Jumat, 11 Maret 2016

Blogger Perempuan Bicara HIV, Lindungi Ibu dan Bayi Dari Resiko Tertular HIV

Tahun-tahun telah berlalu sejak pertama kali diketemukan kasus HIV di Indonesia beberapa tahun yang lalu, dan kini penyebarannya justru bertambah luas yang tidak hanya mengancam keselamatan si pengidap HIV semata namun juga orang-orang terdekat yang berada di sekelilingnya, istri dan anaknya. Namun yang sangat memiriskan tidak semua perempuan mengetahui informasi secara benar tentang bahaya HIV yang mengintai mereka akibat perilaku pasangan yang tidak sehat. Dengan kata lain, tidak semua perempuan memiliki kekuatan untuk mendapatkan posisi tawar di lingkungannya, baik dalam hal mendapatkan akses informasi, penolakan terhadap perlakuan dari pasangan yang tidak menyenangkan, atau bahkan akses untuk mendapatkan pertolongan medis jika ternyata mereka positif tertular HIV. Jika perempuan sudah dalam posisi seperti ini, lalu bagaimana ia akan memperjuangkan nasib anaknya untuk segera mendapatkan pertolongan medis jika untuk melindungi diri sendiri pun ia tidak mampu. Yap...ibu haruslah menjadi subjek pertama yang harus diberikan pencerahan pemikiran, agar kedepannya tidak hanya mampu melindungi diri dan bayinya dari resiko tertular HIV, namun lebih jauh lagi mampu menempatkan dirinya sejajar agar memiliki posisi tawar ketika masuk dalam situasi beresiko.

Blogger Perempuan Bicara HIV


Untuk mengantisipasi dan menekan laju pertambahan jumlah ibu dan anak yang beresiko tertular HIV inilah, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional bekerjasama dengan Ikatan Perempuan Positif Indonesia dan ODHA Berhak Sehat bertempat di Hongkong Cafe Thamrin, Jakarta pada tanggal 26 Februari 2016 menyelenggarakan acara Blogger Gathering yang secara khusus mengundang Komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Warung Blogger dengan tema "Blogger Perempuan Bicara HIV, Pentingnya Informasi HIV Sebagai Alat Pencegahan Pada Kelompok Perempuan dan Anak." Acara ini tidak hanya diisi mendengarkan materi belaka, namun lebih kepada dialog dan diskusi interaktif yang membuat suasana semakin semarak. Bukan hanya karena isi materi yang secara langsung memberikan gambaran betapa penyebaran HIV di berbagai kelompok usia semakin memprihatinkan, namun juga mendapatkan kesempatan mendengarkan cerita secara langsung dari salah seorang aktivitas yang juga sebagai ibu rumah tangga pengidap HIV positif.

Blogger perempuan bicara HIV

Acara ini secara langsung di buka oleh Deputi Program Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Dr. Fonny J. Silfanus, yang secara gamblang memaparkan betapa kasus HIV/AIDS di Indonesia kian memprihatinkan. Bahkan, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN)  juga memaparkan data dan fakta bahwa bertambahnya angka kasus HIV di Indonesia juga dialami perempuan yang justru tidak berperilaku seksual yang beresiko tinggi terpapar virus HIV, dan ternyata justru tertular dari pasangan tetapnya yang memang memiliki perilaku beresiko tersebut. Namun yang lebih memiriskan lagi bahwa kasus tersebut akan berdampak serius bagi bayi yang lahir dari pasangan yang dinyatakan positif mengidap HIV tersebut. Karena seorang bayi yang telah terpapar virus HIV seumur hidupnya akan menanggung derita penyakit tersebut.

Untuk alasan itulah mengapa KPAN mengundang blogger khususnya blogger perempuan untuk ikut aktif secara bersama-sama menyebarkan dan memperluas akses informasi tentang bahayanya jika ibu dan bayi yang tertular virus HIV tidak segera melapor, memeriksakan diri, serta mendapat pertolongan medis yang intensif. Letak geografis negara Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau cukup menyulitkan para aktivis KPAN untuk menyebarkan dan mendata jumlah pengidap HIV di Indonesia, khususnya ibu dan bayi yang tertular virus HIV. Untuk itulah peran blogger terutama blogger perempuan diharapkan dapat memperpanjang dan memperluas informasi tersebut hingga ke daerah-daerah yang masih sulit dijangkau relawan KPAN.

Blogger perempuan bicara HIV

Turut hadir dalam acara tersebut dan sekaligus sebagai pembicara Asisten Deputi Program KPAN Dr. Maya Trisiswati (yang menurut teman-teman blogger mirip salah satu makmin KEB...hehehe), juga hadir Mbak Ayu Oktariani dari Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), dan Bapak Syaiful Harahap, wartawan senior sekaligus Wakil Pemimpin Redaksi Portal Berita Baranews.com. Selain membicarakan materi yang berkaitan dengan tema dalam acara ini, para pembicara juga menyelingi pemaparannya dengan diskusi interaktif yang membuat suasana menjadi hidup. Yah...tidak bisa dipungkiri sebuah informasi akan lebih mengena jika peserta acara tersebut dilibatkan secara langsung dalam bentuk diskusi interaktif.

