TANTRUM PADA ANAK, DARI KONFLIK MENJADI KERJASAMA YANG POSITIF

batita sedang tantrum
Gambar
Setiap orangtua pasti mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan apabila menghadapi anak yang sedang tantrum, terkadang tantrum datang disaat yang tidak tepat bahkan gawatnya si tantrum datang pada saat emosi kita sebagai orangtua tidak stabil. Kebayang kan...repot urusannya, bisa-bisa bermula dari tantrum justru akan merembet ke hal-hal lain di luar dari apa yang memicu anak menjadi tantrum. Terkadang pemicu tantrum anak hanya urusan yang sepele, seperti berebut mainan atau ngantuk, tapi cukup memancing emosi orangtua. Ada anak yang mempertahankan sikap tantrumnya berjam-jam, menangis terus-menerus tanpa tahu dengan jelas apa yang diinginkannya, biasanya dilakukan batita karena kemampuan mengekspresikan keinginannya masih terbatas. Dan sebagai ibu dari tiga orang putra dan putri, hampir setiap hari saya pun mengalami saat-saat emosional bersama dengan si tantrum ini, pemicunya...terkadang memang sangat sepele.
Dengan tingkatan usia yang berbeda, cara tantrum yang dilakukan anak saya pun berbeda, dan terkadang membuat saya cukup terpancing dari sisi emosional. Sebelum kita membahas lebih jauh tantrum beserta tips sederhana untuk sedikit menaklukkan buah hati kita yang sedang tantrum, ada baiknya kita memahami apa pengertian tantrum itu agar kita lebih siap menghadapi situasi emosional yang mungkin akan berujung konflik berulang.
Menurut beberapa sumber, Tantrum adalah luapan kemarahan atau kekesalan. Meskipun sebenarnya kondisi ini bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang dewasa, namun biasanya tantrum identik dengan perilaku spesifik yang dilakukan anak terutama dalam usia balita - batita. Umumnya anak menunjukkan berbagai macam tingkah laku, seperti membangkang atau bersikap keras kepala, dan tingkah laku tersebut sebenarnya merupakan pertanda anak sedang mengembangkan kemandirian dan otonomi dirinya.
Umumnya pada usia balita dan batita, seorang anak akan menunjukkan beberapa atau semua tingkah laku berikut :
  • Menolak kontrol dalam bentuk apapun,
  • Mulai muncul keinginan untuk mandiri, membangkang, atau lebih banyak menuntut,
  • Situasional yang tidak jelas terkadang mandiri atau di waktu berikutnya menjadi manja,
  • Keinginan untuk memegang kendali atau bahkan mengendalikan orang-orang disekelilingnya.
Karena itu penting bagi kita untuk mengenali umumnya yang menjadi pemicu tantrum pada buah hati tercinta, ada saat-saat memang tantrum datang tidak tepat situasi dan tempat. Kita marah? rasanya wajar-wajar saja, karena itu kita harus memahami beberapa fakta tentang tantrum :
  1. Walaupun kemarahan adalah emosi yang terlihat jelas oleh orangtua, sesungguhnya tantrum merupakan campuran dari rasa marah dan perasaan lain seperti frustasi, panik dan sebagainya.
  2. Tantrum biasanya dilakukan di hadapan orangtua atau paling tidak orang lain yang di kenal dan memiliki ikatan rasa aman terhadap si anak.
  3. Temperamen anak juga memiliki andil dalam perilaku tantrum ini.
  4. Umumnya tantrum terjadi di rumah, namun ada beberapa kejadian terburuk justru terjadi di tempat umum.
  5. Jika tantrum di tangani dengan baik sejak dini, tantrum akan semakin jarang terjadi setelah anak tumbuh dewasa.
  6. Mayoritas tantrum merupakan ekspresi kehilangan kendali yang muncul dari perasaan frustasi, ketidakberdayaan, dan kemarahan, serta karena kurangnya keterampilan anak untuk mengatasi perasaannya tersebut.

SELAMAT TINGGAL TANTRUM

Selain mengantisipasi perilaku pada anak agar tidak mengarah pada perilaku tantrum, juga penting untuk mengatasi perilaku anak ketika sudah terjadi tantrum. Untuk itu diperlukan beragam cara agar situasi konflik yang disebabkan perilaku tantrum menjadi lebih bersahabat, dan sekaligus bisa belajar untuk meningkatkan keterampilan anak dalam membangun kerjasama yang positif.

