Perlahan, Atasi Fobia Dengan Cara Sederhana

Atasi Fobia Ketinggian
Mesjid ini menyediakan beragam minuman gratis lho untuk semua orang (Pic: Koleksi Pribadi)
Mungkin bagi sebagian orang berwisata ke tempat-tempat indah yang berada di ketinggian adalah hal yang sangat menyenangkan, apalagi pemandangan indah yang terhampar di setiap sudut ketinggian membuat banyak orang rela untuk mengunjungi lokasi wisata tersebut berkali-kali, namun tidak bagi seseorang yang mengalami fobia, terutama jika mengalami fobia pada ketinggian. Adakalanya orang lain melihat seseorang yang mengalami fobia seperti fobia pada ketinggian adalah sesuatu hal yang lucu, namun percayalah jika mengalaminya tidak hanya menyebabkan gangguan psikis belaka namun akhirnya merembet pada kesehatan tubuh juga, seperti yang saya alami sejak kecil hingga saat ini. 

Sesungguhnya cara paling mudah untuk mengatasi fobia yang di alami seseorang adalah menghindarkan diri dari apa yang menjadi penyebab fobia tersebut, seperti fobia pada ketinggian maka cara paling ampuh adalah menghindarkan diri dari tempat-tempat yang berpotensi berada di ketinggian. Namun berdasarkan pengalaman saya, adakalanya ada suatu waktu atau momen di mana kita tidak dapat menghindarkan diri dari apa yang menjadi penyebab fobia tersebut. Seperti yang saat ini saya alami, di mana saya sangat takut dan cemas berlebihan jika berada di tempat di mana air berlimpah dan sangat banyak serta dalam seperti laut, namun karena saat ini saya tinggal bersama suami di Pulau Jawa dan jika harus pulang ke kampung halaman harus menyeberangi Selat Sunda, mau tidak mau saya harus menegarkan diri agar bisa menuntaskan rindu di kampung halaman. Tapi hingga detik ini jika naik kapal laut, saya pantang sekali berada di area pinggiran kapal dan biasanya saya langsung masuk dalam kabin yang disediakan untuk penumpang, namun jujur saya lebih banyak merasa gelisah selama perjalanan yang biasanya memakan waktu 3 hingga 4 jam.

Soal fobia saya yang satu ini, saya sudah pernah menuliskannya secara detail di artikel ini http://www.elisakaramoy.com/2016/02/phobia-air-adakah-cara-mengatasinya.html, sila di klik yah😉.

Namun kali ini saya ingin berbagi pengalaman untuk mengatasi fobia yang juga saya alami, yaitu merasa cemas atau takut berlebihan jika berada dalam kendaraan yang di pacu dengan kecepatan tinggi dan berada dalam kendaraan jika melalui jalan yang menanjak menuju ketinggian yang tidak biasa, aneh kan😓. Mungkin karena selama ini saya bisa menghindarinya dan nyaris tidak pernah beraktivitas dalam kondisi tersebut, fobia ini tidaklah menganggu, namun seiring bertambahnya usia dan keadaan yang berubah, fobia ini saya rasanya sangat menganggu bahkan pernah di suatu waktu menganggu kesehatan tubuh saya. Jika berada dalam kendaraan yang di pacu dengan kecepatan kencang tidak jarang saya merasa sangat ketakutan dan cemas, jantung berdebar kencang, keringat dingin bercucuran, perut rasanya sangat tidak enak, kepala berkunang-kunang, dan sederet keluhan lainnya. Begitu pun jika saya berada dalam kendaraan yang berjalan menuju ketinggian, keluhan yang sama saya alami tapi dengan intensitas yang lebih tinggi hingga akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya tidak hanya fobia air namun juga fobia ketinggian.

Ternyata upaya menghindar dari sumber fobia saya tersebut tidak sepenuhnya sukses, karena akhirnya saya harus berhadapan dengan kondisi tersebut. Bermula dari keinginan untuk menghadiri pesta pernikahan keponakan suami yang diselenggarakan di Kota Krui, Kabupaten Pesisir Barat. Nama Kota Krui sendiri sebenarnya bukanlah nama yang asing bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara terutama bagi pengemar olahraga surfing. Ombak-ombak di pantai Krui terkenal memiliki ketinggian yang sangat cocok bagi pengemar surfing, salah satunya adalah Pantai Tanjung Setia. Nah...untuk menuju Kota Krui dari Kota Bandar Lampung ada dua cara, melalui jalur tengah yang sudah beberapa kali saya lewati dan jalannya terbilang tidak terlalu ekstrim namun memiliki rute yang cukup panjang karena harus melalui Lampung Tengah, Lampung Utara, baru masuk menuju Lampung Barat hingga akhirnya tiba di Kota Krui yang kini masuk dalam wilayah kabupaten Pesisir Barat. Waktu tempuh yang cukup lama membuat suami memutuskan untuk melalui jalur lintas barat Sumatera dan tidak melalui jalan yang biasa saya lewati, yaitu melalui jalur tengah. Jalur lintas barat Sumatera melewati Kota Pringsewu, Kota Agung, dan tentu saja Taman Nasional Bukit Barisan.

