ROMANTISME PERJALANAN TERIOS 7 WONDERS MENYIBAK HIDDEN PARADISE DI INDONESIA

Gelaran Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) tahun 2013 ini mempunyai kenangan special bagi saya, karena saya beruntung diberi kesempatan untuk hadir di acara Blogger Gathering "Terios 7 Wonders, Hidden Paradise" di Booth Daihatsu IIMS tanggal 20 September 2013. Meskipun tidak terpilih sebagai salah satu pemenang, tapi bangga bisa hadir plus mendapatkan banyak ilmu dari Mbak Marischka Prudence dan dari perwakilan Google Indonesia. Lebih menyenangkan lagi ternyata para pemenang Terios 7 Wonders dan Daihatsu berkenan menorehkan catatan perjalanan selama menyusuri Hidden paradise di Indonesia.

Blogger Gathering Daihatsu
Acara Blogger Gathering di Booth Daihatsu : Gambar pribadi
Rute pada perjalanan team "Terios 7 Wonders, Hidden Paradise" kali ini di mulai dari pantai Sawarna, Banten yang dilanjutkan ke Desa Kinahrejo, Gunung Merapi, Jawa Tengah, Kemudian menyusuri Tengger, Bromo dan lanjut ke Taman Nasional Baluran. Tempat ke lima yang kemudian dikunjungi adalah Sade Rambitan, Lombok yang terkenal dengan suku sasaknya, lanjut ke Dompu, Nusa Tenggara Barat hingga berakhir di Pulau Komodo. Rangkaian perjalanan panjang ini tentu saja menorehkan banyak cerita indah dan mengesankan, hingga tidak berlebihan kiranya jika saya menuangkan sedikit catatan perjalanan ini berdasarkan tulisan tim yang beruntung bisa menikmati indahnya "Hidden Paradise" di Indonesia, meskipun saya tidak bisa ikut serta.



1#PERJALANAN MENJELAJAH PANTAI DESA SAWARNA, LEBAK-BANTEN

Rombongan touring ini memulai perjalanan dari Sentul City, Bogor menuju ke arah sukabumi, menyusuri jalan berkelok-kelok di areal perbukitan ke arah Desa sawarna, Lebak, Banten sebagai etape pertama pada tanggal 1 Oktober 2013. Total rombongan yang terdiri dari 7 blogger, 7 media, 7 driver, dan sisanya tim pendukung dengan total keseluruhan 24 orang berangkat menapaki awal perjalanan menuju Desa Sawarna yang terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten.

Setelah melalui perjalanan yang cukup ekstrim melewati sungai Citarik yang terkenal dengan arung jeram-nya, hingga tiba di Pelabuhan Ratu yang terkenal dengan pantai dan ombaknya yang indah, tim Terios 7 Wonders tiba di Desa Sawarna yang dalam tiga tahun terakhir ini mulai ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan domestik. Desa Sawarna menawarkan beragam destinasi yang elok di pandang mata meskipun jalan menuju destinasi terbilang masih jauh dari nyaman, tapi yah...itulah sebuah petualangan kendala medan yang tidak ringan bukan menjadi penghalang untuk menelusuri keindahan yang tiada batasnya. Pantai Ciantir, merupakan destinasi pertama yang dikunjungi tim Terios 7 Wonder dalam rangkaian menemukan Hidden Paradise di bumi Indonesia. Kesadaran masyarakat akan potensi wisata daerahnya lumayan tinggi terbukti dengan dibuatnya papan penunjuk jalan lengkap dengan jaraknya yang lumayan mempermudah wisatawan dalam mencari lokasi dan memperkirakan waktu untuk tiba di lokasi. Pada setiap lembar papan yang dipasang bertuliskan :
  • Legon Pari 3 km,
  • Tanjung Layar 1.9 km,
  • Pasir Putih 0,8 km,
  • Goa Lalay 2 km,
  • Goa Langir 0.4 km.
Dan untuk mencapai pantai Ciantir pun harus melalui jembatan gantung yang membentang di atas sungai Sawarna, dengan lebar jembatan hanya 1,5 m bisa dibayangkan setiap kendaraan yang akan melewati jembatan harus antri, belum lagi sensasi goyangan jembatan ketika melaluinya terasa sangat menakutkan sekaligus menyenangkan. Namun sebagai awal sebuah petualangan, sensasi ini seperti starter awal untuk menuju etape selanjutnya. Perjalanan kemudian diteruskan melewati perkampungan penduduk, selain semakin menjamurnya penginapan, warung juga saung ternyata ada penduduk yang selama 20 tahun setia menekuni profesi sebagai pengrajin mebel, rupanya perubahan wajah desa seiring semakin maraknya wisatawan yang berkunjung tidak menyurutkan keinginan para pengrajin mebel untuk tetap setia berkarya pada profesi yang dipilihnya...romantis kan!

