Bekerja Dari Rumah Itu Ternyata Tidak Mudah dan Penuh Tantangan

Disclaimer: tulisan kali ini bernada curhat dan sarat opini pribadi😢
Akhirnya setelah beberapa purnama jarang update di blog, inspirasi dan semangat untuk menulis hadir juga meskipun belum semaksimal dahulu. Kemana aja mbak? Sibuk apa sekarang mbak? Udah enggak nulis lagi ya mbak? dan sederet pertanyaan lainnya jika kebetulan saya menyapa teman-teman di dunia maya. Enggak cuma nulis karena beberapa bulan ini saya bahkan jarang bertegur sapa dengan teman-teman di WAG. Bukan tidak pernah online kok, tapi intensitas dan mood saya untuk aktif jauh berkurang bahkan sangat berkurang meskipun intensitas saya untuk tetap online ya masih tetap kok tapi cuma sebatas membaca status atau obrolan teman temlen saya. Saya sangat bersyukur karena banyak teman-teman blogger dan penulis yang kini semakin sukses.

Tips bekerja dari rumah
Sumber foto : Pixabay.com
Terus...kenapa? Pasti ada sebab kan?
Ya tentu saja dong, banyak kejadian di bulan-bulan terakhir tahun lalu yang membuat mood saya untuk menulis sangat turun drastis. Bahkan saya pernah memcoba menulis 400-500 kata karena kebetulan mendapat anugerah job placement di blog, sangat sulit sekali padahal dulu jumlah kata-kata itu bisa selesai hanya dalam waktu singkat. Benar seperti artikel yang pernah saya baca bahwa menjadi penulis tidak hanya butuh bakat namun yang terpenting adalah kemauan untuk belajar secara konsisten...konsisten lho! Tapi meskipun tertatih-tatih dan mulai belajar kembali, keinginan untuk tetap menulis tetap berkobar dalam hati, bahkan terkadang suka gelisah dan susah tidur karena ada begitu banyak ide serta kalimat-kalimat yang berseliweran di kepala, yang tentu saja butuh eksekusi. 

Alasan pertama dan mungkin semua alasan yang membuat mood saya untuk aktif menulis nyaris hilang tentu saja karena keluarga, terutama kondisi anak-anak. Tahun ajaran ini, putri bungsu saya masuk Sekolah Dasar...tapi yah itu dengan catatan yang sangat panjang dari sekolah karena ketika masuk SD belum lancar membaca, menulis, dan berhitung. Padahal tuntutan sekolah saat duduk di kelas 1, anak-anak sudah lancar calistung sehingga bisa mengikuti pelajaran dengan lancar. Kelas 1 SD sekarang ternyata berbeda sekali dengan saat saya mulai masuk sekolah dahulu karena pelajaran dasar belajar mengenal huruf, membaca, berhitung, dan lain-lain sudah tidak lagi diajarkan. Murid kelas 1 SD sudah siap menerima pelajaran, sama seperti murid-murid kelas lanjutan lainnya.

Akhirnya setelah berdiskusi dengan kepala sekolah terutama guru yang akan menjadi wali kelas putri saya nanti setelah masuk sekolah, kami sepakat putri saya selama beberapa bulan akan mendapatkan pelajaran tambahan di luar jam sekolah untuk mengejar ketertinggalannya (apa iya sih putri saya tertinggal😐 umurnya baru 6 tahun lho). Tadinya saya memang agak lengah karena berpikir anak bungsu saya kan perempuan, pastinya lebih mudah belajar dan umumnya anak perempuan lebih penurut. Tapi ternyata pemikiran saya itu salah, karena kakak-kakaknya yang laki-laki justru sudah sangat lancar membaca sebelum masuk SD. Dengan alasan lebih tenang karena ada kakaknya di SD yang sama, akhirnya putri saya bisa masuk juga ke SD yang mungkin saja sebagian besar alasan karena berasal dari Taman Kanak-kanak dari sekolah yang sama. Coba kalau tidak bersekolah TK di sekolah yang sama, kemungkinan besar gagal masuk😞.

Bisa dibayangkan...hari-hari pertama masuk sekolah tahun ajaran lalu bagaikan drama untuk saya karena dipenuhi tangisan dan rengekan. Sekolah SD di mana anak kedua dan ketiga saya bersekolah berbasis Sekolah Islam dengan sistem Fullday School. Sistem sekolah seperti ini umumnya memiliki waktu belajar di sekolah yang jauh lebih panjang, masuk pukul 7 dan pulang pukul 2 siang, terkadang pukul 3 siang jika ada kegiatan ekstrakurikuler. Tentu saja putri saya, oh ya saya lupa memperkenalkan namanya hehehe...nama putri saya Aisha, sudah pasti Aisha kaget karena biasanya ketika TK, jam 10 pagi sudah sampai di rumah dan sekarang harus pulang jam 3 siang karena mendapat pelajaran tambahan.

