PERTUKARAN PEMUDA, STRATEGI LAOS MEMBANGUN INVESTASI SUMBER DAYA MANUSIA

Pada KTT ASEAN ke-9 di Bali tahun 2003, para kepala negara ASEAN menyepakati pembentukan komunitas ASEAN dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya yang dikenal dengan Bali Concord II. Untuk pembentukan ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015, ASEAN menyepakati perwujudannya diarahkan pada integrasi ekonomi kawasan yang implementasinya mengacu pada AEC Blueprint. Dalam Blueprint memuat empat pilar utama :
  1. Aliran bebas barang dan jasa, investasi, tenaga kerja terdidik, dan aliran modal yang lebih bebas.
  2. Daya saing ekonomi tinggi dengan elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastruktur, perpajakan, e-commerce.
  3. Pengembangan ekonomi merata dengan elemen pengembangan usaha kecil dan menengah dan prakarsa integrasi ASEAN untuk negara CMLV.
  4. Terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global. 
Dengan kondisi perekonomian yang berbeda, negara-negara ASEAN berusaha berkomitmen untuk tetap melaksanakan terwujudnya Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, terutama Laos atau Republik Demokratik Rakyat Laos yang baru bergabung menjadi anggota ASEAN pada tanggal 23 Juli 1997. Dalam rangkaian kegiatan mensosialisasikan Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, maka kita perlu sedikit mengenal Laos secara lebih dekat.

SEKILAS TENTANG NEGARA REPUBLIK DEMOKRATIK RAKYAT LAOS

Laos adalah negara yang terkurung daratan di Asia Tenggara, berbatasan dengan Myanmar dan Republik Rakyat Cina di sebelah barat laut, Vietnam di timur, Kamboja di selatan, dan Thailand di sebelah barat. Dari abad ke-14 hingga abad ke-18 negara ini di sebut Lan Xang atau Negeri Seribu Gajah.

letak negara laos
Peta letak negara Laos 
Awal sejarah Laos didominasi oleh kerajaan Nanzhao, yang diteruskan pada abad ke-14 oleh kerajaan lokal Lan Xang yang berlangsung hingga abad ke-18, setelah Thailand menguasai kerajaan tersebut. Kemudian Perancis menguasai wilayah ini pada abad ke-19, hingga negara ini memerdekakan diri pada tahun 1949 dengan nama kerajaan Laos di bawah pemerintahan Raja Sisavang Vong. Pada tahun 1975, Komunis Pathet Lao mengulingkan Raja Sisavang Vong dan mengganti nama Kerajaan Laos menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos, pemerintahan ini masih berdiri hingga saat ini.

Laos mempererat hubungannya dengan Vietnam dan mengendurkan larangan ekonominya pada dekade akhir 1980-an dan masuk menjadi anggota ASEAN pada tahun 1997. Pada tahun 2003, Pemerintah Laos mencanangkan Governance Reform Programme bagi pelayanan publik, partisipasi publik, supremasi hukum, dan manajemen keuangan nasional. Saat ini Laos dengan dibantu lembaga-lembaga donor internasional, negara sahabat serta ASEAN, tengah berupaya melepaskan diri dari status LDC, yang ditargetkan tercapai pada tahun 2020.

Mulai mantapnya stabilitas nasional Laos berdampak positif bagi peningkatan investasi asing yang masuk dan makin meningkatnya confidence Laos dalam menyelenggarakan even-even besar berskala internasional. Terakhir pada 20-21 November 2007 Laos sukses menyelenggarakan Pertemuan Tingkat Menteri Francophonie ke-23 dan tuan rumah Sea Games 2009.

Terkait upaya penguatan postus regional, Laos berpijak pada visi Land Linked Country dan Battery of ASEAN, memanfaatkan peran vital sebagai hub bagi pertumbuhan ekonomi di ASEAN. Komitmen kuat Laos pada ASEAN nampak pada ratifikasi Piagam ASEAN pada 20 Februari 2008 lalu. Dalam Konstelasi Greater Mekong Sub Region, Laos tetap memandang Vietnam sebagai political reference point meskipun saat ini Republik Demokratik Rakyat Laos mulai menunjukkan pengaruh kuat sebagai Developing Partner.

Dalam bidang ekonomi, Laos berkiblat pada keberhasilan Vietnam dan menjadi negara sosialis dengan ekonomi pasar yang terkendali. Selain itu, komitmen pada pencapaian MDG, rencana aksesi ke WTO dan rencana pemberlakuan AFTA diharapkan akan makin mendorong harmonisasi instrumen hukum dan peningkatan kapabilitas sumber daya manusia selaras dengan penerapan transparansi, akuntabilitas, dan Good Governance di Laos. Dan terkait dengan pemberdayaan masyarakat, Laos tengah mengupayakan pengalihan mata pencaharian bagi kelompok etnis di Golden Triangle untuk meninggalkan budidaya opium. 