Ada tiga teknik dalam mengajarkan kemampuan baru pada anak, yaitu :
  1. Buatlah sederhana dan lakukan perlahan-lahan, karena setiap anak memiliki kemampuan untuk menyerap yang berbeda-beda. Untuk itu perincilah setiap perintah dengan langkah yang mudah dimengerti oleh si anak, dan rajin berlatih bersama tanpa ada paksaan.
  2. Rapi dan teratur. Selain mengajarkan anak untuk merawat benda-benda miliknya, orangtua harus mencontohkan terlebih dahulu dengan contoh perilaku yang tepat.
  3. Menerima kesalahan. Ketika anak membuat kesalahan, bantulah anak menyadari bahwa membuat kesalahan adalah sesuatu yang wajar untuk belajar melakukan tindakan yang benar.
Ada beberapa cara meredakan anak yang Bad-Mood, yaitu :
  1. Nyatakan perasaannya. Bantulah anak dalam mengindentifikasi perasaannya kemudian berikan pelukan yang nyaman setelah anak menyatakan rasa sedih atau kecewanya.
  2. Lontarkan lelucon. Dengan lelucon anak akan lebih santai dan rasa frustasi atau marah sedikit demi sedikit akan menghilang.
  3. Ganti subyek pembicaraan dengan perlahan kemudian alihkan pada subyek yang biasanya membuat si anak merasa bahagia atau senang.
Tantrum umumnya membuat anak ingin mengendalikan orangtuanya, karena itu diperlukan cara untuk mencegah perebutan kekuasaan antara si anak dengan orangtua, yaitu :
  1. Tunjukkan empati. Biarkan anak tahu bahwa meskipun orangtuanya memahami perasaannya namun orangtua tetap pada pendiriannya dan tidak akan menyerah.
  2. Jangan membuat janji yang tidak bisa ditepati. Banyak janji dan sedikit menepati tidak akan menyenangkan perasaan si anak dan memicu tantrum, lebih baik mengaplikasikannya dalam bentuk reward atau hadiah apabila perilaku anak baik.
  3. Pegang teguh setiap perkataan atau aturan yang telah disepakati bersama dalam kondisi apapun, karena sekali saja melunak maka anak akan mendapatkan keinginannya dengan mengulang perilakunya tersebut.
Kerjasama orangtua dan anak
Gambar
Tantrum memang merupakan satu tahapan kondisi yang harus dilalui orangtua dan anak untuk mencapai satu tahapan hubungan yang lebih harmonis. Namun mengatasi tantrum sedini mungkin merupakan satu cara positif agar perilaku tantrum tidak selalu berulang dan membantu anak untuk belajar mengekpresikan emosinya dengan benar.  Karena itu sebelum terjadinya konflik karena si tantrum ini, perlu kiranya dipahami beberapa cara untuk menghindari tantrum, yaitu :
  1. Memperhatikan pola tingkah laku tertentu, kapan biasanya anak memunculkan perilaku tantrumnya dan segera mengantisipasi sebelum perilaku tersebut berulang.
  2. Mengalihkan perhatian. Untuk usia batita, cara ini cukup ampuh apabila perilaku anak mulai mengarah tantrum, secepatnya dialihkan ke hal-hal lain yang membuatnya lebih tenang atau suatu subyek yang biasanya membuatnya senang.
Jadi, mari mengubah konflik yang diakibatkan perilaku tantrum menjadi kerjasama yang positif dalam rangkaian membangun positif parenting agar anak tumbuh dengan baik dan bahagia.


Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Blog Tabloid Nakita" yang diselenggarakan Tabloid Nakita, Panduan Tumbuh Kembang Anak.

Sumber Referensi Tulisan :
  1. Majalah Parents Indonesia, Mei 2009.
  2. http://www.bundakonicare.com/post/pengetahuan-soal-tantrum/

Mutia Erlisa Karamoy
Mutia Erlisa Karamoy Mom of 3 | Lifestyle Blogger | Web Content Writer | Digital Technology Enthusiast | Another Blog seputarbunda.com | Contact: elisakaramoy30@gmail.com

Posting Komentar untuk "TANTRUM PADA ANAK, DARI KONFLIK MENJADI KERJASAMA YANG POSITIF"