Mengenal Gangguan Disleksia Pada Anak

 

kenali gangguan disleksia pada anak

Bu, maaf mau bertanya gangguan disleksia itu apa ya? Saya ingat ketika si sulung masih duduk di sekolah dasar, wali kelasnya pernah menceritakan jika ada muridnya, yaitu salah satu teman sekelas anak saya yang hingga duduk di kelas 4 SD belum bisa membaca, dan menurut ibu wali kelas mungkin saja anak tersebut mengalami gangguan Disleksia. Ternyata masih cukup banyak orangtua yang belum memahami, apa sih sebenarnya gangguan Disleksia itu? Nah, berikut ini penjelasannya.

Yuk Kenali Gangguan Disleksia Pada Anak

Pernahkah mendengar atau bahkan melihat anak-anak yang berada disekeliling kita, yang pada usia cukup matang untuk bisa membaca dengan lancar namun dalam kenyataannya masih sering mengalami kesulitan dalam merangkai huruf-huruf menjadi kata dan kalimat, atau mengalami kesulitan membedakan beberapa jenis huruf.

Anak-anak yang mengalami gangguan seperti ini seharusnya tidak boleh terburu-buru diberi stempel anak bodoh. Mengapa? Karena ada beberapa kasus di mana anak yang usianya sudah lebih dari cukup untuk bisa membaca dan berbahasa justru mengalami keterlambatan atau gangguan. Bukan karena anak-anak ini bodoh, namun karena mengalami gangguan yang dikenal dengan istilah "Disleksia."

Menurut beberapa ahli, Disleksia adalah gangguan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kesulitan membaca dan berbahaya. Untuk diketahui, ada 3 tipe Disleksia, yaitu:

  1. Visiospatial Difficulties, yaitu gangguan yang terjadi bila anak menunjukkan gejala kesulitan untuk membedakan huruf atau angka, misalnya huruf d menjadi b, angka 6 menjadi 9, dan sebagainya. Anak memiliki kecenderungan menghapal bentuk dibandingkan memahami atau mengerti arti dari huruf atau angka tersebut.
  2. Speech Sound Difficulties, yaitu gangguan yang terjadi bila anak sulit mengerti ucapan orang lain, kesulitan untuk mengeja, dan menyusun kalimat. 
  3. Correlating Difficulties, yaitu gangguan yang terjadi bila anak mengalami kesulitan dalam memahami bunyi suara, baik saat menulis atau mengucapkannya.

Deteksi dini, sesungguhnya merupakan langkah awal penanganan yang paling tepat untuk mengantisipasi gangguan Disleksia pada anak. Nah, untuk melakukan deteksi dini diperlukan diagnosa Disleksia yang tepat. Kapan waktu yang tepat? Diagnosa Disleksia yang tepat bisa dilakukan saat si kecil menginjak usia enam atau tujuh tahun, karena pada rentang usia inilah anak yang dalam kondisi normal sudah memiliki kemampuan membaca yang mapan dan lancar.

Meskipun demikian, bukan berarti anak di bawah usia tersebut tidak dapat terdeteksi mengalami Disleksia, karena gangguan ini juga dapat terdeteksi dengan cara mengamati keterlambatan perkembangan bahasa si anak berdasarkan usia, di mana pada setiap tahapan usia anak akan mengalami kemajuan tumbuh kembang dalam berbahasa yang selalu mengalami peningkatan setiap saat.

Salah satu contoh jika si anak mengalami keterlambatan perkembangan bahasa, jika ada anak yang sudah berusia tiga tahun tetapi kemampuan berbahasanya masih seperti anak usia satu tahun. Nah, untuk kasus seperti ini diperlukan kepekaan orangtua untuk melakukan deteksi dini apakah si anak mengalami gangguan Disleksia atau tidak.