Bicara soal romantisme, tentu erat kaitannya dengan keindahan dan tentu saja Pantai Ciantir menawarkan pesona keelokkan alam ciptaan Tuhan untuk bumi Indonesia. Gemburnya pasir putih kecoklatan dan pesona dua buah batu yang cukup besar yang oleh masyarakat setempat di sebut "batu layar" berdiri tegak dengan gagah di tepi pantai dikelilingi karang-karang yang kokoh dan ditemani deburan ombak yang datang silih berganti sepanjang hari menawarkan sebuah keindahan akan "sunset senja yang sempurna". Ombak tinggi yang datang silih berganti juga menawarkan sebuah kesempatan untuk mencoba olahraga surfing, dan untuk yang satu ini sudah cukup banyak wisatawan mancanegara yang mencobanya. Sebagai sebuah destinasi pariwisata, Desa Sawarna memiliki banyak potensi untuk terus berkembang ; pantai yang bersih, deburan ombak tinggi yang cocok untuk olahraga surfing, desa yang asri, dan medan yang lumayan berat yang menjanjikan aroma petualangan, tentu kesemuanya ini layak untuk dikelola dengan lebih baik lagi.

Batu Layar, Pantai Ciantir Desa Sawarna
Batu Layar, Sawarna
Terios 7 Wonders, Desa Sawarna
Matahari Pagi di Desa Sawarna

2#PERJALANAN MENUJU DESA KINAHREJO, DI KAKI GUNUNG MERAPI

Perjalanan kemudian memasuki etape selanjutnya menuju Kota Gudeg, Yogyakarta. Perjalanan menuju destinasi kedua di Desa Kinahrejo yang terletak di kaki gunung merapi, di awali dengan melewati Pantai Karang Hawu, di sebelah barat Pelabuhan Ratu, Sukabumi, hingga akhirnya tiba di Banyumas dan semakin dekat dengan destinasi kedua di kota Yogyakarta. Dalam kesempatan kali ini, Tim Terios 7 Wonders berkesempatan untuk menyaksikan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) Daihatsu, yang bekerjasama dengan Forum CSR Kesejahteraan sosial Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara tersebut selain menyajikan hiburan dengan alunan musik gamelan jawa beserta tarian kuda lumping, juga diisi dengan penanaman 10.000 pohon secara simbolik untuk menghijaukan kembali desa yang porak-poranda akibat musibah meletusnya gunung merapi pada Nopember 2010.

Lava Tour Kaki gunung merapi
Lava Tour "Terios 7 Wonders" : Gambar dari sini
Setelah acara selesai, tim Terios 7 Wonders mulai menjajal ketangguhan medan di kaki gunung merapi dengan ikut serta dalam Lava Tour menuju Desa Cangkringan tempat di mana dahulu merupakan kediaman Mbah Maridjan, sang juru kunci gunung merapi. Melewati jalan yang berdebu dan berpasir seakan mengembalikan romantisme kenangan masa lalu akan dahsyatnya letusan gunung merapi yang memporak-porandakan daerah di sekitarnya, dan menyisahkan bangkai sebuah mobil dan sejumlah sepeda motor yang seakan menjadi saksi bisu terjangan "Wedhus Gembel" alias awan panas. Sisa-sisa rumah Mbah Maridjan yang hancur akibat terjangan awan panas menjadi saksi bisu yang mengingatkan kita betapa dalam sekejap mata apa yang kita miliki bisa hilang tidak bersisa.

