Kamis, 12 Desember 2013

BLENDED LEARNING, SOLUSI PENERAPAN E-LEARNING DI INDONESIA


Courtesy : TheBlendedChannel, From Youtube

Konsep E-Learning dalam sistem pendidikan di Indonesia bukanlah hal baru, bahkan di sekolah-sekolah yang bertaraf internasional telah menggunakan metode ini sebagai salah satu cara pembelajaran terhadap siswanya. Penerapan konsep ini menjadi lebih mudah karena sebagian besar siswanya mengenal teknologi ini, bahkan sangat familiar dalam penggunaannya karena konsep dasar e-learning sangat dekat dengan keseharian siswa tersebut. Selain itu, rata-rata guru yang mengajar di sekolah tersebut merupakan guru-guru dengan kualitas pilihan dan telah teruji kapabilitasnya dalam berbagai metode pengajaran. Penerapan konsep ini tentu tidak menimbulkan permasalahan yang besar. Lalu, bagaimana dengan siswa-siswa yang belajar jauh dari sentuhan teknologi, bahkan belum mengenal teknologi secara benar sebagai salah satu sumber pembelajaran, dan celakanya jumlah siswa tersebut hampir mendominasi jumlah siswa sekolah di Indonesia secara keseluruhan. kondisi ini harus segera dicarikan solusinya, karena siswa-siswa tersebut akan menjadi ujung tombak generasi bangsa seterusnya dan mereka harus hidup dalam dunia masa depan yang perkembangan teknologi-nya terus berubah setiap detik.

Sistem pendidikan di Indonesia memang masih kental dengan aroma tradisional, terutama dalam cara belajar-mengajar yang semuanya masih terpusat pada satu sumber, yaitu guru dengan bahan ajar berupa buku. Dalam konsep belajar-mengajar seperti ini, umumnya siswa hanya sebagai penyimak atau pendengar, dan selama bertahun-tahun pola pendidikan seperti ini telah mengakar dalam sistem pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Namun zaman sudah berubah, teknologi sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat dan modern, demikian juga dalam metode pendidikan juga banyak mengalami perkembangan ke arah prinsip keterkinian. Di mana dalam prinsip keterkinian baik guru maupun siswa cenderung menggunakan metode pembelajaran yang sifatnya modern, entah itu dalam bentuk teknologi informasi dan komunikasi yang dipakai, bahan ajar, atau yang lainnya.

Dengan dasar prinsip ini, maka konsep pembelajaran berbasis e-learning sangat membantu dalam penyampaian materi sehingga menarik dan memikat serta memotivasi siswa untuk lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan. Sayangnya, tidak semua sekolah di Indonesia bisa menikmati sistem pembelajaran modern karena akses untuk mendapatkan kemudahan teknologi tersebut masih sangat terbatas, di samping itu pola pembelajaran yang tradisional masih kuat dan sulit untuk di rubah. Melalui mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), diharapkan siswa dapat mengenal teknologi modern, meskipun hanya sebatas pengetahuan dan umumnya belum dipraktekkan. Di samping kendala dalam hal penyediaan perangkatnya, juga masih terbatasnya akses internet dan guru sebagai tutornya.

Oleh karena itu, salah satu alternatif metode pembelajaran e-Learning yang tepat digunakan saat ini adalah Metode Blended Learning, yaitu metode pembelajaran yang menggabungkan sistem pembelajaran berbasis kelas (face to face) dan pembelajaran yang berbasis e-Learning, yaitu dengan memanfaatkan media elektronik. Melalui metode ini, proses pembelajaran dengan cara face to face di support dengan metode e-Learning sehingga lebih interaktif dan manfaat pembelajaran lebih optimal, karena setiap siswa memiliki gaya yang berbeda dalam menyerap pelajaran sesuai dengan karakter pribadinya.

BLENDED LEARNING, SOLUSI PENERAPAN E-LEARNING DI INDONESIA

Pendidikan di Indonesia masih sangat kental dengan metode konvensional, di mana sumber pengetahuan utama hanya dari guru. Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi, metode ini rasanya kurang relevan bila masih dipakai sebagai satu-satunya sumber untuk mentransfer ilmu kepada siswa. Namun yang menjadi permasalahannya, meskipun sebagian besar siswa mengenal teknologi dengan cukup baik, tapi hanya sedikit yang mempergunakan teknologi tersebut sebagai sumber tambahan untuk belajar. Ada banyak alasan, diantaranya ; belum memahami caranya atau kurang antusias untuk mempergunakannya. Di tambah lagi dengan kondisi geografis Indonesia yang sarana dan prasarana pendidikannya jauh dari memadai, sehingga proses belajar-mengajar terasa sangat jauh dari sentuhan teknologi. Plus permasalahan tambahan, dimana keterbatasan guru sebagai pihak yang seharusnya mentransfer ilmu belum memahami seluk-beluk penggunaan teknologi secara luas. Kenyataan-kenyataan inilah yang membuat penerapan metode e-Learning untuk sekolah di Indonesia masih banyak mengalami kendala, di samping faktor teknis seperti jaringan internet, ketersediaan komputer, dan sebagainya.

