DEAR SON, BERSAMAMU MENGUKIR CERITA BAGAI SAJAK YANG TAK PERNAH USAI

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
mereka adalah anak laki-laki dan perempuan
dari kehidupan itu sendiri.

Mereka hadir melalui dirimu, 
namun bukan darimu,
dan meskipun mereka bersamamu,
mereka bukan milikmu.

Kamu mungkin bisa memberi mereka cintamu,
tapi bukan pikiranmu,
karena mereka punya pikiran sendiri.
(penggalan karya Kahlil Gibran)

Kelahiranmu dengan proses panjang
Dear Son...hari itu tanggal 26 Juli 2003, dirimu hadir melalui diriku ke dunia ini, setelah melewati satu hari satu malam yang penuh dengan perjuangan antara rasa sakit yang amat sangat dan rasa bahagia menunggu kehadiranmu setelah nyaris sembilan bulan kita melangkah dan berbagi bersama. Jalan yang dilalui memang tidak mudah, setelah jam demi jam berlalu tanpa ada kepastian kapankah kau segera hadir ke muka bumi ini, akhirnya dokter mengambil keputusan kau akan dikeluarkan paksa dengan alat bantu karena sudah terlalu lama. Dengan tubuh yang sedikit membiru dan kepala yang agak sedikit aneh karena tarikan alat itu, dirimu hadir ke dunia ini dan melengkingkan tangis pertamamu, melegakan dan membahagiakan. Kami memberi nama untukmu "Berryl Darin Ario", dengan harapan kau akan selalu menjadi permata hati kami yang berharga, yang kuat dan tegar seperti seorang laki-laki yang sesungguhnya, karena hidup yang akan kau lalui kelak akan keras dan penuh perjuangan.

Dear Son...ditengah perjuangan kami untuk belajar menjadi orangtua, dirimu hadir membawa banyak cerita baru dan pelajaran baru, bahwa menjadi orangtua ternyata merupakan proses belajar seumur hidup dan tak akan pernah usai. Banyak kejutan-kejutan baru yang kau bawa dalam kehidupan kami...nak. Pertama kali kau yang masih begitu ringkih dan kecil harus kami relakan disedot cairan dari kepalamu, sebagai proses lanjutan kelahiranmu yang ditarik paksa dengan alat bantu. Sedih...tentu saja, hati ini rasanya amat teriris. Namun seiring berjalannya waktu, kau tumbuh sehat meskipun agak terlambat untuk berjalan di usia satu tahun setengah, namun selanjutnya kau tumbuh nyaris tanpa ada kendala apapun, yah...terkadang kau batuk, pilek, atau demam.

Berryl berusia 3 tahun
Dear Son...masih lekat dalam ingatan, lambaian tangan mungilmu yang nyaris tidak pernah absen mengiringi langkah mama setiap akan berangkat bekerja, "cepet pulang" selalu itu yang kau ucapkan ketika kita nyaris sudah berada pada jarak yang cukup jauh, namun terdengar jelas di telinga mama. My Son, itulah alasan pertama ketika mama harus rela melepas status sebagai wanita pekerja dan mengantinya dengan status sebagai ibu rumah tangga. Ada banyak waktu yang kemudian kita habiskan bersama dan ribuan cerita hingga empat tahun setengah kemudian adikmu hadir di antara kita, dan mama tidak pernah lupa binar bahagia dan takjubmu ketika pertama kali melihat kehadiran adik laki-lakimu  (meskipun sekarang kalian sering bertengkar).

Berryl Darin Ario
Berryl genap 10 tahun
Dear Son...kini tahun-tahun telah berlalu, hingga bulan Juli lalu kau genap berusia sepuluh tahun. Sudah banyak yang berubah dalam dirimu, meskipun kita tetap sering berkomunikasi namun sekarang kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temanmu. Entahlah...kau kini sedikit agak sulit dimengerti, untuk hal-hal kecil nyaris selalu saja ada perdebatan diantara kita. Soal membeli baju atau celana, kau kini memiliki pilihan sendiri yang terkadang pilihanmu itu membuat mama mengeryitkan dahi, tapi kau keukeuh dengan pilihan anehmu itu. Lain waktu, kadang kita bersoal masalah kegemaranmu mengumpulkan mobil-mobil miniatur yang menurut mama hanya memboroskan uang yang semestinya bisa kau tabung, apalagi setahun lagi kau akan memasuki jenjang sekolah menengah. Meskipun mama akui, kau memiliki kelebihan sanggup menyisihkan uang dan tidak begitu suka jajan sembarang.

Dear Son...akhirnya kini mama menyadari, kau telah memasuki usia pra remaja, kau mulai mencari-cari sesuatu yang sebagai pegangan hidup dan juga mulai berusaha keluar dari sarangmu yang selama ini dengan nyaman telah menaungimu. Ah...Son, mungkin mama harus pintar-pintar mencari peluang untuk tetap masuk dan menjagamu dari segala hal yang menimbulkan dampak negatif, meskipun agak sulit karena kau sudah mulai agak sedikit membangkang, bahkan hanya sekedar menyuruh kau mandi saja harus melalui perdebatan yang panjang, meskipun mama bersyukur kau tetap tekun melaksanakan sholat. Setidaknya hal itu merupakan contoh yang baik untuk adik-adikmu. Maafkan mama jika terkadang terlalu menginginkanmu dan membebanimu untuk menjadi seorang kakak yang baik, karena seperti halnya kami belajar menjadi orangtua, kaupun bertahap belajar untuk menjadi seorang kakak yang baik.

