Senin, 23 Mei 2016

Hidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama Keluarga Di Rumah Karena Meja Makan Punya Cerita

"Having a place to go, is a home. Having someone to love, is a family. Having both, is a blessing," (Donna Hedges).

Saya menghabiskan masa kecil dan masa sekolah di sebuah kota kecil di Sumatera. Seperti umumnya kota-kota kecil lainnya, kehidupan masyarakat umumnya berjalan teratur, tenang, dan tidak terlalu hirup pikuk seperti kota-kota besar. Aktivitas masyarakat, meskipun sama dengan kota-kota lainnya termasuk di kota besar, seperti bekerja, bersekolah, berdagang, dan sebagainya, namun tidak terlalu menghabiskan banyak waktu di jalan, maklumlah umumnya kota kecil tidak kenal dengan yang namanya kemacetan. Saya ingat sejak SD hingga SMA, nyaris tidak pernah menumpang kendaraan umum dan semua ditempuh dengan berjalan kaki karena letak sekolah saya cukup dekat dengan rumah. Tidak hanya itu, akses ke pusat-pusat aktivitas masyarakat seperti tempat bekerja, pasar, dan sebagainya juga tidak terlalu jauh sehingga masyarakat lebih suka berjalan kaki dan kalaupun naik kendaraan juga tidak menghabiskan banyak waktu di jalan, cukup hanya beberapa menit saja sudah tiba di tempat tujuan.

Petite Blossom Tupperware
Meja makan akan selalu punya cerita (Dok : Pribadi)

Dengan kondisi ini, tentu saja pertemuan antar anggota keluarga sangat intens dan teratur sehingga makan bersama keluarga, entah itu makan pagi atau makan malam bukanlah menjadi sesuatu hal yang mewah karena bisa dilakukan nyaris setiap hari, dan bertambah menjadi makan siang bersama saat libur akhir pekan tiba. Hal inilah yang saya alami sejak kecil hingga remaja, di mana hampir setiap hari kami sekeluarga bertemu di meja makan untuk makan bersama dan tentu saja diselingi dengan perbincangan mulai dari aktivitas yang kami lakukan hari itu hingga cerita-cerita nostalgia zaman dahulu. Kebetulan ayah saya berasal dari daerah bagian timur Indonesia sehingga beliau merasa perlu untuk menceritakan daerah asalnya termasuk cerita tentang sejarah masa lalu keluarga besarnya kepada kami. Selain cerita-cerita nostalgia atau cerita aktivitas keseharian kami sekeluarga, makan bersama di meja makan juga membuat kami saling tahu kebiasaan masing-masing saudara, seperti kakak saya yang makan nasi harus berkuah dan jika ibu tidak memasak lauk yang berkuah, air minum bisa dijadikan kuah oleh kakak saya dan itu ternyata berlanjut hingga berkeluarga. Biasanya kebiasaan-kebiasaan unik inilah yang menjadi bahan candaan kami jika kebetulan bertemu dan berkumpul di masa sekarang. Andai ketika itu tidak ada tradisi makan bersama keluarga di rumah, tentu tidak banyak cerita yang bisa kami ceritakan kembali kepada anak-anak, tentang sejarah keluarga atau tentang kebiasaan unik di meja makan yang memiliki kesan mendalam setelah kami hidup terpisah bersama keluarga masing-masing.

Ternyata tradisi bercerita atau bahasa kerennya Storytelling di meja makan kembali berlanjut ketika saya melanjutkan kuliah dan tinggal bersama tante atau kakak ayah saya. "Like Brother Like Sister," ternyata kebiasaan bercerita di meja makan juga dilakukan oleh tante saya, tapi berbeda dengan ayah saya yang hanya bercerita sepintas lalu tentang cerita masa kecilnya di zaman penjajahan dan lebih banyak mendiskusikan aktivitas kami, tante saya jika sudah mulai bercerita membutuhkan waktu berjam-jam untuk selesai karena kisahnya sangat lengkap dan detail. Mungkin jika saat itu sudah ada blog, bisa saya tuliskan kembali secara detail cerita betapa masa kecil mereka sangat berat karena harus berpindah dari satu pulau ke pulau lain mengikuti kakek (Opa demikian kami memanggilnya) saya, tapi sayangnya sekarang saya agak sedikit lupa akan detail kisah tersebut. Namun, yang saya ingat betapa tradisi makan bersama keluarga di meja makan menjadi satu hal yang wajib bagi siapa saja yang tinggal bersama di rumah itu. Makan bersama di meja makan juga menjadi tempat bagi tante untuk menasehati saya atau anak-anaknya jika kami melakukan suatu tindakan yang kurang berkenan dihatinya. Hingga sekarang, jika kebetulan saya mengunjungi beliau, saya selalu menyempatkan diri untuk duduk di meja makan yang memiliki sejuta cerita masa lalu selama saya tinggal bersama keluarga beliau. Meja makan ternyata bisa menjadi sarana untuk mentransfer banyak hal antar anggota keluarga, baik nasehat, sharing, maupun sekedar bercerita tentang banyak hal yang mungkin berkesan bagi salah satu anggota keluarga.

