Rabu, 31 Agustus 2016

SMSbunda, Bikin Informasi Dekat Di Mata dan Dekat Di Hati

SMSbunda

Saya menjalani kehamilan anak kedua dengan pola yang sehat dan sesuai anjuran dokter kandungan serta petugas kesehatan yang secara rutin saya datangi setiap bulan. Bahkan, menjelang bulan-bulan terakhir atau tepatnya memasuki usia kandungan 7 bulan, saya rutin memeriksakan kehamilan dua minggu sekali seperti saran dokter kandungan karena dari awal kehamilan yang kedua ini memang sedikit ada kendala. Ketika usia kandungan memasuki 6 minggu, saya mengalami flek berkepanjangan hingga akhirnya saya harus bedrest sampai dua kali, padahal saat itu saya masih bekerja. Tapi memasuki trimester kedua, saya lebih sehat bahkan saya melewatinya dengan kondisi tubuh yang bisa dikatakan bugar. Sesuai anjuran dokter, saya tidak boleh terlalu lelah, dan semua anjuran itu saya patuhi. Saya juga rutin mengkonsumsi obat serta vitamin yang diberikan dengan harapan bayi saya kelak sehat dan proses kelahiran lancar, meskipun sejujurnya kondisi yang saya alami di trimester awal masih menyisakan rasa was-was.


Memasuki minggu ke-34 tengah malam seperti biasa saya membuatkan susu untuk anak pertama saya yang saat berusia 5 tahun karena kondisinya agak kurang sehat dan sedikit rewel. Ketika berdiri, saya merasa ada air yang mengalir di sela kaki saya, saya pikir mungkin tidak tahan ingin buang air kecil meskipun rasanya kok tadi sama sekali tidak kebelet. Segera saya ganti pakaian dalam, dan kembali menidurkan si sulung. Keesokkan paginya ketika saya bangun dan berdiri dari kasur, air kembali mengalir dan saya yakin kali ini bukan air seni karena tidak ada bau yang khas. Antara bingung dan takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, segera saya menelpon ibu saya. Setelah saya menceritakan kondisi saya, ibu saya terkejut dan segera menyuruh saya segera ke dokter kandungan. Kenapa? Saya bingung dengan kepanikan ibu saya. Setelah agak terang dan dirasa pantas, saya menelpon dokter kandungan, dan seperti reaksi ibu saya dokter menyuruh saya segera berangkat ke tempat prakteknya saat itu juga. Sampai di tempat prakteknya, ternyata dokter sudah menunggu dan belum sempat masuk ruang praktek begitu turun dari mobil, cairan dalam jumlah banyak meluncur deras di sela kaki saya, akhirnya dokter menyuruh saya segera masuk rumah sakit. 

Sepanjang perjalanan saya ketakutan, ada apa? suami saya pun bingung dan khawatir. Setelah masuk poli kebidanan, saya diperiksa dan baru tahu jika cairan tadi adalah air ketuban yang pecah sebelum waktunya, tentu saja karena saat itu usia kehamilan saya masih 34 minggu atau memasuki 8 bulan. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata volume cairan ketuban saya hanya tinggal 20 persen, dan hari itu juga saya harus melahirkan, padahal saya sama sekali belum merasa mulas dan tidak ada kontraksi. Dengan berbagai pertimbangan, tadinya saya diputuskan akan diinduksi, tapi tidak jadi dan akhirnya setelah dokter kandungan berbincang lama dengan suami, akhirnya diputuskan saya harus operasi caesar hari itu juga, karena volume cairan ketuban semakin menipis. Selama berbaring di rumah sakit, beberapa kali perawat mengganti sprei yang basah karena rembesan cairan ketuban. Untunglah berat badan bayi sudah cukup dan organ tubuhnya sudah berkembang sempurna, sehingga siap untuk dilahirkan.

Tidak henti saya bersyukur, sekalipun saya sama sekali belum mengetahui apa itu pecah ketuban dini dan kondisi yang jauh dari keluarga besar, namun bayi saya lahir dengan selamat, padahal salah satu perawat bercerita telat sedikit saja, bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada ibu terutama pada bayi dalam kandungan. Setelah peristiwa itu berlalu, saya masih bertanya-tanya, mengapa saya tidak pernah tahu informasi ini padahal meskipun perangkat teknologi belum secanggih sekarang namun masih banyak media informasi lainnya yang bisa saya akses, apa yang menyebabkannya, kesalahan apa yang telah saya lakukan sehingga kondisi ini bisa terjadi. Selama kehamilan, saya nyaris tidak pernah mengakses informasi bahwa ada hal-hal yang bisa saja membahayakan kehamilan, yang terjadi tanpa terduga meskipun saya sudah menjalani pola kehamilan yang menurut saya sudah sehat. Terkadang, kondisi yang tidak terduga inilah yang berpotensi menimbulkan permasalahan serius selama kehamilan dan terkadang tidak di waspadai, seperti ibu hamil yang tiba-tiba terserang penyakit dan lain-lain. Karenanya, setiap kali ada saudara, teman, atau tetangga yang mengeluhkan masalah kehamilannya, saya segera menyarankan mendatangi dokter kandungan atau pelayanan kesehatan lainnya, saya akui saya cukup trauma dengan kondisi yang saya alami saat kehamilan anak kedua saya.

