Minggu, 13 Juli 2014

BEBASKAN PASIEN TB DARI STIGMA DAN DISKRIMINASI DENGAN KELOMPOK INFORMASI MASYARAKAT (KIM)

Benarkah Tuberkulosis atau TB bisa disembuhkan dengan tuntas tanpa kambuh lagi dan resiko untuk menularkan penyakit pada orang lain akan hilang terutama pada keturunan selanjutnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dari waktu ke waktu akan selalu muncul di kalangan masyarakat sekalipun sedikit banyak masyarakat sudah tahu tentang TB. Sebagian mungkin sudah bisa memahami dan mengerti tentang TB karena memiliki akses ke sumber informasi yang luas dan terpercaya, lalu bagaimana nasib sebagian masyarakat yang memiliki akses terbatas ke sumber informasi terutama di daerah pedesaan.
Informasi pengobatan TB
Gambar dari sini
Informasi menjadi "barang" yang paling berharga saat ini dan menjadi "alat" untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Untuk memperoleh dan mengelola informasi butuh partisipasi dari masyarakat itu sendiri. Diperlukan adanya pemberdayaan masyarakat dengan mengembangkan paradigma komunikasi dengan masyarakat (communication with the people) bukan lagi komunikasi untuk masyarakat (communication for the people).

Upaya pengentasan masalah kesehatan terutama TB memang harus dibarengi dengan upaya memberikan informasi yang benar, terpercaya, dan menyeluruh bahkan upaya ini harus menyentuh ke lapisan masyarakat yang paling bawah dan di tempat yang paling terpencil. Mengapa informasi ini sedemikian penting untuk masyarakat? Karena untuk masalah kesehatan, masyarakatlah yang paling merasakan akibat dari buruknya masalah kesehatan, terutama penyakit menular seperti TB.

Selain itu, upaya pengentasan dan pengendalian penyakit TB juga mengalami banyak tantangan dan kendala yang justru bersumber dari masyarakat itu sendiri, yaitu masalah stigma dan diskriminasi yang banyak di alami pasien TB dan mantan pasien TB. Pelabelan dalam bentuk stigmatisasi bahwa TB adalah penyakit kutukan, keturunan, dan sebagainya, secara tidak langsung akan menghambat upaya untuk menyembuhkan penyakit TB secara tuntas, karena pasien TB terpaksa menyembunyikan penyakitnya demi menghindari pelabelan tersebut.

Stigmatisasi inilah yang kemudian akan memunculkan sikap diskriminasi terhadap pasien TB dalam bentuk pengusiran, pengasingan, tidak dilayani di suatu pelayanan sosial bahkan dalam kesehatan, pemecatan dari pekerjaan, dan sebagainya. Yang terjadi selanjutnya bukan hanya pasien TB akan berusaha menyembunyikan penyakitnya, pasien TB akhirnya terjebak dalam permasalahan ekonomi, ibaratnya "sudah jatuh tertimpa tangga", maka semakin rapatlah pasien TB menutupi penyakitnya dan upaya untuk menuntaskan penyakit TB akan sia-sia, bahkan bahayanya semakin menyebar akibat penularan. Upaya menghilangkannya tentu dengan menghapus pandangan negatif tersebut melalui peningkatan pengetahuan masyarakat melalui upaya pemberian informasi secara benar dan terpercaya.

Dengan latar belakang tersebut maka dibentuklah Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang merupakan konsep alternatif dalam mengatasi hambatan informasi di lingkungan masyarakat terutama masyarakat pedesaan. KIM adalah suatu lembaga layanan publik yang dibentuk dan dikelola dari, oleh, dan untuk masyarakat di bawah pembinaan Dinas Informasi dan Komunikasi yang secara khusus berorientasi pada layanan informasi dan pemberdayaan masyarakat sesuai kebutuhannya, terutama dalam bidang kesehatan.

Kelompok Informasi Masyarakat untuk penyakit TB
Gambar dari sini
Konsep inilah yang akan membuka akses ke sumber informasi yang terpercaya dan memiliki jangkauan luas untuk mengatasi beberapa problem kesehatan, terutama dalam pengendalian penyebaran bahaya penyakit menular seperti Tuberkulosis (TB). TB menjadi problem serius dan merupakan permasalahan yang sangat kompleks karena sifatnya yang sangat menular bahkan sangat cepat, dan kemudahannya untuk berkolaborasi dengan penyakit mematikan lainnya seperti HIV/AIDS.