Perjalanan yang tidak mudah karena harus melalui tanjakan terjal dengan permukaan yang berpasir tentunya menimbulkan sensasi tersendiri, belum lagi perjalanan yang dihiasi dibu-debu beterbangan mengingatkan kita akan betapa dahsyatnya akibat yang ditimbulkan sebuah bencana alam yang mampu membalikkan daerah yang dulunya hijau dan subur menjadi kering, tandus, dan berdebu. Cerita duka sebuah desa yang hancur akibat bencana alam dahsyat mengantarkan tim Terios 7 Wonders melewati medan jalan yang berkontur bergelombang dan berdebu, dan sukses rintangan beratnya medan jalan yang berpasir menuju perjalanan berikutnya. Perjalanan menyusuri Desa Kinahrejo ini diakhiri dengan bertandang ke Museum Sisa Hartaku yang terletak di Dusun Petung, Desa Kepuharjo. Museum ini dipenuhi dengan benda-benda yang menjadi saksi bisu keganasan letusan gunung merapi tahun 2010 silam.

Museum Sisa Hartaku di kaki gunung merapi
Museum Sisa Hartaku, Desa Kepuharjo, Merapi. Gambar dari sini

3#PERJALANAN MENEMBUS KABUT MENUJU TAMAN NASIONAL BROMO, TENGGER, SEMERU (TNBTS)

Menempuh perjalanan yang nyaris tidak berjeda tentu menimbulkan atmoster tersendiri bagi semua peserta yang ikut serta dalam tim Terios 7 Wonders, semakin terjalin keakraban di antara para peserta yang menimbulkan romatisme persahabatan yang mungkin akan dikenang seumur hidup. Dan perjalanan kemudian dilanjutkan ke Hidden Paradise berikutnya yaitu Tengger di wilayah Gunung Bromo.  Perjalanan yang diawali dari Kota Malang hingga menuju Desa Lumajang, tim Terios 7 Wonders harus melalui medan yang cukup ekstrim berupa tanjakan yang terjal, jalan yang berbatu serta rusak, bahkan jalan yang nyaris hanya muat satu mobil, benar-benar sebuah perjalanan yang mengandung aroma petualangan.

Danau Ranupani, Tengger
Menginap di tepi danau Ranupani, Tengger : Gambar dari sini
Perjalanan melintasi lebatnya hutan belantara Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TMBTS) seakan mengantarkan kita pada dunia yang lain, dunia yang didalamnya menyembunyikan kecantikan alam yang membuat kita merasa itulah surga dunia dalam batas pemikiran manusia. Surga itu adalah Danau Ranupani yang terletak di wilayah Desa Ranupani. Tiba di lokasi malam hari ternyata tidak menyurutkan semangat pemburu sunrise untuk menunggu hingga terbitnya matahari di temani api unggun dan hangatnya sleeping bag sebagai alas tidur. Pagi akhirnya menjelang juga seiring dengan terbitnya matahari, indahnya pemandangan Ranupani mulai terlihat jelas dari tepi danau. Indahnya sunrise inilah yang selalu diburu para pencinta alam, karena dari tepi danau Ranupani "Hidden Paradise" dari sunrise dan keindahan alam Ranupani tergambar dengan jelas. Alam pun memperlihatkan sisi romantisnya untuk kita umat manusia.

Danau Ranupani, Desa Ranupani, Tengger
Tepi Danau Ranupani, Tengger : Gambar dari sini
Dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga ikut menjaga kelestarian alam yang tergambar nyata dalam aksi yang dilakukan tim Terios 7 Wonders beserta perwakilan dari PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) yang memberikan sumbangan berupa peralatan kebersihan, yaitu sejumlah sapu lidi dan tempat sampah dengan bentuknya yang mirip pot tanaman besar, kepada Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai wujud kepedulian akan kebersihan lingkungan lokasi wisata di TNBTS.

Perjalanan menjelajah "Hidden Paradise" di Desa Ranupani kemudian dilanjutkan, bentangan alam yang memukau dan memanjakan mata diselingi perkebunan masyarakat Tengger seakan membuat kita berada di dunia antah berantah yang damai, diselipi satu cerita unik dari penduduk desa tentang turunnya salju di desa Ranupani pada tahun 1984 dan kembali berulang tahun 2013 sebelum tim Terios 7 Wonders menyambangi desa ini. Benar-benar menakjubkan serta membangkitkan aroma romantisme kita akan keindahan bentangan alam pedesaan di kaki gunung Semeru dan dibalut kepolosan penduduk desa dengan senyum tulusnya...ternyata untuk bahagia hanya sederhana.