Dear Son...rupanya benar, bagaimanapun mama menyayangimu dan bertahun-tahun merawat serta menjagamu, kau tetaplah memiliki kehidupan dan pikiran sendiri. Meskipun atas nama cinta, kami memberikanmu semua fasilitas yang bisa kami berikan, kau tetap mencari-cari hal lain di luar itu, seperti kau dirumah memiliki PS tapi kau tetap ingin mencoba bermain PS di rental, tahukah nak...mama sangat kuatir karena takut kau akan melihat hal-hal yang seharusnya belum pantas untuk kau lihat. Tapi kau bukan anak kecil lagi yang selalu mama ikuti atau dikurung dirumah jika mama memilliki banyak pekerjaan, kau sudah memiliki teman-teman dan duniamu sendiri. Dua tahun lalu setelah kau disunat, mama mulai menyadari kau akan mulai beranjak remaja, dan masa remaja penuh gejolak akan dimulai, dengan tanda-tanda yang kini sudah mulai agak kelihatan dari sikap keras kepalamu itu. 

Dear Son...hari ini tanggal 13 September 2013, mama menorehkan satu catatan yang entah kapan akan kau baca atau mungkin tidak akan pernah kau baca, bahwa kehadiranmu telah membawa banyak pelajaran dalam hidup kami, belajar tentang kesabaran, kerja keras, bijaksana, dan semua hal-hal yang semoga bisa kau petik manfaat positifnya, dan lupakan negatifnya karena kami hanya manusia biasa yang terus belajar dari detik ke detik untuk menjadi manusia dan orangtua yang lebih baik. Mama menyadari kelak kau akan melesat bagai anak panah mencari kehidupan baru, namun jangan pernah lupakan kami disini karena tidak banyak yang mama harapkan kecuali kelak kau tidak akan lupa mendoakan kami dan menjadi anak yang teguh di jalan-Nya. Banyak cerita yang telah kita lalui bersama bagaikan sajak yang hanya sebaris kalimat namun memiliki arti yang sangat dalam, dan dalamnya ikatan itu hanya kita yang bisa rasakan, seperti dulu ketika kau masih berada di kandungan mama, kita akan terus mempunyai bahasa yang hanya kita berdua bisa memahaminya. Semoga hal ini bisa menuntunmu menuju jalan terang untuk masa depanmu dan tercapainya cita-citamu, dan menjadi tongkat penuntun adik-adikmu yang baik dan bijaksana.

Terima kasih untuk tongkat estafet yang Mak Lina K Sari berikan sehingga bisa membentangkan sedikit cerita suka dan duka selama mendidik dan membesarkan putra sulungku tercinta yang mulai merangkak remaja dan mulai mencari-cari jati dirinya. Selanjutnya tinggal menunggu Mak Elisa Koraag membagi sebagian cerita dalam #DearSon.

Cerita ini kupersembahkan untuk #DearSon dan untuk Putra Pertamaku yang saat ini telah memasuki usia pra remaja "Berryl Darin Ario", serta untuk Kumpulan Emak Blogger yang selalu memberikan inspirasi dan motivasi terus menulis.
Mutia Erlisa Karamoy
Mutia Erlisa Karamoy Mom of 3 | Lifestyle Blogger | Web Content Writer | Digital Technology Enthusiast | Another Blog seputarbunda.com | Contact: elisakaramoy30@gmail.com

5 komentar untuk "DEAR SON, BERSAMAMU MENGUKIR CERITA BAGAI SAJAK YANG TAK PERNAH USAI"

Comment Author Avatar
Iyes, anak-anak selalu membawa pelajran baru. proses balajar menjadi orang tua tak pernah usai, setuju banget sama syair khalil gibran itu.. Sedih, keinget anakku kadang jg suka nangis kalo mau ditinggal kerja, jadi bkn cuma lambaian tangan kan yaa
Comment Author Avatar
Cerita yang ditulis mak Elisa tentang Berryl, bikin haru, speechless.
Semoga menjadi kenangan indah buat Berryl ya,
Terima kasih sudah mau berbagi di #DearSon :)
Comment Author Avatar
BEner haru biru dan merasa wonderful pisan menjadi ortunya
Comment Author Avatar
Makasih Mak-mak semua, menjadi orangtua seperti sekolah seumur hidup dengan ijazah yang langsung diberikan oleh-Nya. Semoga tidak ada angka merah dalam ijazah yang kelak kita terima.
Comment Author Avatar
Berryl tahu mamanya sangat menyayangi dan mencintainya. Dari anak2lah kita sebagai orang tua bisa belajar untuk menjadi bijak :)