Petite Blossom Tupperware
Hidupkan tradisi makan bersama keluarga  (Dok : Pribadi)
Namun, tradisi ngobrol atau bercerita bersama keluarga sambil makan di meja makan sedikit demi sedikit mulai megalami sedikit perubahan, termasuk dalam keluarga saya sekarang. Saat ini, kebetulan saya tinggal di kota yang merupakan salah satu kota penyangga ibukota Negara Indonesia, sehingga padat dan hirup-pikuknya kota besar turut saya rasakan selama tinggal di kota ini. Belum lagi jadwal sekolah anak-anak masa kini sungguh jauh berbeda dengan jam sekolah seperti ketika saya masih kecil dahulu. Bayangkan, dahulu ketika masih duduk di kelas 1 SD, saya hanya bersekolah dari jam 7.00 - 10.00 tapi tidak dengan anak-anak saya sekarang yang sejak kelas 1 SD sudah terbiasa dengan jam pelajaran yang panjang, mulai jam tujuh dan terkadang pulang hingga jam tiga sore, otomatis makan siang akan mereka habiskan di sekolah. Sarapan bersama? juga menjadi ritual yang sangat langka karena lalu lintas yang padat membuat anak-anak harus berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali agar tidak terlambat tiba di sekolah. Libur di akhir pekan? Biasanya anak-anak menghabiskan waktu untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, sehingga jarang sekali kami memiliki kesempatan untuk bercengkrama di meja makan seperti tradisi ketika saya masih kecil dahulu. Kalaupun makan malam bersama biasanya durasinya hanya sebentar karena anak-anak sudah dalam kondisi lelah dan ingin beristirahat. Suami? Ah...sama saja, aktivitas kerjanya yang lebih banyak di luar kantor ternyata mengharuskannya berangkat pagi-pagi sekali, dan meskipun pulangnya sore tapi kondisi lalu lintas yang cukup padat sepulang kerja membuatnya terkadang tiba di rumah menjelang magrib atau setelah lewat jam makan malam.

Jujur terkadang saya merindukan momen-momen indah sewaktu saya masih kecil dahulu, makan bersama keluarga di meja makan sambil bercerita tentang banyak hal atau sekedar mengulik kebiasaan unik anggota keluarga lain ketika makan. Meskipun sesekali kami masih makan bersama, namun durasinya sudaj sangat jauh berbeda, dan bisa dibilang tidak lagi menjadi tradisi karena bukan merupakan rutinitas yang harus dilakukan setiap hari. Namun, kita harus berdamai dengan kondisi dan keadaan di masa sekarang yang sudah jauh berbeda, di mana untuk masyarakat modern waktu adalah uang sehingga hampir setiap saat orang-orang selalu dikejar waktu. Belum lagi kepadatan lalu lintas yang turut menjadi faktor penyumbang sulitnya anggota keluarga bertemu untuk makan bersama karena jam tiba di rumah sangat fleksibel tergantung tingkat kemacetan lalu lintas pada saat pulang beraktivitas, sekolah, atau bekerja. Memang, beberapa kali kami sekeluarga makan bersama namun dilakukan di luar rumah sambil referesing bersama anak-anak, tapi biasanya anak-anak lebih tertarik untuk makan di tempat yang menyediakan beberapa permainan anak-anak sehingga anak-anak lebih tertarik untuk bermain dan cepat-cepat menghabiskan makanannya daripada duduk sambil mengobrol bersama orangtuanya. Rasanya momen makan bersama keluarga menjadi satu hal yang sangat langka di era modern ini, dan niatan untuk setidaknya menghidupkan kembali tradisi makan bersama keluarga menjadi sesuatu yang agak sulit dilakukan, padahal justru di meja makanlah ada banyak cerita yang sarat nilai positif bisa dibagi dari orangtua kepada anaknya, dan sebaliknya ada cerita-cerita unik yang bisa dibagi anak kepada orangtuanya, seperti pengalaman saya di masa kecil dahulu.