Setelah berdiskusi dengan suami, agar drama tidak berlangsung panjang akhirnya saya mengalah mengurangi aktivitas menulis saya untuk menemaninya di sekolah. Biasanya setelah anak-anak berangkat sekolah adalah saat ternyaman saya untuk memulai aktivitas menulis, kini sudah tidak lagi karena berganti dengan aktivitas menunggui anak di sekolah. Selepas Dzuhur aktivitas saya segera berangkat ke sekolah, karena sesuai perjanjian dengan Aisha setelah sholat dzuhur di sekolah saya harus menemaninya makan siang di lingkungan sekolah. Lanjut setelah itu, saya menungguinya hingga pulang sekolah. Terkadang bosan dan capek lho, duduk menunggu berjam-jam di sekolah meskipun kadang di selingi mengobrol dengan orangtua murid lain namun tetap saja sangat membosankan. Diam-diam kadang saya rindu ingin menulis atau menghadiri event, tapi ini untuk masa depan anak saya yang jauh lebih penting.

Tips bekerja dari rumah
Sumber foto: dokumen pribadi
Menjadi ibu penunggu anak sekolah jadi predikat yang sampai saat saya menulis artikel ini masih saya sandang lho karena tahun ajaran belum berakhir. Tapi tetap saja ada sisi positifnya, karena saya bisa kenal dengan hampir sebagian besar ibu-ibu teman sekelas putri saya, bahkan terkadang kami makan bareng atau pergi ke suatu tempat bersama. Dari obrolan setiap hari, ada banyak informasi yang saya dapatkan lho, sebenarnya bisa jadi bahan menulis di blog. Ternyata dunia ibu rumah tangga itu penuh warna dan lika-liku, tidak hanya urusan dengan anak-anak tapi juga dengan suami dan keluarga. Alhamdullilah...meskipun tidak di peringkat teratas, hasil ujian tengah semester bulan lalu, Aisha masuk 10 besar di kelasnya. Jadi ingat betapa tertatih-tatihnya Aisha saat mengikuti pelajaran di kelas awal semester lalu karena belum lancar membaca dan menulis. Setiap kali pelajaran dikte, selalu dibanjiri airmata dan kalimat "besok enggak mau sekolah lagi."😐

Peristiwa kedua yang sungguh sangat menyedihkan untuk saya adalah berpulangnya ibu mertua saya di bulan terakhir tahun lalu. Selama hampir 10 tahun ini kami tinggal di kawasan perumahan yang sama dengan ibu mertua saya. Bisa dibayangkan betapa intensnya interaksi kami sekeluarga terutama anak-anak yang sangat dekat dengan neneknya. Sangat mendadak dan hanya sakit sebentar sebelum akhirnya beliau berpulang, dan hal itu sangat menyedihkan untuk saya. Apalagi mengingat kebaikan beliau yang oke-oke saja meskipun kerap saya titipi anak-anak. Langkah saya dahulu untuk menghadiri event blogger atau aktivitas menulis menjadi ringan karena ada neneknya yang menjaga. Betapa saya sangat kehilangan, apalagi beliau menghembuskan napas terakhirnya di tangan saya😭 Ya Allah semoga Almarhumah Khusnul Khotimah. Hari-hari setelah kehilangan itu, mood saya untuk online berkurang drastis, yah...saya sangat berduka dan merasa kehilangan, setelah lima tahun lalu saya kehilangan ibu kandung saya. Kini sudah tidak ada lagi orangtua yang menjadi sandaran saya, karena beliau sangat baik layaknya ibu bagi saya.

Peristiwa demi peristiwa yang saya alami ternyata sangat mempengaruhi emosi serta mood menulis saya, untunglah saya sedang tidak terikat menjadi content writer sehingga saya yang dalam kondisi tidak stabil, tidak harus memaksakan diri menulis.

Bekerja Dari Rumah Itu Ternyata Tidak Mudah dan Penuh Tantangan

Bekerja dari rumah sungguh merupakan solusi bagi ibu rumah tangga yang ingin tetap dekat dengan anak-anak sekaligus mengaplikasikan kemampuannya serta mendapatkan penghasilan sendiri. Dengan bekerja dari rumah, anak-anak lebih terjaga dan bagi ibu bisa terbebas dari perasaan was-was serta khawatir setiap kali meninggalkan anak-anak di rumah. Yap...dahulu saya adalah seorang ibu pekerja sehingga bisa merasakan betapa beratnya meninggalkan anak-anak setiap hari, apalagi jika anak dalam kondisi tidak sehat, tubuh di kantor tapi hati dan pikiran ada di rumah. Ketika Almarhumah ibu saya dan suami menyetujui pengunduran diri saya dari perusahaan, awalnya merasa sangat senang tapi kemudian saya sadar bahwa saya masih butuh saluran untuk mengaktualisasikan diri, bekerja dari rumah menjadi solusinya.

