Sabtu, 14 Januari 2017

Gangguan Phobia? Segera Atasi Sedini Mungkin

Dulu saya tidak pernah tahu jika gangguan kecemasan yang saya alami jika dekat-dekat dengan air dalam jumlah yang banyak, seperti di laut, di kolam renang, dan tempat lainnya adalah gangguan kecemasan yang di sebut Phobia. Walhasil...saya hampir tidak pernah cemplung ke kolam renang, jika ada ujian praktek saya ngendon di kolam renang anak-anak, itu pun bisa dikatakan cuma cuci kaki saya karena badan saya nyaris tidak basah. Tapi...jangan salah nilai mata pelajaran olahraga saya tetap bagus karena saya imbangi dengan teorinya. Berlanjut hingga sekarang karena sejak anak saya bayi hingga SMP saya tidak pernah menemani mereka di kolam renang, kalaupun ikut saya hanya duduk-duduk menunggu di pinggir kolam saja, karenanya saya tidak pernah mengajak anak-anak berenang ketika kecil (kecuali bersama ayahnya) sampai anak-anak berani berenang sendiri. Penyebabnya ternyata tidak lain dan tidak bukan yah si phobia  😓 yang sudah mendarahdaging ini.

Gangguan kecemasan atau phobia

Dulu saya tidak pernah berpikir bahwa gangguan ini sangat menganggu karena saya dibesarkan di kota yang relatif tidak terlalu banyak spot pantai, kolam renang, atau yang berhubungan dengan air dalam jumlah yang banyak. Namun tidak setelah beranjak dewasa di mana cakrawala pandangan menjadi lebih luas dan mau tidak mau melihat betapa beruntungnya orang-orang yang tidak mengidap gangguan kecemasan ini atau kerap di sebut phobia. Bahkan, kondisi ini semakin diperparah ketika akhirnya saya merantau mengikuti suami menyeberang pulau, dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa. Bisa dibayangkan bagaimana gangguan kecemasan ini seringkali menyerang setiap kali pulang ke kampung halaman. Ratusan kali bolak-balik naik kapal, tidak pernah sekalipun saya menikmati perjalanan di tengah laut dari luar ruang penumpang. Biarpun anak-anak dan suami kerap asyik menikmati pemandangan laut di geladak kapal, saya hanya duduk anteng di dalam ruangan dan baru keluar setelah hampir tiba di dermaga.

Saya bukan tidak pernah mencoba menghilangkan gangguan kecemasan saya terhadap air atau phobia air ini. Entah sudah beberapa kali atau mungkin suami sudah bosan berusaha membantu saya untuk keluar dari gangguan ini, bahkan dengan cara yang terbilang ekstrim sekalipun, yaitu menghadapinya secara langsung dengan cara masuk ke salah satu tempat yang paling saya takuti, kolam renang. Namun usaha ini selalu berakhir dengan kepanikan, dan akibatnya bisa berhari-hari karena beberapa hari setelahnya saya masih bermimpi tenggelam, karena rasa takut yang teramat sangat. Berbekal pengalaman tersebut, saya tidak ingin anak-anak saya atau orang lain mengalami nasib yang serupa, karenanya meskipun saya takut atau phobia terhadap air, tapi sebisa mungkin anak-anak tetap saya temani jika ingin berenang.

Saya bisa memahami gangguan ini semakin menjadi karena informasi atau mungkin kepekaan orangtua dahulu belumlah seperti sekarang. Di tambah lagi sejak kecil hingga dewasa saya bertempat tinggal di kota kecil yang relatif tidak memiliki akses air dalam jumlah yang banyak seperti pantai atau kolam renang. Hal ini tentu saja membuat orangtua tidak terlalu peka akan gangguan kecemasan yang saya alami ini. Namun, zaman telah berubah dan seperti halnya saya yang kini telah menjadi orangtua, gangguan kecemasan dalam bentuk apapun yang dialami buah hati tercinta harus mulai dideteksi sedini mungkin, agar tidak menjadi semakin memperburuk keadaan setelah mereka tumbuh semakin besar dan semakin sulit dikendalikan/disembuhkan. Percayalah sungguh tidak menyenangkan jika kita mengalami gangguan kecemasan apapun bentuknya, entah itu phobia terhadap air, ketinggian, serangga tertentu, dan lainnya.

Meskipun demikian, bukan berarti gangguan kecemasan atau phobia ini tidak bisa dihilangkan atau dinetralisir, karena sesungguhnya ada banyak cara untuk mengatasi phobia ini, namun yang pasti deteksi dini terutama pada anak-anak menjadi tindakan awal yang sangat penting bagi orangtua karena sedini mungkin mendapat pertolongan akan membuat gangguan ini lebih mudah dihilangkan hingga ke titik nol. Namun, sebelum melangkah ke pembahasan bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi gangguan kecemasan atau phobia ini sedini mungkin, ada baiknya kita mengetahui faktor apa saja sih yang rentan menyebabkan seseorang bahkan anak kecil sekalipun mengalami phobia. Dari berbagai sumber, setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan seseorang rentan mengalami gangguan kecemasan atau phobia, yaitu :
  1. Faktor Keturunan, di mana gangguan kecemasan ini pernah dialami salah satu anggota keluarga, terutama yang paling dekat yaitu orangtua yang tanpa sadar menurunkan kecemasan ini kepada anak-anaknya.
  2. Faktor Lingkungan, terkadang kita tidak bisa memilih lingkungan di mana kita tinggal, dan kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan kepribadian atau keyakinan hidup kita kerap memunculkan rasa cemas yang berlebihan yang terus terakumulasi dan sulit dihilangkan seiring berjalanya waktu. Hal inilah kemudian yang menjadi cikal bakal gangguan kecemasan yang terus menguat seiring pertambahan usia, apalagi jika pernah terjadi suatu pengalaman yang terbilang sangat traumatis.
  3. Faktor Budaya, tradisi atau adat istiadat juga menjadi salah satu faktor yang turut menyumbangkan rasa cemas yang berlebihan yang dikemudian hari tumbuh menjadi gangguan kecemasan, meskipun seiring berjalannya waktu faktor budaya ini tidak terlalu signifikan lagi menyebabkan seseorang rentan mengalami gangguan kecemasan atau phobia.
Gangguan Kecemasan atau Phobia
Gangguan Phobia? Segera Atasi Sedini Mungkin

