Selasa, 26 Agustus 2014

Pameran Buku Sebagai Wahana Rekreasi, Edukasi, dan Membangun Budaya Membaca Keluarga

Anda suka menonton pameran? Jika ya, maka berbanggalah karena ada banyak ilmu dan pengetahuan baru yang bisa didapatkan melalui hobi atau kesukaan mendatangi pameran-pameran tertentu.

Pameran Buku
Gambar dari sini

Tahun 2013 lalu, saya dan keluarga berkesempatan menonton Pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) di Jakarta. Sebenarnya acara nonton pameran ini tidak direncanakan, namun kebetulan saya terpilih menjadi finalis lomba blog yang diselenggarakan salah satu perusahaan otomotif terkemuka di Indonesia dan sebagai konsekuensinya saya harus hadir dalam acara gathering yang diselenggarakan dalam area pameran tersebut, bahkan boleh mengajak anggota keluarga. Senang banget...pastilah, karena anak-anak bisa ikut menonton pameran mobil dengan teknologi terbarunya. Apalagi anak laki-laki, pasti hobinya ngak jauh-jauh dari otomotif.

IIMS 2013
Pameran IIMS 2013 (Koleksi Pribadi)
Menarik? Pastilah, selain mendapat kesempatan untuk melihat-lihat mobil keluaran terbaru, bahkan mobil yang masih dalam perencanaan perakitan pun dipamerkan di sini berikut aksesoris-aksesoris dengan teknologi terbaru. Nonton pameran teknologi otomotif semacam ini selain buat cuci mata, juga memberi hiburan dan edukasi buat anak-anak tentang perkembangan dunia otomotif di Indonesia. 

Selain pameran otomotif, masih ada pameran produk lain yang juga diminati masyarakat, seperti pameran elektronik, pameran produk-produk kerajinan, dan lain-lain. Namun untuk mengunjunginya saya selalu mempertimbangkan keluarga, terutama anak-anak, sebisa mungkin saya mengunjungi pameran yang juga menarik untuk anak-anak, jadi bisa sebagai ajang rekreasi keluarga yang murah meriah tapi ada unsur edukasinya dan anak-anak menikmatinya. 

Kebayang dong...kalau lagi asyik melihat-lihat pameran tiba-tiba anak bosen, pasti ujung-ujungnya anak jadi rewel dan mood kita juga terganggu. Akhirnya yang terpikirkan cuma pulang aja deh, nonton pamerannya di tunda sampai tahun depan...hehehe.

Karena itu kalau suka menonton pameran, pilihlah pameran yang bukan cuma menarik untuk kita tetapi juga untuk anak-anak, bahkan jika mungkin pameran yang memang untuk keluarga. Pilihannya tentu saja pameran buku dong!

Jakarta Book Fair 2013

Pameran buku memang bukan hanya menawarkan kesempatan untuk melihat-lihat buku terbitan terbaru, buku-buku diskon atau bisa memperoleh buku dengan harga miring, namun lebih dari itu bisa berkesempatan untuk bertemu dengan penulis buku secara langsung.

Bertemu penulis buku? Wow...ini kesempatan langka, karena moment seperti ini biasanya sangat terbatas dan hanya di waktu serta tempat tertentu saja, seperti di toko-toko buku. Kesempatan bertatap muka dengan penulis buku bagi saya merupakan ajang untuk menambah ilmu sekaligus berkenalan, bisa tahu perjuangan si penulis buku hingga berhasil menerbitkan bukunya sekaligus bisa mencari tahu tentang bagaimana sih membuat buku yang disukai pasar. Yah...siapa tahu di tahun-tahun selanjutnya saya bisa menjadi salah satu penulis buku . Dan satu lagi, ada nilai plusnya yaitu bisa mendapat tanda tangan penulis buku langsung...hebat kan!!

Selain itu, ada nilai plusnya lainnya adalah bisa bertemu dan ngobrol dengan pihak penerbit atau editornya. Bagi saya, memiliki kesempatan untuk bertemu dan berbincang dengan pihak penerbit atau editornya selain menambah ilmu tentang prosedur jika ingin menerbitkan buku, juga bisa mengintip kisi-kisi sebuah karya atau tulisan yang layak untuk dibukukan.

Oh ya...masalah trend atau selera pasar, juga sangat penting bahkan wajib untuk diketahui oleh setiap orang yang kebetulan tertarik untuk menulis buku, karena selera pasarlah yang merupakan salah satu penentu diterima atau tidaknya sebuah tulisan untuk diterbitkan.

Tahun 2013 yang lalu, saya dan keluarga berkesempatan mengunjungi pameran buku di Istora Senayan Jakarta, yaitu Jakarta Book Fair. Kebayang kan pasti banyak buku diskon, atau buku-buku yang masih hangat alias baru keluar dari penerbit.