Tips bekerja dari rumah
Sumber foto : Dokumentasi pribadi
Tahun-tahun pertama ketika mengawali lagi aktivitas menulis, saya sangat bersemangat apalagi kondisi sangat mendukung karena rumah ibu mertua tidak terlalu jauh dari rumah saya sehingga beliau sering menjemput anak-anak untuk bermain di rumahnya, kebetulan tidak banyak orang di rumah ibu mertua saya. Jadilah akhirnya Aisha, putri bungsu saya sangat dekat dengan Almarhumah neneknya. Berdasarkan pengalaman akhirnya saya menyimpulkan bahwa bekerja dari rumah memang sangat solutif tapi rentan dengan kondisi disekeliling kita. Apalagi sebagai kehidupan ibu rumah tangga bagaikan Roller Coaster, kadang lempeng di lain waktu menukik tajam untuk selanjutnya jatuh berdebam ke bawah. Padahal, ada beberapa jenis pekerjaan menulis yang pernah saya kerjakan dari rumah membutuhkan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi, apalagi jika kita terikat kontrak dengan klien. 

Sependek pengalaman saya, ternyata bagi saya lho...bekerja dari rumah itu sungguh tidak mudah dan sarat tantangan. Semakin anak-anak bertambah besar, bukan berarti beban kita semakin ringan, justru saya merasa semakin berat tantangannya, apalagi kehidupan anak sekarang jauh berbeda dengan saya ketika remaja dahulu. Aktivitas menyingkronkan jadwal kerja saya dengan anak-anak adalah yang terberat karena nyaris harus selalu diperbaharui, namun bukan berarti tidak bisa. Memang dibutuhkan kesabaran dan kemauan yang keras agar bekerja dari rumah berhasil. Bisa saja di tengah deadline yang ketat tiba-tiba anak-anak request menu tertentu atau kepikiran baju yang belum di cuci dan disetrika...akhirnya susah konsentrasi saat bekerja. Mungkin beberapa tips ini bisa membantu saat pilihan bekerja dari rumah mulai dipertanyakan oleh pikiran kita sendiri.
  • Usahakan untuk memiliki ritme kerja yang teratur, memang terlihat sederhana tapi memulai kerja dengan ritme yang teratur membantu mood kita siap saat bekerja sekaligus membantu untuk fokus berkonsentrasi. Saat awal mulai menulis, saya lebih banyak menggunakan waktu saat tengah malam menjelang subuh, tapi saat itu anak-anak masih kecil sehingga malam hari adalah saat terindah untuk mulai merangkai kata menjadi kalimat. Tapi setelah anak-anak bertambah besar, saat anak berangkat sekolah adalah waktu yang menurut saya paling tepat, apalagi anak-anak bersekolah dengan sistem fullday school. Jika perlu, diskusikan aktivitas kerja kita dengan anak-anak setelah mereka bertambah besar, karena bantuan dari anak-anak sangat membantu membuat ritme kerja kita lebih teratur dan nyaman.
  • Memulai hari dengan benar, seperti contoh sebelum duduk di kursi kerja, saya selalu mengusahakan agar semua pekerjaan rumah tangga sudah selesai atau pilihlah pekerjaan RT yang bisa dipending hingga selesai waktu kerja kita. Biasanya sesudah sholat subuh, saya berbelanja sayur sekalian olahraga, setelah itu lanjut memasak sambil menjemur pakaian, kalau mencucinya...ya bisa malam atau sore hari, yah sesempatnyalah. Jangan lupa sarapan yah sebelum mulai bekerja, karena pengalaman saya jika sudah duduk menghadap komputer soal makan atau sarapan kadang terlupakan sehingga tidak jarang di rapel makan siang. Akibatnya, saya pernah bolak-balik ke klinik karena urusan lambung😢.
  • Nah...kalau yang ini masih impian saya, yaitu memiliki ruang kerja sendiri. Menurut referensi yang saya baca, memiliki ruang kerja sendiri membantu kita lebih fokus dan konsentrasi sekaligus mengajarkan anak-anak bahwa ada saat di mana ibu harus bekerja. Dengan cara ini, saat memasuki ruang kerja otak kita sudah tahu bahwa ini saatnya bekerja. Mudah-mudahan terwujud...Aamin.
Gimana? Penuh tantangan kan? Tapi jangan khawatir karena di luar sana ada banyak ibu rumah tangga yang sukses meskipun hanya bekerja dari rumah. Saya percaya setiap individu adalah unik sehingga masing-masing orang memiliki cara sendiri untuk membuat pilihan bekerja dari rumah merupakan pilihan yang terbaik, meskipun memang tidak mudah dan penuh tantangan. Rehat sejenak bisa menjadi pilihan, saat kita sedang tidak fokus dan konsentrasi karena skala prioritas bisa berubah-ubah tergantung kebutuhan dan kondisi. Lakukan hal-hal yang menyenangkan tapi jangan jauh-jauh dari dunia menulis, seperti membaca buku atau menonton drama korea yang menjadi favorit saya. Biasanya ada saja inspirasi ketika melakukan kesenangan ini yang penting untuk mengirim sinyal ke otak kita bahwa kita ini penulis lho...jangan lupa!!

Semoga bermanfaat dan lain waktu saya ingin bercerita pelajaran apa saja sih yang saya dapatkan ketika membaca buku dan menonton drama korea favorit saya...hehehe.😍 Kamsahamnida

Tidak ada komentar:

Copyright : elisakaramoy (2017). Diberdayakan oleh Blogger.