Petite Blossom Tupperware
Acara Blogger Gathering Tupperware dan VIVA.co.id (Dok : Pribadi)
Niat ini semakin bertambah kuat setelah saya mendengarkan apa yang dipaparkan oleh Ajeng Raviando, Psikolog Anak dan Keluarga, dalam acara "Blogger Gathering Tupperware" yang diselenggarakan Tupperware bersama VIVA.co.id, tanggal 20 Mei 2016 bertempat di Head Office Tupperware Indonesia, Cilandak, Jakarta Selatan, "Jika tradisi bersantap di rumah menghilang, maka orangtua dan pasangan tidak punya kesempatan menanamkan nilai-nilai yang akan diangkat dalam sebuah keluarga. Sehingga yang terjadi seperti sekarang, yakni generasi yang acuh." Yah...tentu saya tidak ingin dong anak-anak saya kelak tumbuh menjadi generasi yang acuh karena ruang-ruang komunikasi sudah dibatasi oleh keberadaan teknologi dan gaya hidup masyarakat modern yang serba cepat sehingga tidak ada lagi ruang terbuka untuk membangun komunikasi secara langsung dengan orang lain. Memang tidak mudah untuk menghidupkan kembali tradisi makan bersama keluarga, karena masing-masing anggota keluarga yang beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan masyarakat yang sudah jauh berbeda dengan masa kecil saya dahulu. Namun, mengingat banyak nilai-nilai positif yang saya rasakan sendiri dari tradisi makan bersama keluarga tersebut, tentu saya harus berusaha keras untuk mewujudkannya dalam kehidupan keluarga saya sekarang.

Memang ada beragam hambatan yang harus saya lalui untuk menghidupkan kembali tradisi ini, diantaranya sulitnya menemukan waktu yang pas, karena masing-masing anggota keluarga memiliki jam aktivitas yang berbeda, terutama waktu saat tiba di rumah. Mungkin untuk masalah ini bisa saya siasati dengan makan bersama dengan anggota keluarga yang kebetulan ada di rumah. Biasanya malam hari bisa dipastikan anak-anak berkumpul di rumah, dan aturan makan bersama ini bisa saya mulai dari makan bersama anak-anak dahulu. Sedangkan untuk suami, sebisa mungkin jika dalam rentang hari tersebut tidak bisa menikmati acara makan bersama, maka libur akhir pekan haruslah menjadi agenda tetap untuk kami makan bersama di rumah...yah di rumah dan bukan di tempat lain seperti restoran di mana fokus anak-anak sering teralihkan dengan permainan anak-anak yang disediakan oleh pemilik tempat tersebut. Meskipun demikian, bukan berarti makan di luar rumah menjadi sesuatu yang tidak boleh dilakukan, sesekali menurut saya boleh-boleh saya dilakukan sebagai salah satu bentuk refresing, namun tidak harus setiap libur akhir pekan tiba, karena menghabiskan waktu saat libur akhir pekan bersama keluarga di rumah bisa menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan dan komunikasi antar anggota keluarga yang selama 6 hari dalam seminggu sibuk dengan aktivitasnya.

Selain itu, ada cara lain yang menurut saya juga ampuh untuk menghidupkan kembali tradisi makan bersama keluarga, yaitu menghidangkan menu favorit keluarga yang tersaji dalam kemasan wadah atau tempat makanan yang unik dan segar dipandang mata, terutama mata anak-anak yang suka dengan warna-warna yang menyolok. Yah...selain menu favorit, biasanya anak-anak tertarik untuk makan dengan lahap dan berlama-lama di meja makan jika peralatan makannya pun spesial. Apalagi sebentar lagi umat Muslim akan memasuki bulan suci Ramadhan sehingga momentum ini sangat tepat jika ingin menghidupkan kembali tradisi makan bersama keluarga yang di masa-masa sebelumnya sedikit mengalami pergeseran dan mulai jarang dilakukan. Untuk momen spesial dan menghidupkan kembali tradisi makan bersama keluarga inilah maka Tupperware meluncurkan produk peralatan makan lengkap terbaru yang cocok disajikan untuk menemani kehangatan acara makan bersama keluarga setiap hari yang diberi nama "Petite Blossom."

