untuk berfoto. Sesekali terdengar suara tawa, disusul ucapan selamat yang saling bersahutan. Di tengah keramaian itu saya menyadari satu hal, setiap keluarga memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Hari itu, kami dipertemukan oleh rasa bangga yang sama, sebagai orang tua calon wisudawan di Kampus Institut Teknologi Sumatera (ITERA).
Tidak perlu mencari-cari, saya melihat putra sulung saya berjalan menghampiri dengan toga hitam dan senyum yang begitu lebar. Ah...ada rasa haru yang sulit dijelaskan ketika melihatnya berdiri di hadapan saya. Dalam sekejap, bayangan tentang anak kecil yang dulu selalu meminta saya menemani belajar dan selalu meminta ikut kemana pun saya pergi bercampur dengan sosok laki-laki dewasa yang kini siap melangkah ke dunia baru. Saya memeluknya erat, seolah ingin mengucapkan selamat atas semua kerja keras yang berhasil ia lewati tanpa harus mengucapkan terlalu banyak kata.
![]() |
| Prosesi Wisuda Institut Teknologi Sumatera (Foto: Koleksi Pribadi) |
Prosesi wisuda berlangsung dengan khidmat. Ketika namanya dipanggil, saya spontan mengangkat ponsel untuk merekam setiap langkahnya menuju panggung. Mata saya bergantian memandang layar dan panggung, berusaha memastikan tidak ada satu momen pun yang terlewat. Tepuk tangan bergema ketika si sulung dan wisudawan lain menerima map kelulusan. Saya ikut bertepuk tangan, tetapi tanpa sadar air mata telah lebih dulu mengalir. Air mata bahagia yang lahir dari rasa syukur melihat anak pertama kami berhasil menuntaskan salah satu impian besarnya.
Setelah prosesi wisuda selesai, euforia kebahagiaan seolah memenuhi seluruh sudut kampus. Kami berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk berfoto. Di depan gedung utama, di taman kampus, di bawah pepohonan yang rindang, serta berbagai spot lain yang menarik. Tidak terasa hari menjelang sore, namun para keluarga wisudawan, termasuk kami masih belum beranjak karena selain prosesi wisuda ada acara menarik lain yang sayang jika dilewatkan, yaitu pawai atau arak-arakan masing-masing jurusan untuk melepas kakak tingkatnya, khas jurusan teknik. Saya berkali-kali mengambil foto serta video untuk merekam momen seru itu dari berbagai sudut yang berbeda.
Tidak hanya kamera yang bekerja tanpa henti. Jari-jari saya juga terus bergerak membalas pesan dari keluarga dan sahabat yang menunggu kabar dari rumah. "Bagaimana suasananya?" "Sudah selesai wisudanya?" "Kirim fotonya, ya." Satu demi satu pesan saya balas sambil mengirimkan beberapa foto terbaik. Rasanya menyenangkan bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang ikut menyaksikan perjalanan putra sulung saya, meski dari kejauhan.
![]() |
| Hadir di Wisuda ITERA (Foto: Koleksi Pribadi) |
Di tengah semua kesibukan itu, saya sama sekali tidak menyadari bahwa mata saya hampir tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat. Pandangan saya terus berpindah dari layar ponsel ke berbagai spot yang menarik, lalu kembali lagi ke layar. Saya begitu fokus memastikan setiap kenangan berhasil diabadikan, hingga lupa bahwa ada "kamera" lain yang bekerja jauh lebih keras daripada kamera ponsel yang saya genggam.
Ironisnya, saya rela melakukan banyak hal agar baterai ponsel tidak habis dan ruang penyimpanannya tidak penuh. Namun, saya lupa mempersiapkan mata saya sendiri untuk menikmati hari yang begitu berharga.
Padahal, beberapa saat kemudian, mata saya mulai mengirimkan sinyal yang tidak saya pahami. Sinyal kecil yang awalnya saya anggap hanya rasa lelah biasa, tetapi kemudian hampir mengganggu salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup saya sebagai seorang ibu.
