Selasa, 15 Maret 2016

Nak, Apa Sih Menariknya Klakson Bus Telolet?

Bus Feeder yang disediakan oleh pihak pengembang perumahan di mana saya sekarang tinggal menjadi salah satu moda transportasi andalan jika ingin bepergian ke Kota Jakarta. Ada banyak alasan yang bikin saya lebih nyaman naik bus feeder, salah satunya adalah lebih nyaman karena hampir semua bus feeder yang tersedia terawat cukup baik, bahkan secara berkala bus-bus yang sudah cukup tua cepat digantikan dengan armada baru. Tapi yang bikin saya merasa lebih tenang adalah adanya jadwal yang teratur, kapan bus akan berangkat dan kembali menuju perumahan serta rutenya yang sudah pasti sehingga meskipun saya tidak terlalu hapal jalan di Jakarta, saya bisa berangkat dan pulang sendiri. Bahkan, untuk beberapa daerah strategis di Jakarta, bus feeder tersebut memiliki settle atau tempat mangkalnya sendiri.

Tapi dalam beberapa bulan terakhir ini ada yang menarik setiap kali bus feeder yang saya naiki mulai memasuki jalan raya menuju perumahan. Di pinggir jalan banyak anak-anak yang dengan semangat 45 berlari gesit mengacungkan tangannya, terang saja saya tertarik dan bertanya kepada sopir bus mau apa sih anak-anak itu mengejar-ngejar bus. "Biasa bu, mau minta telolet," jawab pak sopir, usut punya usut ternyata telolet itu klakson bus. Yap...ternyata tiap-tiap bus yang memiliki ukuran cukup besar memiliki telolet alias klakson yang menurut anak-anak ini khas, padahal menurut pendengaran saya sih biasa saja, tapi entahlah karena semakin hari semakin banyak anak-anak yang hobinya menunggu bus lewat di pinggir jalan. Maklumlah...daerah tempat saya tinggal termasuk kawasan industri yang tentu saja memiliki jumlah penduduk dengan latar belakang daerah yang beragam. Akibatnya, banyak bus lintas antar provinsi yang singgah di sepanjang jalan salah satu daerah di Kabupaten Tangerang ini.

Bus Telolet
Sebagian isi Instagramnya (Gambar : Pribadi)
Tidak lama berselang ternyata virus telolet ini juga menjangkiti alias mewabah di kawasan tempat saya tinggal, banyak anak-anak termasuk anak saya yang mulai beranjak remaja juga mulai suka merekam-rekam telolet ini. Kebetulan di dalam Perumahan Citra Raya terdapat tempat wisata edukasi yang setiap hari ramai dikunjungi murid-murid sekolah dari berbagai daerah, dan tentu saja rombongan ini menggunakan moda transportasi bus dengan ukuran yang cukup besar. Setidaknya, anak-anak yang suka merekam telolet ini tidak perlu berkeliaran di pinggir jalan untuk sekedar mengambil gambar atau merekam suara klakson telolet. Dan anak saya yang saat ini duduk di kelas 7 SMP termasuk salah satu yang gemar melakukan aktivitas ini, entahlah apa sih yang menarik?

Setiap kali saya bertanya, apa sih yang menarik dari suara klakson telolet ini? anaknya sendiri juga bingung mau jawab apa, pokoknya suka aja...begitu jawab mereka. Bahkan, tanpa melihat rekaman gambar atau videonya, anak saya bisa membedakan klakson bus A, bus B, bus C, dan sebagainya. Bahkan, demikian gandrungnya pada aksi ini, putra saya merengek minta dibuatkan akun media sosial untuk mengunggah atau sekedar mengakses informasi aktivitas ini. Yap...hingga saat ini saya belum mengizinkan putra saya memiliki akun media sosial sendiri meskipun tahun ini usianya sudah memasuki 13 tahun. Selain dia sendiri belum memiliki minat untuk bersosmed ria, bagi saya sih belum ada manfaatnya hingga sekarang. Internet lebih banyak dihabiskannya untuk mengakses game, terutama Game Minecraft. Jangankan bersosmed, BBM atau WA saya atau ayahnya saja jarang dibalas kalaupun di bales cukup singkat ya atau yap atau oke atau cukup "y" saja, apalagi menghabiskan banyak waktu untuk mencari teman di media sosial.