Desa Ranupani, Tengger
Pemandangan Desa Ranupani, Tengger : Gambar dari sini

4#PERJALANAN MENIKMATI AFRICA FROM JAVA DI TAMAN NASIONAL BALURAN

Romantisme perjalanan tim Terios 7 Wonders kemudian bermuara di Taman Nasional Baluran yang merupakan salah satu taman nasional di Indonesia terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur. Nama Taman Nasional Baluran sendiri diambil dari nama gunung Baluran yang berada di kawasan taman nasional tersebut. Taman nasional ini terdiri dari vegetasi sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Taman Nasional Baluran dijuluki "Africa From Java" karena memiliki sabana (padang rumput) Afrika yang tersebar di beberapa tempat seperti ; Karangtekok, Balanan, Semiang, Kramat, Talpat, dan Bekol. Sabana Bekol inilah yang paling tenar di antara savana lainnya, yang memiliki luas mencapai 420 Hektar (tahun 2006).

Selanjutnya tim Terios 7 Wonders melakukan petualangan Safari Night dengan berjalan kaki di kawasan sabana baluran di sekitar wisma tempat tim menginap. Perjalanan malam yang hanya mengandalkan cahaya lampu senter sebagai sumber pencahayaan cukup beruntung karena dapat melihat beberapa ekor rusa yang berkeliaran di alam bebas. Padahal selain rusa, Taman Nasional Baluran juga di diami sekelompok binatang lain, seperti banteng, kerbau, dan merak. Selain itu Taman Nasional Baluran juga di diami sejenis anjing hutan, yang umumnya hidup berkelompok antara 20-30 anjing hutan dalam satu kelompok dan biasanya anjing hutan ini berburu pada waktu malam hari di kawasan sabana bekol.

Sabana Bekol, Taman Nasional Baluran
Menikmati Sabana di Taman Nasional Baluran : Gambar dari sini
Eksplorasi alam liar di kawasan Sabana Bekol di mulai keesokkan harinya, dan disambut dengan pemandangan sabana yang gersang. Tanah Sabana menghitam dan terlihat retak-retak, rumput ilalang menguning dan kering, hanya akasia saja yang tumbuh tinggi menjulang menawarkan suasana hijau segar di antara keringnya wilayah sabana pada saat ini. Sungguh sebuah suasana yang menawarkan atmosfer berbeda dalam satu masa kehidupan kita, di mana hewan liar dengan berlalu-lalang tanpa takut akan diburu atau dikejar, hidup aman dan damai bersama kawanan binatang lain, pemandangan yang meyajikan betapa romantisnya hidup bersama dengan damai.

Sabana di Taman Nasional Baluran
Perjalanan melintasi Sabana di Baluran : Gambar dari sini
Perjalanan kemudian dilanjutnya menuju Pantai Bama, di pantai ini wisata air tidak terbatas pada snorkeling dan bersampan saja melainkan juga menyelam (diving). Lokasi penyelaman Reef-Covery III di Taman Nasional Baluran terdapat beberapa titik, yaitu Bama, Kajang, Simacan, Lempuyang, Air Karang, dan Bilik. Semuanya terletak membentang dari pesisir pantai timur hingga utara dengan kedalaman bervariasi antara 3-10 meter.

Selain itu, di Taman Nasional Baluran terdapat tanaman Mangrove berukuran raksasa yang katanya merupakan mangrove terbesar di dunia? entahlah, yang jelas spesies tanaman ini memiliki diameter yang terus membengkak hingga kini mencapai 9.32 meter, padahal normalnya tumbuhan ini hanya berdiameter 30-40 cm saja, fantastis bukan! Untuk menikmati mangrove tersebut, kita cukup melintasi jembatan yang berujung di dermaga pantai mangrove, di mana sepanjang lintasan jembatan akar-akar bakau saling berserabut satu sama lain hingga tidak jelas yang mana sang pemilik akar sejati.