Mata SePele yang Hampir Mengganggu Momen Haru
Setelah arak-arakan pelepasan wisudawan selesai, Beril mengajak kami berkeliling kampus. Ia ingin menunjukkan tempat-tempat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya sebagai mahasiswa. Kami berjalan melewati gedung tempatnya mengikuti perkuliahan, taman yang sering menjadi lokasi berdiskusi bersama teman-temannya, hingga area terbuka yang menurutnya menjadi tempat favorit untuk melepas penat setelah mengerjakan tugas. Mendengarkan setiap ceritanya membuat saya merasa seolah sedang menyusun potongan-potongan kehidupan yang selama ini hanya saya dengar lewat telepon.
"Di sini biasanya kami belajar sampai sore, Ma."
Kalimat sederhana itu membuat saya berhenti sejenak. Saya memandang bangunan di hadapan kami sambil membayangkan bagaimana ia menghabiskan hari-harinya selama merantau. Sebagai orang tua, ada banyak perjuangan anak yang tidak pernah benar-benar kita saksikan. Kita hanya melihat hasil akhirnya, padahal di balik toga yang dikenakan hari itu tersimpan begitu banyak cerita tentang kerja keras, rasa lelah, dan ketekunan yang tidak selalu terlihat.
![]() |
| Kampus ITERA, Lampung (Foto: Koleksi Pribadi) |
Mungkin karena itulah saya jadi begitu bersemangat mengabadikan setiap momen. Saya ingin suatu hari nanti, ketika kami membuka kembali album foto ini, kami bisa mengingat setiap cerita yang menyertai setiap gambar. Tanpa saya sadari, sejak memulai perjalanan menuju Lampung, mata saya hampir tidak pernah benar-benar beristirahat. Bahkan, agar tepat waktu di hari wisuda si sulung, saya hanya memejamkan mata selama kurang lebih dua jam agar bisa bangun dini hari.
Tidak hanya itu, setiap beberapa menit saya membuka layar ponsel untuk memeriksa hasil foto. Jika ada gambar yang terasa kurang pas, saya mengambilnya kembali dari sudut yang berbeda. Saya juga terus membalas pesan WhatsApp dari keluarga yang ingin ikut merasakan suasana wisuda. Foto-foto mulai berpindah dari galeri ponsel saya ke layar ponsel saudara dan sahabat yang tidak dapat hadir. Hari itu, saya merasa bahagia bisa membagikan kebahagiaan kami kepada banyak orang.
Di tengah aktivitas tersebut, cuaca Bandar Lampung terasa cukup terik. Kami beberapa kali berpindah dari halaman kampus yang panas ke dalam gedung yang berpendingin udara, lalu kembali keluar untuk melanjutkan sesi foto. Pergantian suhu itu berlangsung tanpa saya sadari. Pikiran saya hanya tertuju pada satu hal: menikmati waktu bersama si sulung semaksimal mungkin di kampus yang sebentar lagi akan ditinggalkan, sebelum kami kembali pulang.
Beberapa saat kemudian, saya mulai berkedip lebih sering daripada biasanya.
Awalnya saya menganggapnya sebagai hal yang wajar. Saya mengusap pelan sudut mata dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Namun, rasa tidak nyaman itu perlahan muncul kembali. Mata mulai terasa sepet, lalu disusul sensasi perih yang datang sesekali. Ketika harus melihat layar ponsel untuk memilih foto terbaik, pandangan terasa lebih cepat lelah. Saya beberapa kali memejamkan mata beberapa detik sebelum kembali mengangkat kamera.
Saya masih berusaha mengabaikannya.
Dalam hati saya berkata, "Ah...mungkin karena perjalanan jauh."
Bukankah kami sudah menempuh perjalanan berjam-jam menuju Lampung? Bukankah sejak pagi saya hampir tidak berhenti berjalan dan berdiri mengikuti seluruh rangkaian acara? Pikiran-pikiran itulah yang membuat saya memilih untuk tidak terlalu memedulikan apa yang sedang dirasakan mata saya.
Padahal, tubuh sering kali memberikan sinyal melalui gejala yang tampak sederhana.