Petite Blossom Tupperware
Rangkaian produk wadah makanan terbaru Petite Blossom dari Tupperware (Dok : Pribadi)
Dengan tagline #MejaMakanPunyaCerita, Tupperware melalui rangkaian produk terbarunya Petite Blossom berusaha membantu setiap ibu di seluruh Indonesia untuk menghidupkan kembali tradisi makan bersama keluarga di rumah dengan aneka wadah dan peralatan makan yang di desain modern serta dipadukan dengan warna hijau yang fresh dan bisa dipastikan akan menggugah selera makan anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Daya tarik rangkaian produk terbaru Petite Blossom ini diharapkan akan menambah semarak suasana saat menikmati menu favorit di selingi saling bercerita tentang banyak hal antar anggota keluarga di meja makan. Tradisi ini diharapkan akan membangun jalinan komunikasi yang baik antar anggota keluarga, terutama komunikasi dalam keluarga di mana anak-anak sudah mulai beranjak remaja. Rasanya semua sudah memahami dan tahu betapa anak dalam usia yang mulai memasuki remaja sangat rentan dengan pengaruh buruk dari lingkungannya. Mungkin, meja makan bisa menjadi tempat yang cocok untuk mulai membangun komunikasi yang intens dan harmonis dalam keluarga, sekaligus bisa menghadirkan momen-momen spesial dan indah untuk di kenang hingga masa yang akan datang. Seperti saya yang selalu terkenang akan momen indah saat masih memiliki tradisi makan bersama keluarga semasa kecil dahulu, di mana saya bisa secara langsung berkomunikasi dan mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran saya atau yang saya alami kepada orangtua dan anggota keluarga lainnya.

Selain itu, tradisi makan bersama keluarga juga akan memberikan dampak positif bagi pergaulan anak-anak remaja yang saat ini sudah masuk dalam kategori cukup membahayakan. Saling sharing dan bertukar pikiran antara orangtua dan anak saat makan bersama di meja makan bisa menjadi solusi untuk membantu anak memecahkan problem yang kerap dialami anak seiring bertambahnya usia si anak. Meskipun demikian, orangtua juga harus membiasakan diri untuk menjadi pendengar yang baik manakala anak menceritakan apa yang dialaminya. Pendek kata, banyak sekali manfaat positif yang dapat kita ambil dalam jika menghidupkan kembali tradisi makan bersama keluarga, selain tentu saja sebagai salah satu upaya untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga. Seperti yang saya alami saat ini, meskipun kami tiga bersaudara hidup terpisah kota bersama keluarga kami masing-masing, namun hubungan erat tetap terjalin dan komunikasi tetap intens kami lakukan setiap kali ada waktu.

Namun, ada satu manfaat positif lain yang bisa kita dapatkan dengan menghidupkan kembali tradisi ini, yaitu membiasakan keluarga untuk menjalani pola makan yang lebih sehat dan tentu saja lebih teratur. Biasanya anak akan cepat mengadopsi dan meniru apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, begitupun dalam urusan memilih menu makanan, anak-anak akan cenderung untuk memilih menu makanan favorit yang nyaris sama dengan orangtuanya. Untuk alasan inilah, maka momen makan bersama keluarga bisa dijadikan salah satu cara untuk mengenalkan beragam jenis makanan yang sehat agar kebiasaan baik ini akan terbawa hingga kelak mereka dewasa. Tidak mudah memang untuk menghidupkan kembali tradisi makan bersama keluarga, terutama di era modern di mana setiap orang selalu bergerak secara aktif untuk melakukan berbagai aktivitas sebagai upaya menopang kehidupan ekonominya. Hal inilah yang menyebabkan sebagian besar masyarakat terutama yang tinggal di kota-kota besar rentan terserang stres. Bila sudah begini, keluarga adalah tempat ternyaman untuk menghilangkan segala kepenatan dan kelelahan selama menjalani padatnya aktivitas, sehingga tepat jika ada yang mengatakan bahwa keluarga adalah sumber kebahagiaan, karena di dalam keluarga, kita akan menemukan kehangatan cinta dan kasih sayang yang akan terus bertahan di sepanjang umur kita.

Ternyata bahagia itu sangat sederhana, sesederhana saat duduk dan makan bersama di meja makan di temani rangkaian produk terbaru Petite Blossom persembahan dari Tupperware untuk menjadikan setiap momen saat makan bersama keluarga menjadi kenangan yang tidak terlupakan di sepanjang usia. Mari hidupkan kembali tradisi makan bersama keluarga di rumah karena meja makan punya cerita yang tidak akan pernah terlupakan.

Referensi tulisan :
http://tupperware.co.id/

7 komentar:

  1. Betul juga mbak, sahur nanti bisa diagendakan untuk acara makan bersama :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget mbak, makan bersama keluarga itu nikmat apapun lauknya, hehehe...makasih mbak udah mampir.

      Hapus
  2. hmmm, jadi kangen makan-makan sama ortu ku, nih hihihihiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga mbak, sayang keduanya sudah tiada, yang tersisa cuma kenangannya...

      Hapus
  3. hmm kalau dulu saya makan-makan pasti ada aja lucu2an yang baru dan tambah akrab dengan keluarga : )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu yang paling ngangenin mbak. sampe sekarang kebiasaan unik di meja makan jadi bahan lelucon jika ketemu...

      Hapus
  4. Alhamdulillah keluarga kami masih makan bersama... terutama makan malam dan pagi..

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...