Jembatan Mangrove di taman nasional baluran
Jembatan Dermaga Mangrove di Baluran : Gambar dari sini
Menjelajah Taman Nasional Baluran ternyata memperkaya pengetahuan kita akan satu sudut di wilayah Indonesia yang berwajah Afrika dan dihiasi tanaman Mangrove berdiameter sangat fantastis, serta wisata air di pantai Bama yang menawarkan aroma petualangan untuk snorkeling, diving, atau hanya sekedar bersampan, inilah Hidden Paradise di Indonesia.

5#PERJALANAN MENUJU SADE, DESA WISATA DI LOMBOK TENGAH

Perjalanan tim Terios 7 Wonders kemudian memasuki babak baru menuju Dusun Sade di Rambitan Lombok Tengah, di mana lokasinya harus dilalui dengan menyeberang menggunakan kapal dari Bali hingga tiba di kota Mataram. Melalui perjalanan yang sangat panjang dan meletihkan tidak lantas membuat semangat tim Terios 7 Wonders menurun, bahkan ekploitasi wisata berlanjut dengan wisata budaya di dusun Sade yang terletak dalam wilayah Desa Rambitan, yang di huni oleh penduduk asli Pulau Lombok, yaitu Suku Sasak yang masih memegang teguh tradisi adat dan budayanya.

Desa sade rambitan lombok
Welcome Desa Sade, Rambitan, Lombok : Gambar dari sini
Rombongan tim Terios 7 Wonders di sambut secara resmi dengan alunan musik dan tarian tradisional "Kedang Belek" berupa dua drum besar yang dimainkan oleh dua orang dan diiringi musik gamelan. Selanjutnya tibalah pada atraksi budaya berupa pertunjukkan "Peresehan", sebuah tradisi masyarakat setempat berupa perkelahian antara dua pria menggunakan tongkat rotan panjang dan perisai yang terbuat dari kulit sapi. Tradisi ini berawal dari peperangan, namun kini hanya merupakan bagian dari pertunjukkan untuk menghibur wisatawan yang datang berkunjung.

Budaya suku sasak lombok
Tarian Tradisonal Suku Sasak : Gambar dari sini
Sebagian besar suku sasak bekerja sebagai petani, sedangkan sebagian besar wanitanya memiliki keahlian dalam membuat kain tenun. Tapi ada satu hal unik dari suku sasak, yaitu cara mereka membersihkan lantai rumah dengan menggunakan kotoran kerbau, menurut mereka cara ini membuat lantai rumah lebih hangat dan dijauhi nyamuk...sebuah tradisi yang aneh tapi nyata. Acara kemudian dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan CSR Daihatsu di SMA Al-Masyhudien NW Kawo, berupa sumbangan 4.000 buah buku bacaan secara langsung dan bantuan pengecatan ruangan. Ada satu hal yang unik tentang cerita yang dipentaskan oleh murid-murid SMA Al-Masyhudien tentang "Legenda Putri Nyale" yang berujung pada tradisi yang disebut "Bau Nyale", di mana pada setiap tanggal 20 bulan 10 (penanggalan sasak) masyarakat berbondong-bondong mengumpulkan cacing laut di pantai.

Perjalanan mengekploitasi Pulau Lombok ternyata belum usai, karena rute selanjutnya adalah Pantai Pink (Pantai Tangsi) dengan kondisi jalan yang rusak dan berbatu, belum lagi pemandangan sepanjang 2 jam perjalanan yang menyuguhkan bentangan hutan gersang dengan daun-daun yang merangas. Perjalanan panjang kemudian terbayar ketika sudah tiba di lokasi Pantai Pink, ngomong-ngomong soal dinamai pantai Pink karena jika dilihat dari kejauhan pasir dari pantai ini sekilas berwarna pink atau merah muda. Meskipun bicara soal keindahan, pantai Pink tidak berbeda jauh dengan pantai-pantai lain namun sebutan "Hidden Paradise" layak di sematkan pada pantai Pink karena lokasinya yang terbilang jauh dari keramaian alias masih perawan, bahkan fasilitas penunjang pariwisata di sekitar pantai sangat minim nyaris tidak ada.