![]() |
| Di Studio Foto Lampung (Foto: Koleksi Pribadi) |
Puncaknya adalah ketika kami akan mengambil foto keluarga di salah satu studio foto di Bandar Lampung, dan waktu saat itu sudah menunjukkan jam tujuh malam. Sambil menunggu antrian, karena momen wisuda biasanya ramai, saya sempatkan diri untuk merapikan make up. Mata terasa semakin kurang nyaman, terasa gatal, perih, dan berat. Awalnya hanya sensasi gatal yang membuat saya ingin mengucek mata. Saya berusaha menahannya karena tidak ingin riasan wajah berantakan. Namun beberapa detik kemudian muncul rasa perih yang membuat saya refleks berkedip berulang kali. Pandangan terasa kurang nyaman untuk beberapa saat, bahkan air mata mulai menggenang di sudut mata. Saya sempat memejamkan mata sejenak sambil menarik napas pelan, berharap rasa itu segera mereda.
"Ibu, sudah siap?" suara fotografer membuyarkan lamunan saya.
Saya tersenyum dan mengangguk pelan. Dalam hati saya berkata, sebentar lagi, jangan sampai momen ini terlewat. Fotografer mulai mengatur posisi kami. Putra sulung saya berdiri di tengah sambil menggenggam ijazahnya, sementara kami berdiri di sampingnya dengan senyum yang tak henti mengembang.
"Semuanya lihat ke kamera, ya... satu, dua..."
Belum sempat hitungan ketiga diucapkan, saya refleks berkedip beberapa kali. Mata terasa gatal, disusul sensasi perih yang membuat saya sulit membuka mata selebar biasanya. Saya sempat menoleh ke samping dan memejamkan mata beberapa detik, berharap rasa tidak nyaman itu segera mereda.
Fotografer menghentikan sejenak sesi pemotretan, lalu menghampiri saya.
"Bu, matanya kelihatan kurang nyaman. Tidak apa-apa kita istirahat sebentar dulu. Kalau Ibu punya tetes mata, mungkin bisa diteteskan dulu supaya lebih nyaman."
Saya hanya tersenyum kecil sambil mengangguk, tapi disekeliling saya, suami dan anak-anak menatap dengan pandangan khawatir. "Tidak perlu khawatir, kan di mobil ada travel health kit, kebetulan ada obat tetes mata." Saya pun bergegas menuju parkiran mobil dan memeriksa travel health kit yang selalu saya kami bawa setiap kali bepergian jauh. Tas kecil berisi perlengkapan kesehatan tersebut masih berada di dalam mobil. Di dalam travel health kit itu memang selalu tersedia beberapa perlengkapan penting, seperti obat demam, plester, hand sanitizer, tisu basah, dan INSTO DRY EYES. Awalnya saya membawanya sebagai langkah antisipasi selama perjalanan menuju Lampung. Tak disangka, justru pada hari wisuda si sulung, perlengkapan sederhana itu benar-benar saya butuhkan.
![]() |
| Insto Dry Eyes di Travel Health Kit |
Saya kemudian menggunakan #InstoDryEyes sesuai petunjuk penggunaan. Beberapa saat kemudian, mata mulai terasa lebih nyaman. Sensasi sepet dan perih yang sejak siang mengganggu perlahan berkurang sehingga saya dapat kembali membuka mata dengan lebih leluasa.
Kami pun melanjutkan sesi foto keluarga. Kali ini saya bisa tersenyum lebih lepas tanpa terus-menerus berkedip atau memejamkan mata karena rasa tidak nyaman. Saat melihat hasil foto di layar kamera, saya merasa lega. Momen yang begitu berharga itu akhirnya dapat kami abadikan dengan sempurna untuk dijadikan kenang-kenangan. "Heran juga, padahal saat berangkat mata masih baik-baik saja, tapi kenapa tiba-tiba mengalami Mata SEpet, PErih, LElah, ya," gumam saya dalam hati saat perjalanan pulang menuju rumah kami di Tangerang.
Ketika Momen Haru Hampir Terganggu, Gejala Mata Kering Jangan Disepelein!
Momen wisuda sudah selesai, rutinitas kembali berjalan normal, kecuali si sulung yang masih menyelesaikan urusan administrasinya di kampus dan akan segera pulang. Hari itu, setelah beres-beres rumah, saya menikmati waktu istirahat sejenak sambil membuka kembali galeri ponsel. Ratusan foto dan video di hari wisuda si sulung masih memenuhi layar. Saya tersenyum melihatnya satu per satu.