Selain membicara materi, pembicara juga sharing pengalaman mereka selama membantu usaha penyebarluasan informasi terkait HIV/AIDS kepada peserta. Meskipun hampir semua peserta sangat akrab dengan media digital, namun tidak semuanya mengakses informasi dan perkembangan penyebaran HIV secara rutin dan berkala. Untuk alasan inilah maka bisa dibilang selain memberikan akses informasi perkembangan terbaru penyebaran HIV/AIDS, ajang ini juga berusaha membangkitkan rasa empati dari peserta bahwa di sekitar dan di luar dirinya masih banyak perempuan yang belum beruntung untuk bisa memilih kondisi dan situasi yang terbaik bagi dirinya dan terutama untuk anak-anaknya.

Seperti yang dipaparkan oleh Dr. Maya Trisiswati, setidaknya ada 4 kelompok perempuan lintas usia yang ada dalam masyarakat mulai dari tingkat yang sangat beresiko hingga yang telah masuk dalam kategori perempuan mapan, yaitu :
  1. Kelompok 1, yang rentan terhadap beragam permasalahan yang kerap di alami perempuan, yaitu Trafiking, ketiadaan akses terhadap sarana dan fasilitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, sedangkan dari segi sosial budaya ditempatkan lebih rendah dari kaum laki-laki.
  2. Kelompok 2, yang dari segi kemampuan diri belum berdaya dan tidak mampu mencapai atau memperoleh akses terhadap beragam fasilitas yang tersedia.
  3. Kelompok 3, perempuan yang mapan dari segi ekonomi dan pendidikan tetapi tidak memiliki cukup semangat untuk meningkatkan kemampuan diri padahal cukup tersedia akses untuk ikut serta dalam mewujudkan pembangunan segala bidang di Indonesia.
  4. Kelompok 4, merupakan sosok perempuan yang sudah mampu meningkatkan kemampuan dan kemapanan diri dari segi fasilitas untuk memberdayakan orang lain khususnya kaum perempuan.
Pengelompokkan ini sesungguhnya bisa menjadi dasar atau acuan untuk membuat kebijakan atau program untuk memberdayakan kaum perempuan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Mengapa perempuan harus meningkatkan kualitas hidupnya? Karena kedudukan perempuan sangat penting dan dari tangannya akan dilahirkan rupa-rupa generasi muda yang kelak akan menerima kendali estafet membangun negara, bangsa, dan agama. Masih menurut yang diungkapkan oleh Dr. Maya Trisiswati, ada beberapa pokok permasalahan mengapa perempuan kerap tertinggal dan terdiskriminasi, antara lain nilai-nilai dan budaya patriarki, perkawinan dan kehamilan dini, internal perempuan sendiri, rendahnya kapasitas perempuan, hukum dan peraturan yang diskriminatif, interpretasi agama yang bias gender, kebijakan dan program yang diskriminatif serta bias gender.

Kondisi yang kerap dialami kaum perempuan inilah yang memunculkan potensi ketidakmampuan untuk mempertahankan dan memiliki posisi tawar terhadap ketidakadilan masalah kesehatan yang dialami.  Tidak hanya itu, seharusnya kemampuan untuk mempertahankan diri dari kejahatan seksual mulai dari anak-anak tetap harus dipertahankan hingga dewasa dan memiliki pasangan kelak, terutama apabila pasangan tersebut memiliki perilaku yang negatif. dalam hal seksual. Sesungguhnya kemampuan inilah yang kelak akan membuat seorang perempuan memiliki posisi tawar terhadap pasangannya, demi melindungi diri dan bayinya dari resiko tertular HIV atau penyakit seksual lainnya.

Blogger perempuan bicara HIV

Sesi selanjutnya diisi dengan materi, atau mungkin lebih tepatnya sharing dengan Mbak Ayu Oktariani dari Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI). Banyak kisah dan cerita mengharukan dalam sesi ini, di mana Mbak Ayu menuturkan kisah yang dialaminya setelah terdiagnosa mengidap HIV sebagai rangkaian akibat tertular dari pasangannya. Dituturkan juga bagaimana semangat dan perjuangannya dengan berbagai cara, tidak hanya untuk menyembuhkan dirinya namun lebih dari itu sebuah perjuangan panjang untuk tetap menegakkan kepalanya ditengah stigma masyarakat terhadap semua pengidap HIV. Yap...perjuangan berat seorang pengidap HIV tidak hanya sebatas usaha untuk mendapatkan pertolongan kesehatan semata namun juga usaha untuk membangun rasa percaya diri agar tetap berdiri tegak menghadapi stigma dan cemooh masyarakat, terutama masyarakat yang masih awam terhadap segala sesuatu tentang HIV/AIDS.

