Selasa, 11 Juni 2013

MEMBANGUN JATI DIRI DENGAN KEKUATAN EMOSI

"Dengan adanya emosi, kita dapat memberi makna, warna, dan tekstur dalam kehidupan ini. Menghadirkan perasaan gembira, sedih, marah, benci, dan kepuasan akan sesuatu. Emosi adalah energi yang dihasilkan dari perpaduan pikiran dan perasaan. Informasi diterima otak berupa kata-kata. kata-kata tersebut diberi makna dan rasa oleh pikiran. Makna dan rasa itulah yang disebut emosi," demikian Ermalen Dewita menguraikan secara panjang lebar bahwa emosi adalah bagian dari kekayaan diri yang tidak boleh diabaikan.

Siapa yang tidak kenal sosok perempuan satu ini yang dikenal sebagai motivator pemberdayaan diri dan telah banyak memberikan motivasi di beberapa tempat di Indonesia. Sosok yang menjadi salah satu klien di Indscript Creative melalui Personal Branding Agency ini telah memberikan warna tersendiri dalam percaturan dunia motivasi di Indonesia. Kumpulan pemikirannya telah dituangkan menjadi sebuah buku yaitu Magnet Cinta yang banyak memberikan pencerahan tentang seni menghadapi permasalahan dalam kehidupan.

membangun jati diri dengan kekuatan emosi
Credit
Dalam kaitannya dengan membangun jati diri dengan kekuatan emosi, Beliau menguraikan secara mendetail bahwa :
  • Seperti halnya pikiran manusia memiliki kemampuan untuk menghasilkan gelombang energi yang luar biasa, maka emosi pun sangat kuat pengaruhnya. Bahkan dalam banyak hal, pengaruhnya bisa melebihi energi universal. Semua yang kita tarik ke dalam realitas fisik, tercipta berdasarkan pikiran dan kekuatan emosi tersebut.
  • Emosi juga berfungsi sebagai perekat yang menghubungkan Anda dengan orang lain dan memberi arti bagi kehidupan. karena itulah, emosi menjadi dasar untuk membangun dan mengembangkan jati diri, juga sebagai dasar untuk memahami diri maupun orang lain di sekitar kita.
  • Jati diri adalah karakteristik seseorang yang membuatnya berbeda dari yang lain. Untuk bisa memiliki jati diri yang kuat, kita perlu memahami diri sendiri secara menyeluruh. Baik tentang ciri-ciri diri, pola pikir, kekuatan, dan kelemahan. Kita juga perlu memahami kekuatan emosi dalam berbagai kondisi.
Pembentukan jati diri adalah fokus utama psikososial selama masa remaja. Remaja mulai menunjukkan tanda-tanda pencarian jati diri mereka dengan mencoba versi yang berbeda dari yang mereka miliki sebelumnya. 

Masa remaja adalah masa paling rawan dalam proses pencarian jati diri, karena pada masa-masa ini pengaruh dari lingkungan terutama pertemanan memegang peranan cukup penting dalam proses pencarian jati diri, dukungan keluarga terutama orangtua sangat penting dalam memasuki fase kritis ini. 

Masalah kenakalan anak dan remaja yang mulai menjurus kearah melanggar hukum merupakan realitas yang nyaris setiap hari menjadi headline di berbagai media pemberitaan, seolah melakukan hal yang melanggar hukum bukanlah sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Akan tetapi peta kenakalan anak dan remaja ini tetap menunjukkan bahwa perilaku tersebut cenderung dilakukan secara berkelompok, dengan kata lain komunitas lah yang sesungguhnya sebagai sumber dari pengembangan jati diri ke arah perilaku yang mereka anggap benar.

Karena itu penting bagi semua pihak, terutama orangtua dan guru untuk memiliki kedekatan emosional dan hubungan yang stabil dengan remaja dalam fase ini. Tanpa adanya dukungan dan kedekatan tersebut, remaja akan mudah terpengaruh terutama oleh sesuatu yang baru dan sangat menarik untuk mereka.

Ketika seseorang sudah mampu melewati fase pembentukkan jati diri di masa remaja, maka ia akan siap menjalani fase kehidupan berikutnya. Di mana ia akan dihadapkan pada tantangan baru, yang memerlukan penguatan dan pengayaan jati diri selanjutnya.

Dewi sekali lagi menekankan bahwa, "jika kita mampu mengendalikan emosi, kita dapat berpikir jernih dan kreatif. Kita akan mampu mengelola beragam situasi dan tantangan, berkomunikasi dengan baik pada orang lain, memperlihatkan kepercayaan, empati, dan penuh percaya diri." Ternyata agar dapat sukses dalam menjalani fase tersebut, diperlukan pengolahan kekuatan emosi, emosi perlu dikenali, dilatih, dan dikendalikan agar mendukung proses perkembangan kesadaran diri. Sebaliknya emosi yang tidak terkendali, akan memunculkan rasa bingung, terisolasi, tidak berdaya, dan aneka kondisi negatif yang merugikan.

Motivator dan penulis buku "Magnet Cinta" ini menyarankan agar setiap orang menaruh perhatian pada aspek pengembangan emosi, dan melatih mengontrol reaksinya ketika menghadapi situasi yang berbeda-beda. Dengan melakukan pengontrolan atas reaksi, maka kita dapat menikmati hidup lebih baik, serta memiliki kualitas hubungan dengan orang lain lebih memuaskan. Masih adalah yang lebih baik dari hidup seperti ini ? Rasanya tidak.

1 komentar:

  1. OOh, ikutan review artikel lagi yaa... sukses deh, artikelnya :)

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...