Tapi hobi barunya ini bikin dia sedikit berbeda dengan minta dibuatkan akun media sosial, yah...meskipun anak-anak mengenal internet namun untuk membuatkan akun-akun tetap dalam pengawasan saya dengan menggunakan akun saya. Setelah diskusi memilih media sosial mana, akhirnya dia memilih instagram yang sesuai kebutuhannya. Dan baru 3 bulan ini, dia memiliki akun instagram yang digunakannya untuk mengunggah gambar bus dan rekaman klaksin telolet, juga untuk mengakses gambar atau video milik orang lain. Dari hobi anak saya ini, saya baru tahu bahwa ada komunitas Bismania Community yang menghimpun banyak anggota yang memiliki hobi serupa. Bahkan, anak saya rela mengumpulkan uang jajannya untuk membeli stiker-stiker yang berbau bus...hadeuhhh. Di lain waktu, anak saya bilang ingin menabung untuk membeli lensa telezoom sebagai perangkat tambahan pada smartphone untuk menunjang hasil gambar atau video bus yang lebih bagus.

Bus Telolet
Apa sih menariknya klakson bus telolet ? (Gambar : Akun Instagram Berryldarinario)
Meskipun hingga saat ini saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang apa sih menariknya merekam klakson bus telolet, tapi setidaknya saya bisa belajar banyak hal bahwa diusianya yang menjelang remaja ini anak-anak benar-benar sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan teman sebaya. Meskipun pada mulanya mereka tidak tertarik atau bahkan tidak bisa menjabarkan dengan jelas apa sih yang membuat mereka tertarik pada hal tersebut, namun jika lingkungan atau sebagian teman-temannya suka dengan hal tersebut, mereka akan terbawa dengan sendirinya. Wah...inilah PR besar buat kami orangtuanya, bagaimana menjaga agar anak tetap dalam koridor yang telah ditetapkan tanpa harus menghambat minatnya. Semakin bertambah dewasa, maka tuntutan akan pengawasan orangtua harus semakin bijak, kami harus belajar kapan mengulur tali dan kapan harus menarik tali agar anak tidak tergelincir jatuh. Apalagi zaman sudah berubah dan perilaku serta kondisi lingkungan sudah jauh berbeda, dan satu lagi perkembangan teknologi juga semakin pesat juga menjadi salah satu penyebab perubahan dalam pola kehidupan masyarakat.

Kalau anak-anak lagi mengakses rekaman klakson telolet, ayahnya sering komplain "seperti di terminal atau di pinggir jalan saja rumahnya," meskipun tidak marah namun terkadang cukup menganggu juga sih, apalagi jika malam adalah waktu ayahnya beristirahat. Untuk mengantisipasi ini maka kami bersama anak-anak membuat kesepakatan. Yap...setelah anak-anak mulai beranjak remaja saya tidak lagi menyebutkan suatu larangan atau pembatasan sebagai aturan, tapi lebih cenderung kesepakatan yang dibuat keduabelah pihak. Terutama menyangkut hobi barunya ini yang terkadang bikin saya sedikit khawatir, karenanya ada kesepakatan yang meskipun tidak tertuang dalam bentuk tulisan namun telah disepakati kami dan anak-anak.
  • Meskipun kami tidak melarang anak-anak merekam atau mengambil foto bus, tapi tidak boleh keluar dari kompleks perumahan, dan tidak boleh malam hari. Saya dan suami sangat keras dalam urusan jam malam, jika tidak penting anak-anak tidak boleh keluar malam hari bahkan saat libur sekalipun. Meskipun tidak harus selalu belajar setiap malam apalagi jika malam minggu, namun anak-anak tetap harus di rumah dan melakukan aktivitas lain sesuai hobi mereka.
  • Tidak boleh mengambil foto atau merekam bus yang sedang berjalan, cukup hanya mendatangi di mana bus tersebut parkir. Untunglah setiap minggu banyak bus yang berekreasi di tempat wisata dalam Perumahan Citra Raya Tangerang, karena didalamnya ada tempat wisata World of Wonder yang bisa di bilang Dufan mini. Biasanya hanya mereka lakukan minggu pagi sambil olahraga pagi.
  • Tidak boleh mengunggah video atau foto milik orang lain ke akun media sosial mereka kecuali yang memang untuk konsumsi umum, larangan copas alias copy paste harus diajarkan sedini mungkin...hehehe.
  • Dan satu lagi yang mungkin cukup sulit untuk dilakukan orang tua, cobalah untuk memasuki dunia yang sedang mereka minati tersebut, meskipun tidak harus suka tapi setidaknya dengan ikut masuk dalam dunia tersebut kita bisa memantau dan sekaligus tahu medan seperti apa yang sedang dihadapi serta jika mungkin mencari cara untuk mengamankan si anak dari pengaruh negatif yang pastinya akan selalu siap mengintai kelemahan orang tua dan anak.
Mungkin, masih banyak cara lain, namun yang terpenting kita sebagai orang tua setidaknya harus memiliki dan membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak. Komunikasi sehat tanpa dibumbui prasangka dan curiga bahwa aktivitas atau hobi yang saat ini sedang disukai anak pasti tidak bermanfaat. Padahal manfaat bisa saja didapatkan anak tidak untuk saat ini tapi mungkin berguna untuk masa yang akan datang. Peran komunitas seperti Busmania Community tentu saja sangat diharapkan untuk memberi dukungan dan mengarahkan minat serta antusiasme anak-anak semacam ini agar tetap di jalur yang positif, bahkan jika mungkin sebagai wahana edukasi tertib berlalu lintas sebagai bekal mereka kelak setelah dewasa.