Blogger perempuan bicara HIV

Selanjutnya dalam sesi terakhir, yang diisi oleh Syaiful W. Harahap yang mengetengahkan materi bagaimana etika menulis jurnalisme tentang hal-hal atau isu yang lumayan sensitif dalam masyarakat, diantaranya segala sesuatu tentang HIV/AIDS. Secara garis besar mengungkapkan bahwa meskipun ada banyak kisah atau cerita yang bisa diungkap dibalik semakin menyebarnya virus HIV/AIDS di masyarakat, namun sebuah tulisan termasuk tulisan di blog tetap harus berdasarkan pada kaidah atau etika jurnalistik. Untuk itulah mengapa seorang blogger tetap harus membutuhkan pembekalan materi tentang etika jurnalistik sekalipun tidak semua tulisan di blognya ditulis memiliki nilai jurnalistik. Namun di era dimana akses informasi semakin cepat dan mudah, media blog telah menjelma menjadi salah satu channel informasi yang banyak diakses masyarakat, bahkan beberapa masyarakat menjadikan menjadikan blog sebagai salah satu referensi pengetahuan dan informasi yang dipercaya. Untuk alasan itulah mengapa seorang blogger sebelum memposting sebuah artikel atau tulisan sangat disarankan untuk mencari sumber referensi yang validitasnya dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam acara ini juga dipaparkan bahwa data-data yang sangat memprihatinkan di mana berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Triwulan III tahun 2015 tercatat jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan September 2015 adalah sebanyak 184.929 kasus. Sedangkan untuk jumlah kumulatif AIDS sebanyak 66.197, dengan jumlah kumulatif AIDS tertinggi pada ibu rumah tangga dengan jumlah kasus sebanyak 9.096 orang. Kondisi ini jelas memprihatinkan karena kasus HIV/AIDS telah menyentuh kelompok yang dahulu relatif tidak beresiko tertular HIV. Sedangkan jika kita bicara ibu maka tidak akan terlepas dari keberadaan anak disisinya yang setiap saat bisa saja ikut tertular virus HIV dari ibunya terutama pada saat ibu sedang mengandung bayinya.

Untuk itulah sebagai salah satu media yang kini telah menjadi salah satu referensi atau sumber informasi masyarakat, blog (dalam hal ini blogger) harus ikut serta menuliskan konten yang bermanfaat dan sebagai sumber informasi bagi pembacanya, terutama konten yang berhubungan dengan penanggulangan dan usaha untuk melindungi ibu dan bayinya dari resiko tertular HIV. Bagi ibu-ibu yang mungkin saja beresiko dan menyadari bahwa dirinya beresiko bisa segera mendatangi tempat-tempat yang telah disediakan Komisi Penanggulangan AIDS di seluruh Indonesia. Saat ini, telah tersedia 1.958 layanan konseling dan Tes HIV sukarela, 542 layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) yang secara aktif melakukan pengobatan ARV, dan selain itu masih tersedia komunitas atau organisasi sukarela lainnya yang secara aktif akan membantu untuk memberikan pertolongan bagi pengidap atau seseorang yang menyadari bahwa mungkin saja dirinya mengidap atau beresiko tertular virus HIV.

Berikut beberapa referensi di mana Anda bisa mendapatkan informasi secara detail dengan HIV/AIDS serta informasi lainnya sebagai panduan juga pertolongan untuk masalah HIV/AIDS yang mungkin saja tengah Anda alami.
  1. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), alamat Menara Topas Lantai 9 JL. MH. Thamrin Kav. 9 Jakarta 10350. Telp. (021) 3901758. Fax. (021) 3902665. Atau bisa mengunjungi websitenya yang diakses melalui alamat www.aidsindonesia.or.id.
  2. Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), alamat jalan kakap III No. 13A Kel. Jati, Rawamangun, Jakarta Timur 13220. Telp. (021) 29833944. Atau bisa mengunjungi websitenya di www.ippi.or.id.
Mungkin ada teman, keluarga, atau orang-orang di lingkungan Anda yang membutuhkan informasi tersebut untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya, terutama bagi ibu rumah tangga yang merasa terancam dengan resiko tertular virus HIV. Semoga pemaparan dalam tulisan ini berdasarkan acara yang diselenggarakan KPAN bersama IPPI bisa menggugah kesadaran ibu rumah tangga yang beresiko untuk segera mendapatkan pertolongan dan perlindungan demi masa depan yang lebih baik untuk bayi yang akan dilahirkannya kelak. Dan bagi masyarakat yang mungkin saja tidak beresiko bisa membantu orang-orang disekitarnya setidaknya dengan memberikan referensi akses informasi untuk mendapatkan pertolongan, karena biasanya ketiadaan dan keterbatasan untuk mengakses informasi berdasarkan sumber yang terpercaya inilah yang membuat banyak ibu rumah tangga tidak berdaya dan tidak memiliki posisi tawar terhadap satu bentuk kehidupan yang lebih baik dan sehat.

Referensi tulisan :
http://www.aidsindonesia.or.id/news/6227/1/29/02/2016/Blogger-Perempuan-Bicara-HIV#sthash.4PwBL1Z8.z52K7i0z.dpbs

1 komentar:

  1. acaranya keren ya MBak, semoga sosialisasi nya sampai ke seluruh sudut masyarakat. Sebagai blogger, saya setuju sekali, dan tulisan MBak Elisa sangat bagus, reportasenya lengkap

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...