PERTUKARAN PELAJAR, STRATEGI LAOS MEMBANGUN SUMBER DAYA MANUSIA

Menyongsong era diberlakukannya Komunitas ASEAN 2015, negara-negara ASEAN mulai berbenah diri demi menciptakan suasana yang kondusif, dan sesuai dengan konsep Komunitas ASEAN 2015 yaitu untuk menciptakan komunikasi yang baik antar masyarakat negara yang satu dengan negara lainnya dalam lingkup komunitas ASEAN. Salah satu komponen yang paling penting dari rencana tersebut adalah menyiapkan sumber daya manusianya, hal ini penting karena masyarakat yang lebih siap dengan sendirinya akan mempermudah pencapaian tujuan-tujuan dari dibentuknya Komunitas ASEAN 2015.

salah satu sudut kota di laos
Salah satu sudut kota di Laos
Laos, sebagai negara yang belum terlalu berperan dalam ASEAN menyadari arti penting membangun sumber daya manusianya, karena rancangan rencana yang bagaimanapun hebatnya hanya akan terbuang percuma jika masyarakatnya belum memiliki kesadaran untuk meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik. Dalam rangkaian persiapan menuju diberlakukannya Komunitas ASEAN 2015, Laos mulai membenahi satu demi satu infrastruktur yang menunjang eksistensi Laos kelak pada tahun 2015. Selain bidang ekonomi dan pertahanan keamanan, Laos mulai membidik meningkatkan kapabilitas sumber daya manusianya agar mampu menembus persaingan global yang bukan tidak mungkin akan terjadi. Sebagai negara dengan jumlah penduduk lumayan besar, Laos tidak mungkin berpangku tangan menyaksikan tenaga-tenaga trampil dari luar negeri berdatangan dan mengisi pekerjaan-pekerjaan strategis di negaranya. 

Meningkatkan daya saing secara global, terutama melalui bidang pendidikan yaitu dengan melakukan Program Pertukaran Pemuda merupakan Investasi Diplomatik yang dimanfaatkan oleh Laos untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, dimana investasi ini diharapkan mampu memberikan manfaat bukan hanya sekarang tapi juga masa yang akan datang. Dengan harapan, negara-negara ASEAN lain yang jauh lebih mapan dalam bidang pendidikan mampu membawa pengaruh positif bagi kemajuan generasi muda Laos, terutama dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.  

Pemerintah Laos mengharapkan bahwa dengan diselenggarakan program pertukaran pemuda, generasi muda Laos bukan hanya mempelajari budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat negara yang dituju, akan tetapi yang lebih penting daripada itu membuka wawasan baru bagi pemudanya sebagai modal dasar untuk membangun bangsa kelak. Selain itu, dengan masuknya pemuda negara lain ke Laos, maka Laos dapat memperkenalkan budaya dan kehidupan masyarakatnya, dengan harapan pemuda-pemuda tersebut memiliki hubungan keterikatan dan bukan tidak mungkin pemuda yang dipertukarkan akan menjadi pemimpin baru di masa depan.

Selain berdampak pribadi bagi peserta, pertukaran pemuda juga berdampak secara pribadi pada keluarga yang menjadi penerima peserta (host family) dan juga orang-orang di lingkungan baru peserta pertukaran pemuda. Hal ini disebabkan karena sedikit banyak, kehadiran pemuda dengan latar belakang yang berbeda akan memberikan pengaruh pada kehidupan sehari-hari host family dan lingkungan sekitarnya. Host Family dan orang-orang di lingkungan sekitar mempunyai kesempatan untuk mempelajari hal-hal baru termasuk kebudayaan baru, dimana pada tahap selanjutnya akan memberikan perspektif atau cara pandang baru yang akan mengubah bahkan memperbaiki kehidupan mereka.

Manfaat pertukaran pemuda tidak hanya berhenti pada manfaat yang hanya bisa dirasakan oleh peserta dan host family secara pribadi. Lebih lanjut, ikatan yang kuat antara peserta dan host family serta adanya international perspective yang di dapat para pihak selama pertukaran pelajar akan berdampak pada hubungan diplomatik antarbangsa di masa depan. Dengan pertukaran pemuda ini, Laos mengharapkan akan lahir generasi yang memiliki kesadaran tinggi akan toleransi internasional, nilai-nilai penghormatan kepada bangsa dan budaya lain, dan pentingnya kerjasama antar bangsa. Ikatan yang timbul selama masa pertukaran pemuda itu akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan diambil apabila di masa depan salah satu peserta mempunyai kesempatan untuk menduduki jabatan strategis baik secara langsung atau tidak langsung bertindak selaku pengambil keputusan baik untuk Laos di masa depan maupun di negara asal peserta.

Paling tidak Program Pertukaran Pemuda ASEAN ini akan memberikan manfaat dua arah bagi Laos yang sedang gencar-gencarnya membangun potensi sumber daya manusianya. Bukan hanya bagi pemuda Laos yang menjadi peserta program tersebut, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitar yang menjadi rumah tinggal peserta dari negara ASEAN lain. Saling mempelajari budaya, cara hidup, pandangan hidup, dan nilai-nilai lainnya, akan membuka saluran informasi baru bagi masyarakat Laos untuk mengejar ketertinggalannya dari negara-negara ASEAN lainnya, dan juga dalam rangkaian persiapan sumber daya manusianya menuju diberlakukannya Komunitas ASEAN 2015. Dan secara tidak langsung, program ini merupakan bentuk dukungan pemerintah Laos untuk ikut menyukseskan berjalannya program besar ASEAN tersebut. Masyarakat Laos akan lebih siap dan lebih mengenal negara-negara ASEAN lain melalui peserta yang akan tinggal di negaranya. Harapan selanjutnya yang lebih besar lagi, tujuan ideal yang termaktub dalam pilar-pilar Komunitas ASEAN 2015 akan terlaksana dengan mulus dan tanpa kesulitan yang berarti. Semoga...dan mari kita doakan bersama.

Sumber tulisan :
  1. http://id.wikipedia.org
  2. http://www.kbrivientiane.org/
  3. http://pewarta-indonesia.com
Mutia Erlisa Karamoy
Mutia Erlisa Karamoy Mom of 3 | Lifestyle Blogger | Web Content Writer | Digital Technology Enthusiast | Another Blog seputarbunda.com | Contact: elisakaramoy30@gmail.com

Posting Komentar untuk "PERTUKARAN PEMUDA, STRATEGI LAOS MEMBANGUN INVESTASI SUMBER DAYA MANUSIA"