Jauh Di Mata Dekat Di Hati

Long Distance Marriage

Bagaimana saat pernikahan menjalani Long Distance Married (LDM)? Simak kiat saat menghadapi situasi seperti ini. Memasuki gerbang pernikahan merupakan momen yang paling membahagiakan dan merupakan saat yang paling dinantikan, tidak hanya oleh kedua mempelai namun juga seluruh keluarga besar. Tapi tidak semua pengantin baru mendapatkan keberuntungan karena bisa bersama-sama memulai kehidupannya yang baru. Adakalanya, pasangan pengantin baru harus rela berpisah karena keadaan yang memaksa. Bisa jadi pasangan kita mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah, training dari kantor, atau mendapat tugas ke luar kota bahkan ke luar negeri.

Tapi apakah hal tersebut menjadi masalah besar? Mudah-mudahan tidak, karena bagaimanapun masih banyak jalan keluar untuk mengatasi beragam permasalahan yang kerap terjadi dalam Long Distance Marriage (LDM). Memang membina pernikahan jarak jauh tidaklah mudah, dibutuhkan kerja keras dan komitmen yang sama besarnya antara pasangan suami dan istri. 

Usaha mereka untuk mempertahankan keharmonisan keluarga mesti lima kali lipat dari pasangan lain yang menjalani kehidupan pernikahan bersama dalam satu atap, terutama untuk upaya saling memahami, saling mengerti dan memberi kasih sayang. Berikut beberapa kiat yang mungkin bisa dipertimbangan sebagai solusi dari permasalahan ini agar kita tetap merasakan “jauh di mata dekat di hati” terhadap pasangan tercinta.

Lepas Dengan Senyuman

Ketika pasangan hendak pergi, sebisa mungkin untuk tidak menampakkan kesedihan dihadapannya. Kesedihan akan membuat pasangan merasa berat meninggalkan kita, dan hal tersebut bisa menjadi beban tersendiri. Ingatlah perpisahan ini hanya sementara, karena seiring berjalannya waktu akan selalu ada solusi dari permasalahan ini. Sabar dan ikhlas, merupakan tindakan yang paling tepat yang tentu saja akan membawa kebahagiaan bagi kita dan pasangan.

Berdamai Dengan Perasaan

Wajar jika kadang-kadang terselip perasaan khawatir dan cemburu dalam menjalani pernikahan jarak jauh. Bahkan bisa dikatakan perasaan-perasaan tersebut justru porsinya lebih besar dalam pernikahan jarak jauh ini. Berbagai macam pertanyaan yang meragukan kesetiaan pasangan terus menghantui pikiran, dan hal tersebut akan selalu berulang jika tidak segera dihentikan. 

Daripada dirongrong kecemasan yang berlebihan, alangkah lebih baik jika mencoba berdamai dengan perasaan. Tak perlu cemburu buta tanpa mencari tahu bagaimana kondisi sesungguhnya di sana. Ketika kita dengan hati yang tenang bisa melepas pasangan kita, maka bisa dipastikan segala kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Lantas bagaimana jika perasaan itu tidak juga hilang? Cobalah untuk menghadapi perasaan tersebut dengan selalu berpikir positif, atau jika perlu utarakan perasaan tersebut secara terbuka dengan pasangan agar mendapat ketenangan dan kepastian bahwa hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Pasangan akan jauh lebih menghargai perasaan yang diutarakan ketimbang berperilaku yang tidak baik tetapi pada dasarnya dilandasi oleh perasaan khawatir, cemas, dan cemburu buta.

Manfaatkan Waktu Sebaik Mungkin Untuk Melakukan Hal-hal Positif

Rasa kesepian dan kerinduan yang menyeruak hendaknya dikelola sebaik mungkin. Lakukan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai positif untuk menunjang kehidupan kita meskipun sedang tidak bersama pasangan. Jika kita seorang pekerja, lakukan hal-hal positif yang menunjang kinerja kerja kita, selain bisa mengisi waktu luang saat tidak bersama pasangan, sekaligus mendapat nilai plus dari tempat kita bekerja. 

Seorang ibu rumah tangga pun kini bisa memanfaatkan waktu luang meskipun hanya berdiam di rumah. Kemajuan teknologi telah banyak membawa perubahan dalam kehidupan kita, dan jika kita cukup jeli banyak peluang yang bisa dimanfaatkan dengan bantuan teknologi tersebut. Tapi kegiatan mengisi waktu luang yang paling menyenangkan adalah mengasuh dan membesarkan buah hati tercinta. 

Jadi pandai-pandailah memanfaatkan waktu luang untuk hal-hal yang positif sesuai dengan keadaan dan kondisi kita. Tapi pastikan kegiatan tersebut telah mendapat izin dan restu dari pasangan kita agar tidak menimbulkan konflik serta salah paham di kemudian hari.

Say Yes to Technology

Kemajuan teknologi dalam bentuk peralatan komunikasi yang canggih merupakan salah satu solusi untuk tetap dekat dengan pasangan kita. Berbagai aplikasi mobile yang tersemat di setiap smartphone memudahkan kita untuk saling berkomunikasi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Manfaatkan aplikasi tersebut untuk membangun komunikasi yang intens dengan pasangan dan saling berbagi cerita untuk mempererat perasaan emosional bersama pasangan.

Aplikasi komunikasi memungkinkan kita bisa saling berkirim foto aktivitas sehari-hari, atau foto anak-anak yang membuat kita merasa dekat satu sama lain. Atau kita juga bisa memanfaatkan fasilitas video call untuk membangun komunikasi yang lebih intensif. Pendek kata, manfaatkan kemajuan teknologi untuk menghapus jarak, ruang, dan waktu dengan pasangan kita yang berada jauh dari kita.

Selalu Berdoa dan Berserah Pada Yang Maha Tahu

Sebesar apapun usaha yang dilakukan untuk membentengi rumah tangga dari berbagai masalah, kita tetaplah makhluk lemah yang tidak pernah tahu dan tidak pernah bisa meramalkan kejadian di masa yang akan datang.  Atas dasar itulah, kita harus tawakkal kepada Yang Maha Mengetahui sebagai amunisi terakhir dalam setiap usaha untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia meskipun terpisah jarak dan waktu.  

Jangan lupa untuk selalu berdoa dan meminta kepada-Nya agar selalu diberi kebahagiaan dan keridhaan untuk menjalani kehidupan rumah tangga bersama hingga mau memisahkan.

Tidak ada pernikahan yang sempurna di dunia, dua orang yang terikat dalam tali pernikahan akan terus berupaya untuk saling melengkapi dan menyesuaikan diri demi tujuan yang ingin dicapai bersama. Artikel ini saya tulis untuk Komunitas Ummi Menulis, dimana beberapa tahun lalu saya pernah tergabung di dalam komunitas inspiratif tersebut. Sayang, seiring mulai tidak terbitnya Majalah Ummi, komunitas tersebut juga menurun eksistensinya. Namun, saya bersyukur pernah tergabung didalamnya dan bertemu dengan banyak penulis inspiratif dan aktif berkarya berlatar ibu rumah tangga.
Mutia Erlisa Karamoy
Mutia Erlisa Karamoy Mom of 3 | Lifestyle Blogger | Web Content Writer | Digital Technology Enthusiast | Another Blog bundadigital.my.id | Contact: elisakaramoy30@gmail.com

1 komentar untuk "Jauh Di Mata Dekat Di Hati"

Comment Author Avatar
setuju sama poin terakhir kak :') kita manusia lemah dan punya keterbatasan, tapi Allah bisa membantu dan menjaga keharmonisan hubungan