Bau buku baru memang khas kalau menurut saya...bau petualangan berpadu dengan ilmu pengetahuan baru.

Anak-anak...jangan ditanya karena senang banget berada di antara tumpukan buku yang jumlahnya sangat banyak sedangkan kalau di toko buku jumlahnya terbatas. Biasanya kalau di toko buku, saya menetapkan banyak aturan, "tidak boleh pegang ini itu...tidak boleh lari-lari...tidak boleh berantakin susunan buku". Tapi kalau di pameran buku aturan lebih diperlonggar alias cuma satu, "tidak boleh pergi jauh-jauh", takutnya kesasar, kebayang kan kalau pameran buku pasti jumlah pengunjungnya banyak.

Pameran Buku
Asyik pilih-pilih buku (koleksi pribadi)
Ada yang menarik di Jakarta Book Fair yang kunjungi tahun lalu, ada stand khusus yang menawarkan buku-buku dan majalah terbitan lama, kertas bukunya sudah menguning alias sudah usang, tapi isinya ilmu yang sangat berharga. Bahkan ada buku berbahasa inggris terbitan dari zaman ibu saya baru lahir (kebayang kan lamanya). Tapi itulah makna sebuah buku, "buku adalah sumber ilmu yang tak lekang oleh waktu, tak usang oleh perkembangan zaman". Walau jadul...pengunjung standnya lumayan banyak, tandanya masih banyak orang yang tertarik membaca buku-buku tempo doeloe.

Selain membeli beberapa buku, di pameran itu kami mendapat buku-buku gratis bahkan Al Quran gratis yang dibagikan oleh Kedutaan Besar Arab Saudi. Oh ya, di pameran buku tersebut ada beberapa stand yang di isi oleh kedutaan besar asing, sangat menarik...selain menambah pengetahuan tentang negara-negara tersebut juga mengedukasikan anak untuk memperkenalkan budaya negara lain.

Pameran Buku
Buku gratis tapi sarat ilmu pengetahuan (koleksi pribadi)
Selain stand-stand penerbit buku lokal dan kedutaan besar negara asing, di pameran buku ini juga terdapat stand dari penerbit negara tetangga terdekat, yaitu Malaysia dan Singapura. Meskipun tidak banyak buku yang dipamerkan dan sebagian besar adalah buku jurnal yang sifatnya ilmiah, namun partispasi mereka patut diacungi jempol karena datang dari jauh khusus untuk memperkenalkan buku-buku yang mereka terbitkan, padahal pangsa pasarnya pasti tidak banyak karena kendala bahasa dan Indonesia memiliki tingkat budaya membaca yang rendah. Di stand ini saya mengambil beberapa katalog buku dan jurnal ilmiah yang mereka terbitkan.

Sebuah kenyataan, Indonesia memang memiliki tingkat budaya dan minat membaca yang rendah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton televisi (85,9%), atau mendengarkan radio (40,3%), ketimbang membaca koran (23,5%). (Sumber : http://library.um.ac.id).

Kenyataan inilah yang membuat saya memutuskan untuk mengunjungi pameran buku jika kebetulan lokasinya terjangkau dan bisa membawa anak-anak. Berusaha membangun budaya membaca, terutama untuk anak-anak saya dulu deh karena kita semua tahu betapa kerasnya godaan acara anak-anak di televisi.  Dengan melihat banyak buku, secara tidak langsung anak-anak akan terbiasa dengan buku dan di akhir cerita pasti tertarik untuk melihat, menyentuhnya, dan akhirnya membacanya.

Asyiknya lagi di pameran buku ada juga acara-acara pendukung, seperti bedah buku, mendongeng, lomba mewarnai dan menggambar, dan ketemu langsung dengan penulis buku. Acara-acara seperti ini merupakan bagian yang menarik, terutama untuk anak-anak karena selain terhibur juga ada unsur edukasinya, apalagi jika sifatnya interaktif.

Jadi pameran bukulah sebagai ajang dan tempat yang tepat untuk memadukan rekreasi, edukasi, dan tentu saya membangun serta meningkatkan budaya membaca pada anak-anak, terutama keluarga.

Karena itu jadikan Pameran Buku sebagai bagian dari gaya hidup keluarga masa kini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog #PameranBukuBdg2014 bersama IKAPI Jabar dan Syaamil Quran.

2 komentar:

  1. padahal baru minggu kemaren aku ke bandung ya ... kenapa gak sekalian dateng ke ikapi book fair bandung ya .... sukses lombanya ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...sayang ya. Makasih mbak atas doanya.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...