Namun, di balik senyum itu, saya kembali mengingat rasa tidak nyaman yang sempat saya alami. Mata yang terasa sepet, perih, dan cepat lelah ternyata terus membekas dalam ingatan. Saya mulai bertanya pada diri sendiri, apakah semua itu benar-benar hanya karena kelelahan, atau ada penyebab lain yang selama ini saya abaikan?
Rasa penasaran tersebut akhirnya membawa saya mencari informasi dari berbagai sumber tepercaya. Dari situs edukasi Insto Eyeducation, saya mengetahui bahwa mata kering dapat terjadi ketika produksi air mata tidak mencukupi atau ketika air mata menguap terlalu cepat sehingga permukaan mata kehilangan kelembapannya. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti mata terasa sepet, perih, lelah, terasa mengganjal, hingga penglihatan yang sesekali menjadi kurang nyaman.
![]() |
| Kutipan dari Insto Eyeducation |
Saya kemudian membaca referensi lain, termasuk laporan TFOS DEWS II (Tear Film & Ocular Surface Society Dry Eye Workshop II) yang selama ini menjadi salah satu acuan internasional mengenai dry eye disease. Laporan tersebut menjelaskan bahwa mata kering merupakan kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan, penggunaan perangkat digital dalam waktu lama, hingga berkurangnya frekuensi berkedip saat seseorang terlalu fokus pada suatu aktivitas.
Saat membaca penjelasan itu, saya seperti menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang muncul sejak perjalanan pulang dari Lampung. "Ah...ternyata seperti ini rasanya mengalami Gejala Mata Kering."
Saya mengingat kembali apa yang saya lakukan sepanjang hari wisuda. Saya menempuh perjalanan berjam-jam di dalam kendaraan berpendingin udara. Saya berpindah berulang kali dari ruangan ber-AC ke cuaca panas di luar kampus. Saya hampir tidak berhenti menatap layar ponsel untuk memotret, merekam video, memilih hasil foto terbaik, dan membalas pesan keluarga. Ketika begitu fokus mengabadikan momen, saya bahkan tidak menyadari bahwa saya berkedip lebih sedikit daripada biasanya.
Potongan-potongan kejadian itu akhirnya tersusun menjadi satu jawaban yang utuh.
Ternyata, saya mengalami gejala mata kering, yaitu kondisi ketika mata terasa SEpet, PErih, LElah atau kerap disebut juga Mata SePeLe. Selama ini saya menganggap ketiga gejala tersebut hanyalah keluhan ringan yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, mata sedang berusaha memberi tahu bahwa ia membutuhkan perhatian. Pengalaman sederhana itu mengubah cara saya memandang kesehatan mata.
Saya teringat bagaimana sejak malam sebelum berangkat saya begitu teliti mempersiapkan ponsel. Saya memastikan baterai terisi penuh, membawa power bank, dan mengosongkan ruang penyimpanan agar tidak kehilangan satu pun foto. Namun, saya lupa melakukan persiapan yang sama untuk mata saya. Padahal, sehebat apa pun kamera ponsel, ia hanya mampu menyimpan gambar. Mata kitalah yang benar-benar menikmati setiap pelukan, setiap senyum, dan setiap tetes air mata haru.
![]() |
| #MataSePeLeJanganSepelein ya! |
Sejak hari itu, saya mulai mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil yang sebelumnya sering saya abaikan. Saya belajar bahwa #MataSePeLeJanganSepelein dan momen terbaik hanya bisa dinikmati dengan maksimal ketika tubuh, terutama mata, berada dalam kondisi yang nyaman.
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang kini selalu saya lakukan untuk membantu menjaga kenyamanan mata, terutama ketika harus bepergian jauh atau menggunakan ponsel dalam waktu lama.
1. Persiapkan Kesehatan Mata Sebelum Berangkat
Selain memastikan baterai ponsel penuh dan kamera siap digunakan, kini saya juga memastikan travel health kit sudah berada di dalam mobil. Isinya bukan hanya obat-obatan dasar, tetapi juga #InstoDryEyes sebagai salah satu perlengkapan yang saya siapkan jika mata mulai terasa kering saat perjalanan atau selama acara.