Tidak bisa tidak, gangguan phobia ini harus segera di atasi sedini mungkin, agar tidak semakin parah saat usia semakin dewasa dan gangguan semakin sulit untuk dihilangkan, persis seperti yang saya alami. Namun, untuk mendapatkan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi ada baiknya juga meminta pertolongan medis atau profesional yang memang ahli dalam bidang tersebut sehingga gangguan kecemasan ini bisa dideteksi dan di atasi dengan cara yang tepat serta sesuai dengan kondisi psikologis si penderita. Umumnya ada beberapa cara atau usaha untuk menyembuhkan serta menghilangkan gangguan kecemasan yang berlebihan atau phobia ini, diantaranya adalah :
  • Hypnotherapy, di mana proses penyembuhan dilakukan dengan cara memberikan sugesti kepada penderita untuk menghilangkan kecemasannya, dan proses ini tentu harus dilakukan berulang-ulang untuk mendapatkan hasil yang lebih tuntas.
  • Flooding, proses penyembuhan dengan cara menempatkan penderita pada obyek yang sangat ditakutinya, tentu harus dilakukan secara perlahan hingga penderita tidak merasa takut lagi dengan obyek tersebut. Saya pernah mecoba cara ini, dan pada awalnya memang terasa sangat sulit namun meskipun tidak tuntas sepenuhnya, setidaknya rasa panik saya saya berada pada obyek tersebut mulai berkurang lumayan drastis meskipun belum sembuh atau hilang sepenuhnya.
  • Reframing, proses pemyembuhan dengan cara membuat si penderita membayangkan kejadian masa lalu tersebut, dan menceritakan kejadian tersebut kepada seseorang yang menanganinya untuk kemudian diberikan sugesti tertentu. Yah...tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menceritakan hal traumatis apa yang pernah terjadi di masa lalu, karena orang cenderunf untuk mengubur atau melupakan kejadian yang tidak menyenangkan tersebut, karenanya usaha ini menjadi salah satu solusi untuk mengurangi atau bahkan menyembuhkan gangguan tersebut.
  • Obat-obatan, umumnya metode penyembuhan gangguan kecemasan ini dengan cara terapi obat-obatan kimia tertentu untuk mengurangi rasa cemas atau takut tersebut. Untuk beberapa kasus, cara ini bisa membantu menyembuhkan gangguan kecemasan yang dialami seseorang, namun tetap saja ada sisi-sisi yang membutuhkan pertimbangan lebih lanjut, seperti munculnya ketergantungan, dan sebagainya. Selain itu, pastikan cara ini harus di konsultasikan dengan seorang dokter atau yang ahli dalam bidang tersebut agar dosis yang diberikan sesuai kebutuhan si penderita.
Semakin dini memberikan terapi penyembuhan, maka hasil yang diperoleh akan semakin baik, karena seperti pengalaman saya setelah dewasa terapi apapun yang telah dilakukan kurang terasa efeknya. Ibarat penyakit menahun, gangguan kecemasan ini sudah menjalar ke setiap sendi dan sel-sel tubuh. Ngomong-ngomong tentang reaksi tubuh, ada beberapa gejala atau tanda yang biasanya dialami seseorang yang menderita gangguan kecemasan atau phibia, antara lain jantung terasa berdetak lebih kencang hingga terkadang dada terasa sakit, napas tidak beraturan atau sulit terkontrol, tubuh mengeluarkan keringat seperti keringat dingin, tubuh gemetar, kepala terasa pusing, terkadang badan terasa sangat lemas sampai mau pingsan, seperti ingin buang air, dan masih banyak lagi.

Memang orang berusia dewasa tanda-tanda semacam ini mudah terdeteksi, namun cukup sulit mendeteksinya pada anak-anak kecuali jika orang-orang disekitarnya peka dengan perubahan tingkah laku anak tersebut. Dulu ketika masih kecil saya mengungkapkan rasa cemas saya dengan menolak setiap kali di ajak ke tempat-tempat tersebut atau tidak mau dekat-dekat dengan lokasi tersebut, mungkin di sertai dengan tatapan yang panik. Reaksi fisik yang sekecil apapun yang ditunjukkan buah hati tercinta harusnya menjadi perhatian para orangtua, namun jangan berlebihan karena pada anak yang masih kecil ketakutan terhadap sesuatu yang baru bagi mereka tentunya hal yang wajar, bukan?

Namun menjadi lebih waspada jika kebetulan kita memiliki gangguan kecemasan atau phobia tersebut, karena hal tersebut rentan diturunkan kepada anak-anak, karena faktor keturunan menjadi salah satu pencetus gangguan kecemasan yang akan diderita generasi berikutnya. Untuk hal seperti ini dibutuhkan kesadaran dan kepekaan orangtua agar anak-anaknya tidak lagi mengalami permasalahan yang sama, gangguan kecemasan atau phobia yang sangat menghambat tumbuh kembang serta aktivitas anak-anak kelak di kemudian hari.

Senang rasanya bisa berbagi dan semoga bermanfaat!

Referensi tulisan :
http://www.infosehatkeluarga.com/7-cara-menghilangkan-phobia-rasa-takut-berlebihan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...