 Ah...bisa berbagi cerita ternyata menyenangkan ya dan semoga ada manfaatnya.

14 komentar:

  1. Wahhh bisa belajar parenting juga nih saya, kebetulan.. anak saya juga cowok, belum 2 tahun tapi sama mobil senengnyaaa,... Dan salah satunya, suka dengan bunyi klakson mobil. Ah mungkin menurut kita mereka aneh, tapi merekalah yang tau apa yang harus mereka sukai. Saya jadi kepengen tahu bagaimana saya menghadapi anak saya nanti kalau sudah besar. Semoga bisa "memasuki dunianya" agar semuanya terkontrol dengan baik.. Ehh aku baru pertama kesini lo.. lihat postingan sebelumnya, belum BW kemaren ehehehe.., salam kenal mbak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak...bahkan sampai sekarang meskipun saya sudah mencoba tetap belum mudeng apa sih yang menarik dari klakson bus itu. Makasih mbak udah berkunjung.

      Hapus
  2. Anak pertama saya itu energinya berlebihan sekali, akhirnya saya taawari mau ikut bulu tangkis atau sepakbola. Akhirnya dia milih sepakbola. Alhamdulillah dia jadi lebih anteng sekarang. Kalau pinjam hape saya biasanya untuk googling segala seauatu sepakbola hehehe

    BalasHapus
  3. Anak saya pegang hp cuma buat nonton baby first aja mbak kadang suka kebablasan saya jd ngak bisa pegang hp

    BalasHapus
  4. Wah, merekam suara klakson bus ternyata lagi jadi tren di kalangan abg ya? Yah, asal bisa nambah pengetahuan sih nggak masalah ya, mbak.

    BalasHapus
  5. beruntung ya Mbak ada komunitas yang mau menampung aspirasi dan hasrat para ABG , semoga menghasilkan sesuatu hal yang positif hobinya

    BalasHapus
  6. Nahhh akhirnya ada tulisan yang curhatan dan bukan post event atau semacamnya. Hehe bisa dijadikan bahan arisan link. Kemarin sempet ubek ubek artikel...tapi kebanyakan liputan event atau lomba

    BalasHapus
  7. Hahahaha... ini hobi yang unik dan tiada duanya Mbak. Swear deh. hihihi... kening saya ikut berkerut ketika membacanya. Apa istimewanya sih ya? Gak puas dengan jawabannya

    BalasHapus
  8. anak-anak kadang susah ditebak ya Mbak, keinginannya. Seperti suka klakson bus perumahan, nah,,,mungkin bagi dia itu menarik sekali y.

    BalasHapus
  9. saya di tangerang juga mba, awalnya bingung karena pernah liat anak-anak di pinggir jalan pada megang hp sama tablet dan teriak-teriakin bis yang lewat ternyata lagi booming "video telolet" yah di kalangan anak abg hehe

    BalasHapus
  10. Saya juga penggemar Bus, dari kecil saya sudah akrab dg Bus ya maklum rumah saya di Pantura. Tapi saya ndak segitunya juga. Walaupun seneng juga kalau ngeliat Bus atau bahkan mendengar klaksonnya :-D

    BalasHapus
  11. Iyahh mbaa,..sekarang lagi demamnya tolalet bus yang sedang marak bagi anak-anak..mereka sampe tunggu bus yang lewat dan merekamnya dengan hanya menggunakan hp smartphone...

    salam blogger mba

    BalasHapus
  12. Kok bacanya enak yaaa..
    Ringan simple tapi jelas..
    Thanks

    BalasHapus
  13. Yang paling penting memang harus ada walaupun kita tidak suka, memasuki atau minimal mengetahui dasar dari hobi sang anak biar bisa saling berinteraksi tentunya wajib buat orang tua :)

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...