Rabu, 28 Agustus 2013

BOROBUDUR DAN ANGKOR WAT SEBAGAI CULTURAL HERITAGE KESERUMPUNAN BANGSA ASEAN

Sebagai sebuah Cultural Heritage, Candi Borobudur dan Angkor Wat mempunyai nilai historis ekonomis yang sangat tinggi dan merupakan kebanggaan bagi bangsa Indonesia dan bangsa Kamboja. Menurut sejarah, hubungan bangsa Indonesia dan Kamboja ternyata mulai terjalin sejak sebelum masa Raja Jayawarman II di Kamboja, yaitu sebelum abad ke-9. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penelitian yang menunjukkan beberapa kesamaan Candi Borobudur dan Candi Angkor Wat. 

Berdasarkan peninggalan arkeologi serta catatan beberapa prasasti, interaksi dan hubungan antara masyarakat Kamboja dan penduduk Jawa bahkan telah terjadi pada abad ke-6. Interaksi ini terjalin melalui kegiatan perdagangan yang melibatkan kerajaan di Kamboja dan Indonesia pada masa itu. Bahkan, dari beberapa model relief yang terdapat di Candi Angkor Wat, ternyata banyak ditemukan kesamaannya dengan yang terdapat di Candi Borobudur dan juga di Candi Prambanan.

SEKILAS SEJARAH CANDI BOROBUDUR DAN CANDI ANGKOR WAT

Borobudur sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi yang berbentuk Stupa ini didirikan oleh para penganut Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujursangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring dengan semakin melemahnya pengaruh kerjaan hindu dan buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam.

Relief Borobudur menampilkan banyak gambar ; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, maupun pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan vernakular tradisional nusantara. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di jawa kuno dan nusantara abad ke-8 dan 9 dengan mencermati dan merujuk ukiran relief di Borobudur. Relief-relief ini dibaca sesuai dengan arah jarum jam atau disebut Mapradaksinadalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sangsekerta, daksina yang artinya timur. Secara berurutan cerita pada candi Borobudur bermakna sebagai berikut :
  1. KARMAWIBHANGGA, adalah naskah yang menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni sebab-sebab perbuatan baik dan jahat. Relief tersebut tidak hanya memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. 
  2. LALITAWISATA, merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras.
  3. JATAKA dan AWADANA, Jataka adalah kumpulan cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai pangeran Siddharta. Sedangkan Awadana pada dasarnya hampir sama dengan Jataka tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan dan kitab Awadanasatakaatau seratus cerita Awadana.
  4. GANDAWYUDA, merupakan deretan relief yang menghiasi dinding lorong ke-2 adalah cerita Siddharta yang tidak kenal menyerah dalam mencari pengetahuan tertinggi.
Salah satu Relief Candi Borobudur
Salah satu ukiran Karmawibhangga (Sumber)

Angkor Wat adalah salah satu candi utama di kawasan Angkor, dibangun antara tahun 1113 dan 1150 atas perintah raja Suryawarman II. Dengan tembok hampir mencapai panjang 2,4 kilometer pada setiap sisinya, Angkor Wat dengan megahnya menggambarkan kosmologi Hindu, dengan menara utama melambangkan gunung Meru tempat bersemayam para dewa, dinding luar melambangkan pengunungan yang melingkari dunia, parit besar melambangkan samudra luas. Suryawarman memerintahkan dinding candi ini dihiasi bas relief yang selain menampilkan adegan dalam mitologi, juga adegan kehidupan sehari-harinya di istana kerajaan. 

Salah satu adegannya menggambarkan sang raja dalam ukuran besar tengah duduk dengan kaki bersilang di singgasana tinggi tengah memimpin rapat kerajaan, sementara dayang-dayang dan pengiringnya mengipasi dan memayunginya. Setelah wafatnya raja Suryavarman sekitar tahun 1150 masehi, kerajaan jatuh dalam perebutan kekuasaan dan kekacauan dalam negeri. Setelah melalui perjuangan yang berat, seorang pangeran Khmer yang kelak menjadi raja Jayawarman VII berhasil menghimpun rakyatnya dan kemudian memulihkan keadaan hingga akhirnya ia naik tahta sebagai raja.

Pada masa pemerintahan raja Jayavarman VII, candi-candi hindu beralih fungsi menjadi candi Buddha dengan menambahkan arca Buddha dalam candi tersebut, Angkor Wat untuk sementara beralih fungsi menjadi candi Buddha. Setelah kematian Jayavarman VII, agama hindu bangkit kembali dan muncul gerakan untuk mengembalikan fungsi candi hindu, gerakan ini berlangsung hingga abad ke-14 ketika Buddha aliran Theravada menjadi agama dominan di Kamboja.