Beruntung, meskipun mengalami kondisi tidak terduga, saya memiliki akses untuk menghubungi dokter kandungan atau mungkin unit pelayanan kesehatan. Selain itu, saya juga tinggal di daerah yang sudah memiliki fasilitas kesehatan lengkap, sehingga kondisi segawat apapun bisa segera tertolong. Tapi, bagaimana dengan ibu-ibu hamil lainnya yang jauh dari pusat layanan kesehatan yang bisa diakses dalam waktu 24 jam? Apalagi kondisi yang mungkin saja membahayakan kesehatan ibu dan juga bayi yang dikandungnya bisa terjadi kapan saja bahkan saat tengah malam sekalipun, seperti pengalaman saya. Meskipun akses informasi di jaman sekarang relatif sudah sangat terjangkau, termasuk informasi masalah kesehatan ibu dan anak, namun tidak semua ibu bisa memetakan informasi mana yang dibutuhkannya dan terkadang belum semua ibu sadar bahwa setiap detik, menit, hari, dan bulan yang dilalui bersama anak dalam kandungannya, beragam hal bisa saja terjadi tanpa diprediksi sebelumnya.

Yap...adalah sangat benar, bahwa ibu hamil amat sangat membutuhkan informasi kesehatan kehamilan dan bayi yang dikandungnya secara rutin dan teratur dengan materi yang sudah dipetakan secara cermat sesuai kebutuhan masa kehamilan. Mengapa? Karena masalah kehamilan yang rentan dialami ibu dan bayi yang dikandungnya jika tidak mendapat pertolongan medis dengan segera akan menyebabkan masalah serius yang bisa saja berujung dengan kematian, entah itu terjadi pada si ibu atau bayi yang dikandungnya.

SMSbunda
Sumber : www.aktual.com
Hingga saat ini, Indonesia masih termasuk salah satu negara yang belum bisa mencapai target terkait permasalahan kesehatan, khususnya masalah Angka Kematian Ibu (AKI) yang ditetapkan Millenium Development Goals (MDGs). Masalah AKI merupakan target yang cukup sulit untuk negara Indonesia, di mana target MDGs tahun 2015 menurunkan AKI menjadi 102/100.000 kelahiran hidup namun hingga tahun 2007 AKI di Indonesia masih 228/100.000 kelahiran hidup. AKI memang menjadi persoalan yang sangat penting bahkan di tingkat internasional karena sesuai dengan Pasal 12.1 International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights Tahun 1966, bahwa kesehatan termasuk kesehatan reproduksi dan seksualitas sangat penting dalam pengembangan potensi manusia serta pembangunan, dan diakui sebagai hak asasi yang wajib dipenuhi. 

Memang, ada faktor-faktor yang menyebabkan sulit turunnya AKI di Indonesia, diantaranya adalah letak geografis negara Indonesia yang membuat akses masyarakat terutama ibu hamil terhadap fasilitas pelayanan kesehatan masih terbatas, ketersediaan petugas yang melakukan pelayanan kesehatan masih sangat terbatas, masih rendahnya pengetahuan serta kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan terutama keselamatan terhadap ibu hamil, masih banyak dijumpai rendahnya status gizi serta kesehatan ibu hamil bahkan di daerah yang terhitung memiliki fasilitas pelayanan kesehatan yang cukup baik. Selain faktor-faktor tersebut, masih banyak faktor lainnya yang setiap saat muncul dan semakin mempersulit turunnya AKI di Indonesia.

Jika dipetakan secara menyeluruh, terkadang ada beberapa faktor yang semakin mempersulit turunnya AKI, yaitu letak geografis, transportasi, tidak meratanya persebaran pendidikan, dan sosial budaya. Kondisi-kondisi inilah yang semakin menyulitkan ibu hamil untuk mendapatkan akses kesehatan bagi dirinya terutama anak yang dikandungnya. Bayangkan, untuk ukuran saya yang tinggal di daerah terbilang cukup lengkap fasilitas kesehatan saja, masalah komplikasi yang terkadang menyertai kehamilan sama sekali belum mengetahui. Umumnya, jika kehamilan di rasa sehat, otomotis tidak tumbuh suatu kesadaran untuk mencari tahu apa saja komplikasi yang membahayakan kelangsungan kehamilan. Padahal, semua ibu hamil terlepas adanya indikasi komplikasi atau tidak tetap wajib mengetahui tanda, gejala, atau seperti apa bentuk komplikasi yang menyertai kehamilan.

