Minggu, 12 Mei 2013

AROMA KENANGAN DALAM SEMANGKUK CUKA

Keputusan untuk ikut serta dalam Giveaway yang diadakan oleh Kakaakin karena tema yang diusung adalah cerita di balik aroma. Aroma...hmm, kata itu amat sangat melekat dalam ingatan saya karena saya dibesarkan oleh aroma itu dan dengan sendirinya tersimpan beribu-ribu bahkan ratusan ribu kenangan. Kenangan yang sangat mengharu biru bila diingat.

pempek dan cuka pelembang
Gambar dari sini
Aroma itu adalah aroma cuka dari sepotong pempek palembang. Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan dalam tradisi kuliner khas palembang (karena orangtua perempuanku adalah asli palembang) aroma cuka sangat kental dalam ingatanku. Pempek lengkap dengan cuka yang mengepul hangat selalu tersaji sebagai pelengkap menu sarapan pagi. Hah! sarapan pagi kok pempek...tapi itulah tradisi dalam keluargaku, sarapan tidak lengkap bila tidak ada pempek dan yang terpenting cukanya.

Cuka asli pempek palembang sangatlah sedap dan mengeluarkan aroma yang sangat khas bila menggunakan gula aren (atau gula batok kata mamaku) yang asli, dipadu dengan asam jawa, bawang putih, dan udang kering (ebi), asli enak. Makan pempek memang tidaklah lengkap bila tidak menyeruput cukanya. Bahkan cuka tidak hanya disajikan untuk pelengkap menu pempek karena mamaku sering makan terong goreng di celup ke dalam semangkuk cuka, aneh...tapi kata mama enak tenan!

Kami sekeluarga, duduk bersama di meja makan baik sarapan atau sekadar makan kecil menikmati pempek dan aroma cuka panas yang dibuat mama, sambil mengobrol santai atau saling bertukar cerita tentang apa saja. Cerita lucu membuat kami tertawa atau mama menasehati bila kami menceritakan sesuatu yang kurang berkenan dihati. Dan cerita ini tetap berlanjut hingga aku berkeluarga dan ketika itu masih tinggal bersama mama, meskipun empat tahun terakhir ini aku telah pindah dan meninggalkan rumah kenanganku.

Tanpa aku sadari aroma dan rasa cuka buatan mama sangat melekat kuat dalam memoriku. Aku seringkali merasa kecewa bila membeli pempek tanpa aroma dan rasa yang menyerupai cuka buatan mamaku.  Dan tanpa aku sadari rasa kecewa itulah yang membuat aku sekarang jarang menyantap makanan favorit keluargaku, padahal makanan inilah yang mengantarkan masa kecil hingga masa dewasaku dan berkeluarga. Ketidakhadiran mama dalam mewarnai kehidupanku sekarang ini membuat aku bahkan sudah lupa aroma dan rasa cuka yang paling enak, ternyata sejuta kenangan itu ikut pergi bersama kepergian mama ke hadirat-Nya. Akhirnya aku menyadari bahwa bukan pada makanannya tapi pada kenangan yang tersimpan dalam sepiring dan semangkuk makanan yang membawa jejak kenanganku bersama Almarhumah mama. Hanya sekelumit kisah kecil tentang kenanganku bersama aroma cuka ini saja yang bisa kubagi, karena detailnya biarlah menjadi kenangan untukku sendiri.

3 komentar:

  1. Setahu saya cuka tuh baunya menyengat dan khas sekali, rasanya kecut, benar kan Bun, hehehe. Tapi jujur nih, Bun, saya belum sekali merasakan makanan pempek, heheh

    Terima kasih, Bun, sudah tercacat sebagai peserta :)

    BalasHapus
  2. Tengkyu udah mampir. cuka...disini konotasi cuka itu mengarah ke kuah yang mengiringi makanan yang disebut pempek, bukan cuka biasa...hihihi. mau coba...enak lho!

    BalasHapus
  3. Aiiih.. saya suka banget makan pempek. saya (cukup) sering membuatnya sendiri. Nyontek resep dari internet. Dan cukanya tak pernah saya tambahkan ebi. Sebenarnya sih karena malas nyari ebinya. Hehe...

    Terima kasih sudah ikutan pada GA cerita di Balik Aroma :)

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dari teman-teman, dan saya usahakan untuk berkunjung balik secepatnya. Mohon maaf karena kolom komentar saya moderasi untuk menghindari link-link hidup yang tersemat di kolom komentar akhir-akhir ini. Terima kasih banyak atas pengertiannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...