Beberapa ahli sejarah mengaitkan kemerosotan Angkor sebagai akibat peralihan agama bangsa Kamboja dari memeluk Hindu menjadi Buddha Theravada setelah pemerintahan Jayavarman VII. Dan pada abad ke-15 hampir semua bagian kota Angkor ditinggalkan penghuninya, kecuali Angkor Wat yang telah beralih fungsi menjadi vihara Buddha. 

Salah satu relief di Angkor Wat, kamboja
Salah satu Relief di Angkor Wat (Sumber)

KESERUMPUNAN BANGSA -BANGSA ASEAN

Pada masa lalu, kawasan Asia Tenggara dan Nusantara berada di antara dua peradaban besar Asia, yaitu Hindu dan Buddha, hal ini menyebabkan bangsa-bangsa di kawasan ASEAN dipengaruhi oleh dua peradaban besar tersebut. Peradaban tersebut yang berlangsung selama berabad-abad lamanya mempengaruhi setiap aspek kehidupan masyarakatnya, termasuk seni budaya dan kehidupan sosial masyarakatnya. 

Peta kawasan asia tenggara
Letak geografis bangsa asia tenggara (sumber)
Pada masa-masa tersebut, hubungan kerajaan-kerajaan yang berada di kawasan Asia Tenggara telah terjalin dengan baik, sehingga hubungan yang bermula dari umumnya hubungan dagang mau tidak mau akan berimbas pada kehidupan lain masyarakat di kawasan tersebut. Terjadinya pernikahan atau para pedagang yang menetap di tempat baru akan melahirkan pembauran pergaulan yang lebih intens terjadi. Pembauran ini akan melahirkan bentuk-bentuk budaya baru sebagai perpaduan dari dua atau lebih budaya yang mempengaruhinya. 

Beberapa sejarah menyebutkan dengan disertai dengan bukti-bukti otentik berupa naskah-naskah kuno, prasasti, atau bahkan pahatan-pahatan di dinding-dinding tempat persemayaman, bahwa antara kerajaan-kerajaan memiliki hubungan kekerabatan yang umumnya bermula dari hubungan perkawinan antar kerajaan. Hubungan kekerabatan ini merupakan salah satu faktor yang mempererat hubungan beberapa kerajaan di kawasan Asia Tenggara karena perkawinan ini kemudian melahirkan generasi baru dengan membawa identitas baru hasil adaptasi dari budaya yang menaunginya. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keserumpunan bangsa-bangsa yang berada di kawasan ASEAN uumunya di sebabkan oleh faktor-faktor :
  1. Pengaruh dua peradaban besar yaitu Hindu dan Buddha pada masa lalu.
  2. Perdagangan antar kerajaan (atau negara).
  3. Pernikahan antar kerajaan yang melahirkan generasi baru dari perpaduan dua budaya.
  4. Letak geografis yang berdekatan membuat hubungan terjalin lebih intens.
Faktor-faktor inilah yang kemudian memberikan implikasi dan identifikasi baru bagi terwujudnya budaya baru di kawasan Asia Tenggara, hingga menimbulkan satu ciri khas yang agak mirip antara satu negara dengan negara lain. Kekhasan ini bukan hanya dilihat dari seni budayanya semata, tapi juga dari kulinernya, segi fisik yang hampir mirip, bahasa yang nyaris memiliki beberapa kosakata yang sama, atau bahkan arsitektur bangunan yang hampir serupa. Semoga kesadaran baru akan persamaan identitas masa lalu ini akan melahirnya jalinan hubungan yang lebih mesra lagi. Apalagi dengan dibentuknya komunitas ASEAN 2015 yang merupakan perpanjangan dari hubungan di masa lalu di mana bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara dipersatukan dalam satu teritorial wilayah bersama yang menunjang kehidupan ekonomi dan budaya bersama, dan juga sebagai antisipasi menuju era perdagangan bebas dunia.


Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Blog #10daysforASEAN" yang diselenggarakan ASEAN Blogger dalam rangka menuju Komunitas ASEAN 2015. 

Sumber tulisan :
  1. http://id.wikipedia.org
  2. http://repo.uum.edu.my/3175/1/S11.pdf
  3. http://dunia.news.viva.co.id


2 komentar:

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...