Meskipun dengan kondisi yang terbilang masih sulit, solusi tetap mutlak diperlukan untuk menyelamatkan semakin banyak ibu hamil dan bayi baru lahir di seluruh wilayah Indonesi, terutama memberikan akses informasi seluas-luasnya tentang kemungkinan beragam komplikasi terhadap kehamilan. Hal ini tentu saja bukan hanya bertujuan untuk menurunkan AKI di Indonesia, tapi lebih karena akses kesehatan adalah hak asasi setiap manusia, termasuk ibu hamil dan bayi baru lahir. Salah satu solusi yang terbilang sangat tepat dan relevan dengan perkembangan jaman terutama kemajuan teknologi adalah memberikan layanan akses informasi melalui perangkat digital handphone atau smartphone kepada ibu hamil yang di sebut SMSbunda.

SMSbunda, Bikin Informasi Dekat Di Mata dan Dekat Di Hati

Dari tahun ke tahun, angka pertumbuhan pengguna handphone dan smartphone di Indonesia selalu menunjukkan tren kenaikan. Sebuah survei yang dilakukan emarketer, bahkan mendudukkan Indonesia pada posisi ketiga setelah China dan India untuk angka kepemilikan perangkat mobile digital, yaitu handphone,dan smartphone, dengan angka pertumbuhan pengguna sekitar 51,8 juta dengan total penetrasi pertumbuhan sebesar 37,1 persen di tahun 2015. Di tahun-tahun selanjutnya, emarketer memperkirakan angka pengguna perangkat digital jenis ini akan semakin bertambah seiring meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lebih dari 50 persen penduduk Indonesia sudah memiliki kesadaran untuk mengakses informasi yang dibutuhkannya melalui perangkat digital yang dimilikinya. Dengan kata lain, fungsi telpon genggam sudah mengalami kemajuan yang sangat signifikan, tidak hanya sebagai media untuk berkomunikasi belaka melainkan juga sarana untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Informasi mutlak sangat dibutuhkan masyarakat sebagai prasyarat untuk kemajuan, selain itu informasi juga sangat dibutuhkan untuk memberikan edukasi pada masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan atau lokasi lainnya yang jauh dari pusat kota. Di samping itu daya jangkau jaringan telekomunikasi di Indonesia dari tahun ke tahun relatif mengalami kemajuan yang cukup pesat, terbukti saat ini pengguna telpon genggam di beberapa daerah sudah bisa menikmati jaringan dengan kualitas 4G.

SMSbunda
Sumber : www.instagram.com/smsbunda
Tentu saja perkembangan pesat ini sangat menguntungkan jika dimanfaatkan untuk menyelenggarakan layanan bernilai edukasi bagi masyarakat, terutama informasi yang berkaitan dengan kesehatan ibu hamil dan bayi baru lahir. Layanan informasi ini selain bertujuan untuk menurunkan AKI di seluruh daerah di Indonesia, juga untuk memberikan edukasi terutama bagi ibu hamil agar sedini mungkin menjaga kesehatan kehamilannya. Atas dasar tujuan inilah jhpiego (an affiliate of Johns Hopkins University) dengan dukungan dari GE Foundation mengembangkan suatu layanan informasi ibu hamil dan bayi baru lahir berbasis SMS seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu SMSbunda. Layanan ini sangat cocok dengan program kesehatan yang saat ini sedang dicanangkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yaitu menurunkan hingga 25 persen angka kematian ibu hamil dan bayi baru lahir di Indonesia.

Selain sebagai layanan edukasi, SMSbunda juga bertujuan untuk memberikan akses informasi bagi ibu hamil dan bayi baru lahir dari sumber yang terpercaya sehingga bisa dipertanggungjawabkan dari segi kebenaran informasinya. Yah...kita menyadari bahwa ada sebagian masyarakat Indonesia yang masih mempercayai mitos-mitos tertentu, yang belum tentu benar dan memberikan manfaat dari segi kesehatan untuk ibu hamil serta perawatan bayi baru lahir. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang menghambat tercapainya upaya untuk menekan angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia. Sedangkan di sisi yang lain, tidak semua ibu hamil menyadari tanda atau gejala seperti apa yang mengakibatkan masalah pada kandungannya, apalagi usia ibu hamil juga sangat mempengaruhi kesadaran untuk mengakses informasi secara benar. Ada banyak kasus di mana ibu hamil dalam usia yang masih relatif muda sehingga kesadaran untuk menjaga kesehatan kehamilan dari bahaya infeksi tertentu masih sangat rendah.