Pantai Pink, Lombok
Pantai Pink, Lombok : Gambar dari sini
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju pantai Selong Belanak masih di Pulau Lombok. Medan yang harus dilalui ternyata tidak mudah, karena sebagian besar jalan yang dilalui berada di area perbukitan, dengan kontur jalan yang terkadang naik kadang turun, bahkan saat lain meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri. Tapi sayang, nasib baik tidak berpihak pada tim Terios 7 Wonders karena tiba di Selong Belanak matahari telah lebih dahulu terbenam menyisakan gelap malam yang menjelang.

Pantai Selong Belanak, Lombok
Pantai Selong Belanak, Lombok : Gambar dari sini
Tidak semua perjalanan berjalan mulus, namun untuk sebuah perjalanan panjang menyibak Hidden Paradise di Indonesia, jejak kaki tim Terios 7 Wonders setidaknya telah melalui banyak tempat indah tersembunyi yang menawarkan bukan hanya keindahan alam, tapi juga adat istiadat budaya masyarakat setempat.

6#PERJALANAN MENJELAJAH DOMPU, PULAU SUMBAWA

Etape berikutnya adalah adalah Pulau Sumbawa, di mana rombongan tim Terios 7 Wonders harus melalui perjalanan menggunakan kapal Ferry selama 4 jam untuk tiba di sumbawa. Selama perjalanan menyusuri rute menuju Dompu, tim Terios 7 Wonders di suguhi dengan bentangan alam yang menakjubkan, sebuah bukit yang diselimuti awan dan seekor kuda liar yang sedang merumput di hiasi senja yang indah hingga menampilkan seberkas siluet yang cantik. Sajian pemandangan yang indah masih berlanjut hingga menjelang tiba di Dompu, di mana sepanjang jalan yang dilalui bersisian dengan pesisir pantai.

Pulau Sumbawa
Perjalanan menuju Dompu, Sumbawa : Gambar dari sini
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kota Bima, setelah sebelumnya mampir di Desa Palama untuk mengunjungi pemerahan susu kuda liar yang sangat terkenal dengan berbagai khasiatnya. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana cara memerah susu kuda liar tentunya merupakan kenangan tersendiri bagi peserta tim Terios 7 Wonders, apalagi setelah aksi perah-memerah selesai dilanjutkan dengan mencicipi susu kuda liar langsung fresh from oven...sebuah kesempatan yang langka yang mungkin sulit terulang lagi.

Kuda Liar di Pulau Sumbawa
Kuda Liar penghasil susu kuda liar Sumbawa : Gambar dari sini
Hingga di batas ini, Terios 7 Wonders hanya menyisakan satu unit Terios untuk mencapai etape terakhir dari perjalanan tim Terios 7 Wonders, yaitu Pulau Komodo. Pada sesi perjalanan kali ini dihiasi dengan acara perpisahan yang pastinya menyedihkan setelah berhari-hari bersama. Tapi inilah sebuah perjalanan, ada awal dan tentu ada akhir, perjalanan Terios 7 Wonders menyibak Hidden Paradise di Dompu, Sumbawa mengantarkan kita pada sebuah hal yang tidak biasa bahwa kuda liar bisa diternakkan bahkan bisa menjadi tumpuan penghidupan masyarakat setempat dengan susu yang dihasilkannya, dan gaung khasiat susu kuda liar telah melintasi berbagai wilayah seluruh Indonesia dan belahan dunia.

7#PERJALANAN DI AKHIRI DI PULAU KOMODO

Detik-detik terakhir dari rangkaian perjalanan panjang Terios 7 Wonders berakhir di Pulau Komodo, petualangan di Pulau Komodo dimulai dari Labuan Bajo sebagai gerbang pariwisata Pulau Komodo setelah menempuh perjalanan laut selama 5 jam, sebuah waktu yang panjang dan terbayarkan dengan terlihatnya gerbang besar yang menyambut kedatangan rombongan di Taman Nasional Komodo. Perjalanan para blogger kemudian dilanjutkan dengan acara puncak yaitu menyelam di Pulau Komodo dengan kapal Phinisi.