Penanganan Gangguan Disleksia Pada Anak

Penting untuk diketahui, penanganan dini merupakan cara terbaik untuk meminimalisir atau bahkan melenyapkan gangguan Disleksia. Semakin cepat seorang anak terdeteksi, maka akan semakin baik pula perkembangannya di masa depan. Untuk itu, jika si anak terlihat menunjukkan tanda-tanda mencurigakan, orangtua bisa segera mencari pertolongan agar anak segera di observasi. 

Observasi sendiri merupakan tahap yang penting untuk menegakkan diagnosa secara benar apakah anak terkena gangguan Disleksia atau tidak. Setelah tahapan observasi dilakukan, barulah akan sampai pada tahapan selanjutnya, yaitu melakukan terapi sebagai upaya meminimalisir gangguan ini.

Untuk kasus gangguan Disleksia pada anak, penanganan dapat dilakukan dengan cara melakukan stimulasi dan terapi, seperti berikut ini:

Terapi Sensori Integrasi

Tujuan dari dilakukannya Terapi Sensori Integrasi adalah untuk melatih daya konsentrasi anak, yang dapat dilakukan dengan cara melakukan permainan yang melatih koordinasi mata dan tangan, seperti menangkap bola, permainan menelusuri garis, mencari jejak, menyamakan bentuk, serta permainan mencari persamaan dan perbedaan suatu benda tertentu.

Terapi Wicara

Terapi Wicara merupakan bentuk stimulasi yang berhubungan dengan bahasa. Ada dua cara yang bisa dilakukan dalam sesi terapi wicara ini, yaitu secara berulang-ulang dan bertahap, anak diajarkan untuk mengucapkan satu persatu kata hingga akhirnya mampu merangkai kata tersebut menjadi satu kalimat yang utuh dan memiliki makna serta dapat dimengerti lawan bicaranya.

Pada sesi terapi wicara ini, anak tidak hanya belajar mengucapkan kata secara lisan namun disertai gambar yang mendukung kata tersebut. Untuk sesi selanjutnya, terapi wicara bisa dilakukan dengan latihan meniup atau menahan sesuatu di mulut untuk melenturkan otot-otot tertentu di mulut sehingga bisa mengucapkan setiap hurup dan kata dengan jelas. Cara ini biasanya diterapkan untuk kasus Disleksia yang lambat tertangani.

Terapi yang baik dilakukan dalam jangka pendek, yaitu 3 bulan dan jangka panjang selama 6 bulan. Orangtua juga akan diberikan arahan sehingga secara mandiri dapat memantau perkembangan anak, atau paling tidak minimal tiga bulan sekali.

Lamanya terapi tergantung pada kondisi anak yang mengalami gangguan Disleksia itu sendiri, apakah gangguannya pada tahap ringan, sedang, dan berat. Selain itu, apakah anak dapat menunjukkan kerjasama yang baik selama melakukan terapi. Nah, untuk alasan inilah diperlukan peran serta orangtua agar selalu meluangkan waktu mendampingi anak, terutama saat menjalani terapi.

Gangguan Disleksia sendiri tidak bisa dihilangkan secara total hingga si anak dewasa kelak, karena kemungkinan untuk salah menulis atau membaca tetap ada, meskipun tentu saja tidak sebesar sebelum melakukan terapi. Meskipun begitu, mengalami gangguan Disleksia bukanlah akhir dari segalanya, karena banyak aktor-aktor top mancanegara yang juga mengalami gangguan Disleksia namun sukses dalam bidangnya, seperti Tom Cruise, Orlando Bloom, dan masih banyak lagi.

Namun untuk mengatasi gangguan Disleksia pada anak diperlukan dukungan yang maksimal dari orangtua, keluarga besar, sekolah, lingkungan di sekitar tempat tinggal, dan tentu saja masyarakat luas, agar anak-anak yang mengalami gangguan Disleksia dapat tumbuh dan berkembang secara normal seperti anak-anak lainnya.

Tidak ada komentar