Metode Blended Learning
Bagan Metode Blended Learning : Sumber
Namun bukan berarti tidak ada solusi atau jalan keluar, karena dengan metode Blended Learning, guru dan siswa secara bertahap beradaptasi dengan kemajuan teknologi pendidikan namun tetap didukung metode yang biasa di lakukan yaitu tatap muka. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam metode Blended Learning ada dua komponen pokok yaitu pengajaran dengan cara konvensional (tatap muka) dan melalui media elektronik. Blended Learning berangkat dari kelebihan yang terdapat pada cara pembelajaran secara tradisional, sehingga Blended Learning bertujuan untuk menggabungkan e-Learning dengan kelebihan yang ada pada pembelajaran tradisional. Dalam bahasa praktisnya, metode Blended Learning menawarkan kemungkinan untuk memperoleh keuntungan dari suatu kelas yang mendukung interaksi secara langsung dan fleksibilitas dari pembelajaran secara online.

Secara spesifik Profesor Steve Slemer (2005) dan Soekartawi (2005) menyarankan enam tahapan dalam merancang dan menyelenggarakan Blended Learning agar hasilnya optimal, yaitu :
  1. Tetapkan macam dan materi bahan ajar.
  2. Tetapkan rancangan dari Blended Learning yang digunakan.
  3. Tetapkan format dari on-line Learning.
  4. Lakukan uji terhadap rancangan yang dibuat.
  5. Selenggarakan Blended Learning dengan baik dengan cara menyiapkan tenaga pengajar yang ahli dalam bidang tersebut.
  6. Siapkan kriteria untuk melakukan evaluasi pelaksanaan Blended Learning.
Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini, khususnya perkembangan teknologi internet telah memacu perubahan trend dalam dunia pendidikan. Dalam rangkaian pemanfaatan teknologi untuk pendidikan, maka sekolah-sekolah paling tidak harus mulai membangun atau memiliki satu website sekolah yang memuat content selain sifatnya informatif juga sebagai penghubung antara pihak sekolah dalam hal ini guru dengan siswa, termasuk didalamnya akses informasi untuk orangtua siswa. Dengan semakin canggihnya dunia internet, membangun sebuah website bahkan yang gratis sudah bukan hal yang sulit karena dengan mudah setiap orang bisa memiliki website. Sebuah website sekolah yang mobile, sehingga bisa diakses semua siswa dari smartphone atau handphone biasa.

Dengan membangun dan memiliki website sendiri, langkah awal untuk mulai menerapkan metode Blended Learning bisa diwujudkan, karena pada dasarnya metode Blended Learning merupakan :
  • Proses belajar-mengajar tidak hanya tatap muka, namun menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dunia maya.
  • Salah satu cara untuk mempermudah dan mempercepat proses komunikasi non-stop antara guru dan siswa.
  • Membantu proses percepatan pengajaran materi bahan ajar.
  • Sebagai pressure agar siswa mulai belajar memanfaatkan teknologi dengan benar dan untuk tujuan yang bermanfaat, sekaligus memahami bahwa selain hiburan teknologi juga bisa memperkaya pengetahuan sekaligus bahan pembelajaran.
Metode Blended Learning dengan salah satu komponen pembelajarannya yang menggunakan media interaktif merupakan salah satu solusi untuk menyesuaikan gaya belajar siswa dengan cara mengajar guru. Hal ini menjadi penting, karena proses transformasi materi dari guru kepada siswa harus tepat sasaran dan bisa dimengerti oleh siswa, sehingga proses belajar mengajar bisa berlangsung dengan baik dan menghasilkan generasi yang terdidik, yang mampu bersaing dan menjawab tantangan masa depan, serta berprestasi.

Lomba Blog Pendidikan XL Axiata

Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Blog Pendidikan, Dalam Rangka Memperingati Hari Guru 25 November" yang diselenggarakan XL Axiata.

Sumber referensi tulisan :
  1. Blended Learning, Model pembelajaran kombinasi E-Learning dalam Pendidikan Jarak Jauh, Dodon Yendri, M.Kom, Universitas Andalas.
  2. http://mardiahhasyim.wordpress.com/2012/07/25/peran-blended-learning-bagi-pembelajaran-bahasa-indonesia-di-sekolah/




1 komentar:

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...