Taman Nasional Komodo
Gerbang Menuju Pulau Komodo : Gambar dari sini
Petualangan menjelajah Pulau Komodo dengan kapal Phinisi di awali dengan tiba di lokasi Pantai Pink dengan hamparan air biru yang jernih bahkan sangat jernih, sehingga untuk melihat indahnya pemandangan dalam laut tidak perlu diving, cukup snorkeling sudah bisa memuaskan dahaga mata akan keindahan bentangan alam baik di darat maupun di laut, semuanya menyajikan kecantikan alam yang sayang bila terlewat.

Pantai Pink, Pulau Komodo
Hamparan laut Pantai Pink : Gambar dari sini
Lanjut ke acara berikutnya, yaitu trekking di Pulau Rinca, dan kapal pun mulai bergerak kembali ke Loh Buaya, salah satu spot untuk masuk ke Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca. Trekking di Pulau Rinca menyajikan pemandangan yang tidak kalah cantiknya dari atas bukit, hingga akhirnya bertemu dengan seekor komodo yang sedang bermalas-malasan...yeah komodo memang memiliki gerak tubuh agak lamban dengan penampakan yang nyaris seperti binatang purba. Meskipun demikian Komodo merupakan satwa langka yang di lindungi pemerintah, termasuk tempat tinggalnya yang termasuk dalam cagar alam Taman Nasional Komodo. Dan perjalanan tim Terios 7 Wonders berakhir di pulau Komodo ini menyisakan sejumlah kenangan bagi para pesertanya.

Komodo
Salah satu species Komodo : Gambar dari sini
Setelah puas menjelajah pulau Komodo, akhirnya tim Terios 7 Wonders kembali ke Labuan Bajo untuk bersiap-siap kembali pulang ke daerah asal membawa sejuta kisah dan kenangan perjalanan selama 13 hari berpetualang bersama "Terios 7 Wonders".

EPILOG : CATATAN PERJALANAN TERIOS 7 WONDERS MENYUSURI HIDDEN PARADISE UNTUK INDONESIA

Petualangan Terios 7 Wonders menyusuri Hidden Paradise di Indonesia selama 14 hari yang di mulai dari Desa Sawarna, Banten hingga berakhir di Pulau Komodo membuktikan bahwa ada banyak destinasi wisata di Indonesia yang belum tergarap dengan maksimal, padahal jika tergarap maksimal akan meningkatkan industri pariwisata Indonesia. Perjalanan Terios 7 Wonders menyambangi 7 destinasi wisata perawan yang masih menunggu uluran tangan untuk digarap lebih maksimal, tentu saja menimbulkan romantisme tersendiri, sebuah romantisme di antara pantai-pantai indah yang tersembunyi di balik pemukiman penduduk atau hutan belantara, romantisme kenangan masa lalu yang menjadi saksi bisu keganasan terjangan awan panas Gunung Merapi, sunrise indah di tepi danau Ranupani kawasan Tengger, aroma gersangnya daun-daun hamparan sabana di Taman Nasional Baluran, wisata budaya suku sasak di Lombok, merasakan nikmatnya minum susu kuda liar fresh from oven di Sumbawa, dan terakhir menyelam di pantai Pink Pulau Komodo dengan pemandangan dalam laut yang indah. Ingin ke sana? saya pun ingin ke sana dan merasakan langsung perjalanan wisata menyusuri tempat-tempat indah yang tersembunyi di Indonesia.

Courtesy : Harris Maulana From Youtube

 
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog "Terios 7 Wonders, Sahabat Petualang" yang diselenggarakan PT. Astra Daihatsu Motor dan Viva.

Sumber referensi tulisan dan foto :
  1. http://daihatsu.co.id
  2. http://simplyindonesia.wordpress.com
  3. http://maulanaharris.blogdetik.com













Mutia Erlisa Karamoy
Mutia Erlisa Karamoy Mom of 3 | Lifestyle Blogger | Web Content Writer | Digital Technology Enthusiast | Another Blog seputarbunda.com | Contact: elisakaramoy30@gmail.com

2 komentar untuk "ROMANTISME PERJALANAN TERIOS 7 WONDERS MENYIBAK HIDDEN PARADISE DI INDONESIA"