Perjalanan melalui jalur lintas barat Sumatera menuju Kota Krui memang relatif lebih pendek dan sangat cocok bagi seseorang yang ingin mengejar waktu seperti perjalanan kami hanya memakan waktu sekitar 7 jam dari Kota Bandar Lampung, namun karena saya belum pernah melewati jalur ini tidak urung suami merasa cemas juga, cemas dengan fobia ketinggian saya. Bagi sebagian orang perjalanan menuju Kota Krui melalui jalur lintas barat Sumatera adalah perjalanan yang sangat menyenangkan karena kita akan di suguhi pemandangan alam yang sangat indah dan eksotis, terutama saat mulai memasuki Taman Nasional Bukit Barisan. Tapi tentu saja tidak bagi saya, karena perjalanan melalui jalur ini harus melewati medan yang menanjak dan menurun, bahkan ada bagian jalan yang berada di puncak Bukit Barisan. Bayangkan, melalui kaca mobil yang terbuka agar tenaga mobil bisa maksimal saat menanjak sehingga AC mobil harus dimatikan, saya bisa mendengar jeritan siamang (kera) bersahut-sahutan.

Atasi Fobia Ketinggian
Salah satu sudut menuju Tanjakan Sedayu (Pic: Koleksi Pribadi)
Tadinya sebelum memasuki jalur tanjakan Sedayu, suami menyuruh saya minum obat anti mabuk agar saya tertidur dan tidak merasa ketakutan karena jalan akan semakin ekstrim dan menanjak, namun karena kami sudah pernah membicarakan ini sebelumnya, bahwa inilah salah satu cara untuk melakukan terapi mandiri menghadapi fobia saya, maka saya putuskan untuk tetap melek sepanjang jalan. Meskipun sudah bertekad kuat dalam hati, namun tetap saja sepanjang perjalanan saya mengalami perasaan cemas dan takut, jantung berdebar keras, keringan dingin bercucuran, dan sakit perut yang tiba-tiba melilit. Tidak ingin menganggu konsentrasi suami sepanjang perjalanan, saya memutuskan untuk duduk di bangku tengah. Sepanjang perjalanan saya terus berdoa, yah...inilah upaya dan tekad saya untuk mengurangi fobia ketinggian agar tidak menjadi momok yang menakutkan terus-menerus. Saya tidak ingin anak-anak mengalami masalah seperti saya, sehingga saya harus sembuh atau setidaknya fobia saya bisa berkurang.

Perjalanan selama beberapa jam melalui jalur-jalur yang penuh tanjakan ekstrim dan turunan tersebut bagaikan puluhan jam bagi saya meskipun akhirnya saya bisa melewatinya dengan penuh kelegaan. Setidaknya saya sudah mencoba dan sukses melewati satu tantangan. Setelah jalanan mulai stabil, dan memasuki Kota Krui barulah saya bisa bernapas dengan normal. Bisa kan? Kata suami, yah...memang bisa dan ternyata saya bisa melakukan terapi mandiri untuk diri saya persis seperti yang pernah diucapkan dokter kenalan orangtua saya bahwa untuk menghilangkan fobia dibutuhkan keinginan kuat dari penderita itu sendiri. Memang tidak mudah dan butuh support yang kuat dari orang terdekat serta terpercaya (kalau saya support terbesar adalah dari suami yang mau memahami kondisi saya sehingga saya bisa percaya kepadanya). Tapi yang pasti menurut saya, inilah salah satu solusi untuk mengatasi fobia ketinggian dengan cara yang sederhana.

Awal Juli 2018 lalu, saya juga berhasil menaklukan fobia ketinggian melalui perjalanan menuju kawah Ratu di puncak Gunung Tangkuban Parahu, Lembang, Jawa Barat bersama keluarga. Bagi saya ini adalah perjalanan kedua melalui jalanan yang ekstrim dan sangat saya takuti, karena harus menuju ke ketinggian. Cerita lengkapnya akan saya tulis dalam artikel selanjutnya yah😐.

Bandar Lampung, Juni 2018 (Baru dipublish Juli 2018).

Note: Maaf enggak ada foto-foto yang indah, karena penulisnya fobia ketinggian..hehehe.

Tidak ada komentar:

Copyright : elisakaramoy (2017). Diberdayakan oleh Blogger.