Rabu, 02 April 2014

HATI-HATI DENGAN RASA MARAHMU, BUNDA

Marah pada anak
sumber
"Mama itu kerjanya tiap hari ngomel melulu" itu kata-kata yang sering aku keluhkan waktu kecil, tapi setelah sekarang menjadi ibu, aku baru merasakan inilah alasan mengapa dulu mama sering ngomel-ngomel. Rasanya tiada hari tanpa mengomel, jika absen pagi hari masih ada siang hari, sore hari atau menjelang magrib...hahaha itu waktu yang signifikan untuk mengomel karena sore hari menjelang magrib anak-anak pasti berebut mandi, kalo sudah mandi ada yang minta makan atau ada yang minta susu dan yang paling menyebalkan jam magrib adalah jam kartun di televisi...hadeuhhh apa ngak ngerti ya kalau jam segitu harusnya anak-anak usia sekolah belajar. Kalaupun belajar pikirannya masih tergiang cerita kartun tadi.

Tapi rasa kesal, marah, dan sejuta perasaan bad mood lainnya mendadak hilang tanpa jejak manakala anak-anak jatuh sakit. Bulan kemaren aku habiskan dengan merawat 3 anak yang sakitnya giliran alias borongan. Berawal dari suhu tubuh yang meningkat alias demam di lanjut batpil terus mencret. Ada ya sakit kok di rapel, tapi yah mau bagaimana lagi. Yang sulung di usia yang menjelang abege kalau sakit tetep aja kolokan, ngak mau kalah saingan dengan adiknya. Kalau yang tengah karena memang sehari-harinya aktif, sakit pun tetap kepingin main di luar rumah. Kalau melihat teman-temannya lalu lalang, dia gelisah alias merasa rugi melewatkan waktu di dalam rumah walaupun sakit sekalipun.

Tapi bukan itu yang menjadi permasalahan, Beril putra sulungku kalau demam punya kebiasaan mengigau berat, lumayan sering sehingga aku selalu siaga jika anak-anak deman aku selalu punya stok obat demam. Namun untuk kali ini aku benar-benar merasa sedikit syok karena ketika beril demam tinggi, dia mengigau berlari-lari keliling rumah sambil berteriak-teriak dan menunjuk-nunjuk tidak jelas,  aku dan ayahnya kaget serta sedikit ketakutan karena tidak biasanya seperti itu, biasanya dia cuma mengoceh di tempat tidur atau sambil duduk di tempat tidur. Malam itu, aku dan ayahnya bergantian mengompres dahi, ketiak, dan lehernya, pokoknya di semua titik-titik yang penting untuk menurunkan demam. Dan tidak seperti biasanya dia tertidur sambil minta kupeluk, aneh...karena kalau sehat dia sudah tidak mau lagi dipeluk atau di cium malu katanya, yah...aku paham anakku sudah besar alias menjelang remaja, bahkan di antar sekolah pun sudah tidak mau...kayak anak kecil katanya (kebetulan sekolahnya agak dekat dengan kompleks perumahanku).

Setelah demamnya agak mereda besok harinya, dia sudah bisa ku tanyai apa yang ada dalam pikirannya semalam ketika demam, dia kaget waktu aku bilang lari-lari keliling rumah karena dia tidak merasa tapi dia bilang mimpi waktu di TK, aku ingat ketika pertama kali masuk TK dia ketakutan ngak mau masuk kelas tapi setelah agak sedikit di paksa akhirnya dia mau masuk kelas dengan catatan dia masih bisa melihatku dari kaca kelasnya. Aku baru sadar kejadian itu ternyata menimbulkan trauma dalam hatinya dan masih membekas sampai sekarang. Dan selalu terulang manakala aku kalau sedang marah besar dan kesal luar biasa selalu mengancam "mama tinggalin ajalah pulang kampung kalo ngak mau pada nurut". Kalau sudah begitu aktivitas anak-anak yang bikin jengkel berhenti total, akhirnya aku merasa keenakkan dengan jurus pamungkas itu. Ternyata tanpa aku sadari, kelakuanku itu selalu membangkitnya rasa traumanya akan kejadian itu, karena ketakutan aku tinggalkan dan selalu berulang. Yah...ternyata anakku punya pengalaman traumatik yang baru aku sadari sekarang, pantas saja waktu demam dia minta ku peluk sepanjang malam.

Itu baru yang sulung, kalau untuk anak keduaku, untuk kejadian yang berbeda tapi motifnya sama. Aku selalu kesal padanya karena setiap hari harus beli pensil baru. Setiap hari kalau tidak hilang, pensilnya habis di runcing sampe kecil, bikin gondok luar biasa. Itu baru pensil, belum penghapus, dan buku. Anak keduaku hobi mengambar-gambar buku atau mencoret-coret, sepertinya dia ngak siap kalau melihat buku mulus, bersih dari coretan, padahal sudah kelas 1 SD. Karena itu aku sering mengomelinnya. Hasilnya, sama seperti kakaknya ketika deman tinggi kemarin, dia mengigau menangis, aku tanya kenapa menangis dia meracau ngak jelas sambil bilang "jangan di runcing...jangan di runcing nanti mamaku marah, pensilnya udah kecil". yah...dia memang sering bilang kadang-kadang pensilnya di runcing teman-temannya, karena aku sedang marah bin kesal pembelaan dirinya ngak aku anggap.

Dua kejadian terakhir ini membuat aku mulai merenung, sudah benarkah sikapku sebagai seorang ibu, apa aku sedemikian teganya membuat anakku trauma dengan perlakuanku. Yah...perasaan marah memang sangat sulit untuk ku kendalikan, aku jadi ingat kata-kata Almarhumah ibuku jika anak sudah mulai besar jangan terlalu sering di marahi, sebisa mungkin di nasehati. Ada benarnya, karena marah-marah selain membuatku sakit kepala juga tidak menimbulkan efek jera untuk waktu yang lama. Paling-paling anak-anak nurut sebentar, terus besoknya...besoknya lagi lupa.

Tapi bukan berarti kita tidak boleh memarahi anak, namun aku mulai belajar untuk mengelola rasa marah menjadi satu hal yang positif. Berusaha menyampaikan sesuatu dengan benar tanpa harus marah-marah ngak jelas. Cukup sulit karena tiap anak mempunyai watak yang berbeda dan tentu saja berbeda juga cara menegurnya. Dari sakitnya anak-anak kemaren, aku bersyukur mendapat peringatan sedini mungkin sehingga membuatku mulai mengoreksi perilakuku jika sedang marah pada anak-anak. Jangan sampai aku, ibunya sendiri sebagai orang yang menanamkan rasa trauma pada mereka, karena mereka akan membawa rasa trauma itu seumur hidup mereka.

Semoga bermanfaat...

Tangerang, 2 April 2014 menjelang subuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...