Untuk beragam alasan inilah, SMSbunda hadir dengan memanfaatkan perkembangan telpon genggam yang kini sudah mendominasi gaya hidup di hampir seluruh wilayah Indonesia dengan beragam informasi penting, seperti :
  • Tips menjaga kesehatan selama hamil, mulai dari trimester pertama hingga trimester terakhir.
  • Komplikasi atau kemungkinan infeksi apa saja yang mungkin di alami selama kehamilan dan membahayakan keselamatan ibu dan bayi.
  • Tips memilih menu yang sehat selama hamil dan saat menyusui nanti.
  • Perawatan bayi ketika baru lahir.
  • Perawatan pasca melahirkan, seperti masa nifas, tips saat memberikan ASI, dan lain-lain.
Beragam informasi ini tentu sangat dibutuhkan, terutama untuk ibu yang bertempat tinggal jauh dari fasilitas kesehatan yang lengkap. Yap...tidak semua ibu hamil beruntung bisa mendapatkan akses pertolongan kesehatan yang berkualitas, sehingga informasi yang diberikan SMSbunda sangat bermanfaat untuk kesehatan diri sendiri dan bayinya. SMSbunda menawarkan sebuah solusi yang membuat informasi dekat di mata dan tentu saja dekat di hati ibu, dan layanan ini bisa di akses secara gratis dari telpon genggam ibu. Lantas, bagaimana cara mengakses untuk mendapatkan informasi yang sangat berharga ini?

Secara singkat, ibu bisa melakukan langkah berikut ini :
  • Mendaftarkan nomor ponsel atau telpon genggam ke nomor SMS Gateway SMSbunda dengan cara ketik : SMSbunda kirim ke 0811 8469 468.
  • Kemudian akan mendapat balasan untuk mencantumkan tanggal perkiraan lahir.
  • Setelah itu mendapat balasan untuk memasukkan kota atau kabupaten di mana ibu berdomisili.
  • Setelah terkirim, maka ponsel ibu akan siap menerima layanan SMSbunda seputar kesehatan kehamilan sesuai usia kehamilan yang saat ini sedang dijalani hingga usia anak 2 tahun.
Diharapkan melalui layanan berbasis SMS ini, akan semakin banyak ibu hamil yang selama mengalami kesulitan mengakses berbagai informasi seputar kesehatan kehamilan. Selain itu, SMSbunda juga berupaya untuk sedikit demi sedikit menghilangkan mitos-mitos yang selama ini sangat dipercayai masyarakat namun tidak memberikan manfaat secara medis bagi kesehatan ibu hamil dan bayi baru lahir. SMSbunda juga berupaya untuk membuka akses informasi bagi ibu hamil dari sumber yang terpercaya serta dapat dipertanggungjawabkan dari segi kesehatan. Pada akhirnya, upaya ini akan membantu menekan angka kematian ibu hamil dan bayi baru lahir di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

SMSbunda

Namun tetap saja, ibu hamil tetap membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya, terutama suami dan orangtua, karenanya juga harus diupayakan agar layanan ini juga memberikan akses bagi orang-orang disekitar ibu hamil agar layanan informasi ini bisa optimal dan tujuannya akan tercapai. Tidak lupa, dukungan dari masyarakat juga sangat dibutuhkan agar layanan informasi ini bisa menjangkau lebih banyak lagi ibu hamil di seluruh daerah di Indonesia. Tidak lupa, provider penyedia layanan telekomunikasi juga bisa digandeng untuk bersama-sama menyebarkan layanan informasi dalam lingkup wilayah yang lebih luas lagi, sehingga layanan informasi bisa dijangkau dalam jarak yang semakin dekat dari hari ke hari.

Mari bersama-sama bergandengan tangan agar SMSbunda bisa membuat informasi dekat di mata dan di hati semua ibu di seluruh Indonesia.

Referensi tulisan :
http://smsbunda.or.id/
http://wri.or.id/editorial/11-mengurangi-angka-kematian-ibu#.V8ZuwDXdmFt
https://www.goodnewsfromindonesia.org/2016/01/21/data-terbaru-ternyata-jumlah-ponsel-di-indonesia-melebihi-jumlah-populasi

3 komentar:

  1. lengkap banget mbak....coba kalau 12 tahun lalu sudah sms bunda....hem...pasti menolong banyak ibu hamil...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, akan banyak ibu hamil dan bayi baru lahir yang akan tertolong ya.

      Hapus
  2. Tulisannya juara, informatif plus pengalaman pribadi yg patut dijadikan pelajaran oleh semua Ibu hamil. Selamat ya mbak, jd pemenang :)

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...