2. Gejala Mata Kering Jangan Disepelein
Saat mata mulai terasa sepet, gatal, atau perih, jangan memaksakan diri terus beraktivitas. Pengalaman saya membuktikan bahwa menganggap mata SePeLe sebagai rasa lelah biasa justru membuat ketidaknyamanan semakin terasa. Mengenali gejala sejak awal membantu kita mengambil langkah yang tepat.
3. Istirahatkan Mata di Sela-sela Mengabadikan Momen
Di hari wisuda, saya terlalu fokus mengambil foto dan membalas pesan hingga lupa memberi jeda pada mata. Sekarang saya membiasakan diri berhenti sejenak, mengalihkan pandangan ke objek yang jauh, dan mengurangi waktu menatap layar ponsel secara terus-menerus. Kebiasaan sederhana ini membantu mata terasa lebih rileks.
4. Berkediplah Lebih Sering dan Jangan Mengucek Mata
Ketika mata terasa gatal, refleks pertama saya adalah ingin menguceknya. Namun, saya belajar untuk menghindari kebiasaan tersebut. Saya memilih berkedip beberapa kali secara perlahan agar permukaan mata tetap lembap dan lebih nyaman.
5. Gunakan Tetes Mata Sesuai Petunjuk Penggunaan
Tidak ingin gejala mata kering yang saya alami di hari wisuda si sulung berlanjut, langsung tetesin Insto Dry Eyes. Kebetulan Insto Dry Eyes selalu saya selipkan diantara obat-obatan lain dalam travel health kit. Sejak anak-anak masih bayi, jika bepergian jauh saya tidak pernah lupa membawa travel health kit. Setelah menggunakannya sesuai petunjuk penggunaan, mata saya terasa lebih nyaman sehingga saya bisa kembali menikmati sesi foto keluarga yang dinanti tanpa terus terganggu oleh mata SEpet, PErih, LElah atau SePeLe.
6. Pastikan Tubuh Tetap Terhidrasi Selama Perjalanan
Perjalanan yang panjang, cuaca yang panas, dan berpindah-pindah dari ruangan ber-AC membuat saya lebih sadar pentingnya minum air putih yang cukup. Tubuh yang terhidrasi dengan baik membantu menjaga kenyamanan selama beraktivitas, termasuk saat menikmati acara penting bersama keluarga.
![]() |
| Infografik Tips Jaga Kenyamanan Mata |
Sampai hari ini, foto kami sekeluarga saat wisuda si sulung masih menjadi wallpaper favorit saya di ponsel. Setiap kali membuka kunci ponsel dan melihat foto itu, saya kembali teringat betapa bangganya kami menyaksikan si sulung mengenakan toga, sementara kami berdiri disampingnya.
Saat itu saya baru sadar, untungnya rasa tidak nyaman pada mata tidak sampai mengurangi kebahagiaan hari itu. Sejak pengalaman tersebut, saya tidak lagi menganggap mata yang terasa sepet, perih, atau lelah sebagai gejala yang bisa disepelekan. Menjaga mata tetap nyaman dan #BebasMataKering kini menjadi bagian dari persiapan saya setiap kali bepergian atau menghadiri momen penting bersama keluarga.
Saya percaya setiap orang memiliki momen yang hanya datang sekali dalam hidup. Bagi saya, salah satunya adalah wisuda si sulung. Dan saya bersyukur bisa melihat, merasakan, lalu menyimpannya sebagai kenangan indah tanpa terganggu oleh rasa tidak nyaman pada mata.
Referensi Artikel:
- INSTO. Eyeducation: Pahami Mata Kering dan Cara Mengatasinya. https://insto.co.id/eyeducation/pahami-mata-kering-dan-cara-mengatasinya
- Craig JP, Nichols KK, Akpek EK, et al. TFOS DEWS II Definition and Classification Report. The Ocular Surface. 2017;15(3):276–283. https://www.tfosdewsreport.org/










Posting Komentar untuk "Mata SePeLe di Hari Wisuda Si Sulung, Momen Haru yang Hampir Terganggu"
Posting Komentar