KELOMPOK INFORMASI MASYARAKAT (KIM) SEBAGAI PENDUKUNG PENUNTASAN TB DARI STIGMA DAN DISKRIMINASI DALAM MASYARAKAT

KIM merupakan satu wadah yang pembentukannya dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Sebagai suatu wadah yang bersifat "bottom up" KIM dapat berperan sebagai partner kerja pemerintah dalam upaya penyebarluasan informasi, termasuk informasi tentang kesehatan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Selain itu, KIM juga merupakan pintu masuk untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun kepedulian masyarakat terhadap bahaya penyakit TB.

Kelompok Informasi Masyarakat
Gambar dari sini
Peran KIM sebagai garda terdepan dalam upaya penyebarluasan informasi diharapkan akan meraih hal-hal berikut :
  1. Penyebarluasan informasi yang lebih cepat dan tepat, karena KIM berdiri atas inisiatif masyarakat sendiri.
  2. Menjadi pintu pelayanan buat masyarakat karena kapabilitas mengakses berbagai sumber informasi.
  3. Mengelola informasi mulai dari menyerap, mengumpulkan mengolah, menyimpan, dan mendiseminasikan informasi kepada pihak yang berkompeten.
  4. Mengembangkan kualitas SDM masyarakat di bidang informasi.
  5. Menjembatani informasi antara masyarakat dan pemerintah dalam penyebaran informasi dan penyerapan aspirasi.
Berbagai peran itu merupakan hal yang wajar di raih bila KIM sebagai lembaga masyarakat dapat memposisikan diri di kancah pembangunan informasi. Untuk memerangi stigma dan diskriminasi terhadap penyakit TB, masyarakat harus diberikan informasi secara terus menerus, dan sudah saatnya penyebaran informasi tersebut dilembagakan sehingga maksud, tujuan, dan sasaran informasi akan cepat tercapai bahkan jika memungkinkan hingga ke daerah-daerah terpencil. Selain itu, dengan melembagakan penyebaran informasi maka resiko untuk menyebarkan informasi yang salah dapat diminimalisir karena hanya ada satu sumber yang terpercaya, bisa dalam hal ini adalah Departemen Kesehatan sebagai pihak yang terkait dan paling berkepentingan dengan penuntasan penyakit TB.

Yah...masyarakat memang perlu diberdayakan baik dalam pengendalian tingkat penyebaran penyakit TB, maupun menghapus stigma yang berakibat pada perlakuan diskriminatif melalui penyebaran informasi dalam bentuk Diseminasi Informasi, salah satunya dengan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM).

Berangkat dari ketidaktahuan mengenai (5W+1H) TB, di tambah lagi dengan informasi yang tidak benar menimbulkan rasa takut kepada TB. Munculnya rasa takut inilah yang menimbulkan stigma dan stigma menghasilkan tindakan diskriminatif. Seperti yang telah disinggung di atas, karena ada stigma dan perlakuan yang diskriminatif maka orang akan enggan untuk bicara tentang TB, enggan mengetahui seberapa parah penyakit TB-nya,  enggan pergi ke fasilitas kesehatan meskipun mereka tahu bahwa obat TB gratis. Dampak lanjutannya adalah semakin naiknya angka kematian, ketakutan yang semakin menjadi, dan stigmatisasi semakin merajalela. Terjadilah apa yang disebut lingkaran setan yang berputar terus tidak ada habisnya.

Stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB
Gambar dari sini
Dalam situasi inilah diperlukan suatu sistem informasi yang langsung menuju ke sasaran yaitu masyarakat melalui Kelompok Informasi Masyarakat. Kelompok ini selain membangun suatu sistem informasi komprehensif untuk masyarakat, juga berupaya untuk menghilangkan ketidaktahuan masyarakat dan membangun kepedulian masyarakat tentang penyakit TB melalui pemberdayaan KIM. Bentuk kegiatan pemberdayaan yang dapat dilakukan diantaranya :
  1. Menerbitkan dan mendistribusikan berbagai referensi,
  2. Pelatihan dan pendidikan sumber daya manusia,
  3. Mengikutsertakan KIM dalam kegiatan pemerintah,
  4. Mengembangkan jaringan antar KIM,
  5. Membuka jaringan KIM ke institusi terkait,
  6. Mendistribusikan bahan informasi untuk KIM,
  7. Pengenalan dan peningkatan pemahaman dan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB merupakan tantangan terbesar bagi upaya pengendalian dan pengentasan penyakit TB, karena itu diperlukan partisipasi semua pihak untuk mengatasinya terutama masyarakat itu sendiri. KIM merupakan satu bentuk upaya untuk memberikan pendidikan kesehatan yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola oleh masyarakat itu sendiri, tentunya dengan dukungan sepenuhnya dari pemerintah.

Namun, satu hal yang penting setiap daerah di Indonesia memiliki ciri dan karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lain, disinilah peran KIM diperlukan untuk memberi pencerahan pengetahuan baru tentang TB pada masyarakat karena KIM dibentuk oleh masyarakat yang berasal dari daerah itu sendiri dan orang-orang yang terlibat didalamnya adalah dari masyarakat itu sendiri sehingga dalam pelaksanaannya akan lebih diterima oleh masyarakat, terutama pasien TB, keluarga pasien, dan masyarakat disekitarnya.

Bila pengetahuan komprehensif masyarakat mengenai TB sudah tumbuh dengan baik, maka dengan sendirinya akan timbul hal-hal positif, antara lain :
  • Masyarakat dapat melaksanakan sendiri perilaku hidup yang lebih sehat dan tidak beresiko terhadap penularan penyakit TB. 
  • Karena sudah memiliki pengetahuan dari sumber yang benar dan terpercaya, secara berangsur stigmatisasi akan menurun dan otomatis perilaku yang mengarah pada tindakan diskriminatif juga akan menurun. Berkurangnya perbedaan perlakuan, penolakan, dan pembatasan akan meningkatkan kualitas hidup pasien TB baik secara jasmani, rohani, maupun sosial.
  • Tanpa ragu, seseorang yang merasa sakit dan menunjukan ciri-ciri kearah penyakit TB akan segera mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diperiksa dan mendapatkan pengobatan sedini mungkin.
  • Pengobatan gratis dan akses yang mudah serta berkesinambungan, dukungan semua pihak (terutama keluarga dan masyarakat) akan meningkatkan kualitas dan harapan hidup pasien TB hingga ke titik di mana pasien TB sembuh dengan tuntas dan tanpa kambuh, dengan sendirinya akan membebaskan pasien TB dari stigma dan diskriminasi hingga tuntas tanpa ada keraguan.
Memang diperlukan contoh nyata keberhasilan pasien TB sembuh total tanpa kambuh dari penyakitnya untuk membebaskan pasien TB dari segala macam stigma dan perlakukan diskriminatif. Melalui Kelompok Informasi Masyarakat setidaknya ada beberapa hal yang sekaligus bisa dilakukan, yaitu memberikan pengetahuan dan membuka cakrawala pemikiran baru bagi masyarakat, keluarga, dan pasien TB itu sendiri tentang penyakit TB  melalui berbagai kegiatan yang dilakukan dari dan untuk masyarakat itu sendiri.

Mari secara bersama kita bebaskan pasien TB dari segala macam stigma dan diskriminasi dengan informasi yang benar dan terpercaya karena pasien TB adalah bagian dari kita sendiri.

Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Blog #Sembuhkan TB, Temukan dan Sembuhkan Pasien TB" yang diselenggarakan Kemenkes bekerjasama dengan KNCV.

Sumber referensi tulisan :
  1. http://v6.baritokualakab.go.id/index.php/pemerintahan/dinas-daerah/dinas-kesehatan/136-kabar-skpd/dinas-perhubungan-komunikasi-informatika
  2. http://aidstuberculosismalaria.blogspot.com
  3. http://www.tbindonesia.or.id

2 komentar:

  1. woaaaaaaaaa........... tulisannya keren... bacanya sampai ngos-ngosan ... angkat jempol banyak-banyak karena dirimu bisa bertahan sampai sekarang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waakakak....makasih mbak, berkat dirimu daku bertahan...#hatsyyyi

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...